Bab 32

1242 Kata
Satu bulan setelah penyelidikan dibuka, berkasnya ditutup. Jaksa menyatakan bahwa Galih Sukmawan tidak terbukti terlibat dalam manipulasi dana ekspansi, dan semua dokumen yang mendukung kesimpulan itu dipublikasikan ke media. Pihak perusahaan juga merilis pernyataan resmi: “Kami berdiri bersama pimpinan kami, dan percaya pada integritasnya.” Kantor pusat My Jewelry kembali pulih. Sorot mata yang dulu curiga berubah menjadi hormat. Galih kembali ke meja CEO-nya tanpa drama, tanpa pengumuman besar. Ia hanya tersenyum tipis kepada Yogi dan berkata, “Boleh bikin aku kopi yang paling pahit hari ini?” Dan sore itu, untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, langit Jakarta tampak seperti menyimpan kedamaian yang tak terganggu awan gelap. Setelah makan malam perayaan yang hangat dan malam penuh keintiman itu, hidup terasa lebih ringan. Tapi hidup jarang memberi jeda panjang—selalu saja ada satu pintu terbuka yang menguak babak baru. Dan kali ini, pintu itu berasal dari keluarga Sheila sendiri. Pagi itu, saat Sheila sedang menyusun konsep desain untuk koleksi “Second Beginning”—koleksi perhiasan baru bertema pemulihan dan cinta dewasa—ia menerima panggilan tak terduga. Nomor rumah. Rumah masa kecilnya. Dengan ragu, ia mengangkat. “Sheila,” suara itu lirih namun dingin. Sheila menggenggam ponsel lebih erat. “Ibu?” “Saya dengar dari media. Kamu bersih. Tapi kamu tetap bikin malu keluarga ini dengan drama yang tak perlu.” Sheila diam. Rasanya seperti didorong mundur ke masa remaja—saat ia harus menelan komentar-komentar ibunya dengan senyum palsu. “Ibu telepon cuma untuk bilang itu?” tanyanya tenang. “Ada hal lain,” jawab ibunya. “Adik tirimu, Dara, akan menikah. Kami ingin kamu hadir, dan jangan jadi pusat perhatian.” Sheila terdiam lama. "Kenapa aku harus datang ke pernikahan yang tak pernah menganggapku bagian?" “Karena kamu tetap pakai nama keluarga ini. Meski kamu sudah mengotori reputasinya.” Sheila menutup mata. Napasnya memburu. Dan saat ia membuka mulut, suaranya mantap. “Baik, Bu. Aku akan datang. Tapi kali ini, aku tidak akan tunduk.” Hari pernikahan Dara tiba seminggu kemudian. Sheila datang sendiri, mengenakan kebaya modern warna abu-abu kebiruan yang menonjolkan siluetnya dengan anggun. Ia tidak bermaksud mencuri perhatian. Tapi ia memang tak bisa disembunyikan. Galih tidak ikut—bukan karena tak ingin, tapi karena Sheila sendiri yang memintanya. “Aku perlu datang sebagai diriku sendiri,” katanya waktu itu. “Bukan sebagai istrimu. Bukan bagian dari duo ‘pasangan kontroversial’. Tapi Sheila. Anak yang dulu dibuang dari meja makan itu.” Galih hanya mencium keningnya. “Kalau kamu tak kuat di dalam, keluar saja. Aku tunggu di mobil.” Tapi Sheila kuat. Dan saat ia melangkah ke aula mewah tempat pesta berlangsung, semua mata menoleh. Ibunya hanya menyambut dengan anggukan kecil. Dara bahkan tak menatap. Namun, paman tertuanya—yang dulu pernah memberinya saran diam-diam—tersenyum dan meraih tangannya. “Kamu bertahan. Itu lebih dari cukup.” Sheila tersenyum. Tapi hatinya perih. Bukan karena tidak diterima—melainkan karena ia kini sadar, dirinya sudah tak butuh penerimaan itu. Malamnya, Sheila pulang lebih cepat dari resepsi. Gaun kebayanya masih dikenakan saat ia masuk apartemen. Galih sedang membaca di sofa, dan langsung berdiri saat melihatnya. “Kamu baik-baik saja?” Sheila menatap Galih, lalu mengangguk. Tapi matanya berkaca-kaca. “Kamu tahu apa yang lebih menyakitkan dari dibenci?” katanya pelan. “Tidak dianggap.” Galih mendekat, memeluknya dari belakang. “Tapi kamu tidak hidup untuk dianggap lagi, Sheil. Kamu hidup untuk menjadi utuh.” Sheila mengangguk pelan. “Dan kamu utuh,” bisik Galih. “Bahkan lebih kuat dari yang kamu pikir.” Malam itu, mereka tidak bicara banyak. Hanya duduk berdampingan di lantai ruang tengah, bersandar pada sofa. Galih menyandarkan kepalanya ke bahu Sheila, dan Sheila bermain dengan jari-jarinya. “Galih…” “Hm?” “Kalau suatu hari aku ingin buat yayasan untuk anak-anak perempuan yang seperti aku dulu… yang tak pernah merasa cukup... kamu mau bantu?” Galih mencium pelan bahunya. “Aku akan jadi relawan pertamamu.” Sheila tersenyum. Karena di balik badai keluarga yang terus datang silih berganti, di tengah luka-luka lama yang masih berdetak, ada satu hal yang tetap bertahan: Cinta yang tidak menuntutmu menjadi siapa pun, kecuali dirimu sendiri. Dan malam itu, cinta itu terasa seperti rumah yang akhirnya benar-benar dipilih. Sheila berdiri di depan cermin, mengenakan gaun merah anggur dengan punggung terbuka. Di kamarnya, Devi duduk di sisi tempat tidur sambil memandangi sahabatnya itu. “Udah lama nggak lihat kamu dandan total kayak gini,” goda Devi. Sheila menoleh, tersenyum. “Aku juga lupa gimana rasanya.” Malam itu, Galih mengajaknya makan malam di rooftop restoran favorit mereka. Tidak ada media. Tidak ada staf kantor. Hanya dua orang yang akhirnya bisa bernapas. Ketika lift terbuka di lantai atas, musik jazz menyambut mereka. Angin hangat meniup pelan helai rambut Sheila. Galih, yang mengenakan jas gelap dan kemeja putih dengan satu kancing terbuka, menatap istrinya seolah baru pertama kali melihatnya lagi. “Kamu cantik sekali malam ini,” ucapnya. Sheila tersenyum, menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Dan kamu... terlihat seperti pria yang akhirnya bisa istirahat sebentar.” Mereka duduk di meja yang sudah dipesan jauh sebelumnya. Meja itu menghadap langsung ke citylight Jakarta. Lampu-lampu kota seperti lautan bintang terbalik, dan malam itu seolah milik mereka. Galih memesan wine—bukan untuk mabuk, hanya untuk menciptakan kesan perayaan. “Malam ini bukan tentang kemenangan,” katanya pelan. “Tapi tentang siapa yang tetap bertahan di sisi kita saat kita terlihat kalah.” Sheila menggenggam tangannya. “Aku nggak pernah lihat kamu kalah, Galih. Bahkan waktu semua orang ingin menjatuhkanmu, kamu berdiri. Bukan untuk dirimu sendiri, tapi untuk semua yang kamu jaga.” Galih menatap mata Sheila, lama sekali. “Dan kamu yang buat aku ingin tetap berdiri.” Mereka makan dalam obrolan ringan, penuh tawa kecil, seperti pasangan biasa yang akhirnya punya waktu untuk mengenal satu sama lain lagi. Dan ketika makanan penutup datang, Galih menyelipkan sesuatu di antara serbet Sheila. Cincin. Sheila terkejut. “Galih…” “Bukan cincin baru. Tapi ini cincin pertamamu yang aku desain ulang. Supaya lebih ringan, tapi tetap utuh.” Sheila menyentuh wajahnya, mencoba menahan air mata. “Kita sudah melewati banyak hal, Sheil. Dan aku pikir... aku ingin mengingat semua itu. Tapi tanpa membawa beban yang lama.” Ia menggenggam tangan istrinya. “Jadi aku minta kamu pakai ini. Bukan sebagai pengingat bahwa kamu istriku. Tapi pengingat... bahwa kamu adalah rumahku.” Sheila tertawa pelan di sela tangisnya. “Kamu selalu tahu caranya bikin aku jatuh cinta lagi.” Malam belum usai saat mereka tiba kembali di apartemen. Lampu ruang tengah dibiarkan mati. Hanya lampu kuning kecil dari dapur yang menyinari jalan menuju kamar. Di tengah lorong, Galih berhenti. Ia menarik Sheila mendekat, dan memeluknya dari belakang. “Aku masih bisa jatuh cinta lagi sama kamu. Berkali-kali.” Sheila memutar tubuhnya, memandang Galih. Tangan mereka bertaut, dan dalam diam, Sheila menarik wajah suaminya, menciumnya dengan penuh perasaan. Tak ada tergesa. Tak ada penjelasan. Hanya napas yang berat dan tatapan yang berkata: aku bersyukur kita tetap di sini. Mereka masuk ke kamar, dan malam menjadi saksi bagaimana dua orang yang pernah retak... bisa kembali menyatu tanpa saling menyakiti. Karena cinta bukan tentang menang atau kalah. Cinta adalah tentang tetap tinggal, bahkan saat badai datang, dan berkata, “Kita bisa perbaiki ini.” Dan malam itu, di bawah langit Jakarta yang perlahan reda dari gemuruh, cinta mereka terasa seperti pertama kali—tapi lebih dalam, lebih nyata. Lebih dari itu malam ini milik mereka berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN