Bab 33

1050 Kata
Sudah hampir dua bulan sejak badai itu berlalu. Galih kembali menata perusahaan. Sheila, yang biasanya sibuk dengan strategi pemasaran dan branding di The Diamonds Palace, kini lebih sering bekerja di rumah. Tapi kali ini bukan karena trauma, bukan karena ingin menghindar. Ia sedang memulai sesuatu yang benar-benar miliknya. Sesuatu yang ia tahu—tak bisa dicuri siapa pun. “Apa kamu serius mau bikin yayasan?” tanya Galih, pagi itu, di tengah sarapan oatmeal dan buah potong. Sheila duduk bersilang kaki di kursi bar dapur, memegang iPad dan catatan digital. “Serius banget. Tapi bukan yayasan dalam bentuk besar yang langsung ribuan anak. Aku mulai dari komunitas. Fokusnya: anak perempuan usia 13 sampai 18 tahun, terutama yang dibesarkan dalam keluarga patriarki atau abuse verbal.” Galih menatap istrinya penuh rasa bangga. “Nama yayasannya udah ada?” Sheila tersenyum. “Namanya: Rumah Puan.” Galih mengangguk pelan, matanya sedikit berkaca. “Itu… indah, Sheil.” “Aku nggak mau anak perempuan lain harus tumbuh dengan suara batin yang terus berkata: ‘kamu nggak cukup’. Aku ingin mereka tahu bahwa jadi ‘lembut’ bukan berarti lemah. Jadi perempuan bukan berarti harus minta izin untuk hidup.” Galih berjalan ke arahnya, mengecup ubun-ubunnya. “Kamu bukan cuma istri yang hebat. Kamu penyembuh.” Proyek pertama Rumah Puan dimulai dari ruang tamu apartemen mereka. Setiap Sabtu sore, Sheila membuka forum online kecil untuk lima anak perempuan dari berbagai latar belakang yang ia kenal melalui kenalan Devi dan jaringan lama waktu kuliah. Di hari pertama, salah satu dari mereka—anak SMA bernama Kenia—mengaku takut pulang ke rumah karena selalu dibandingkan dengan kakak laki-lakinya yang “lebih pintar, lebih tenang, lebih berguna.” Sheila tak memotong. Ia hanya mendengarkan. Lalu berkata pelan: “Kadang kita dibesarkan dalam rumah yang tidak memberi ruang untuk kita tumbuh. Tapi kamu tetap tumbuh. Itu kekuatanmu. Bukan kelemahan.” Malam itu, setelah sesi online ditutup, Sheila duduk diam lama di ruang kerja. Galih masuk pelan-pelan, membawa segelas cokelat hangat. “Kamu capek?” tanyanya. Sheila menatap Galih, lalu mengangguk pelan. “Tapi rasanya... aku utuh.” Galih duduk di lantai, menyandarkan punggung ke meja. “Aku sering iri sama kamu.” Sheila kaget. “Iri?” “Iya. Kamu tahu tujuanmu. Kamu bukan cuma ngelarin kerja, bikin laporan, atau sekadar bertahan. Kamu menyembuhkan.” Sheila menggenggam tangannya. “Tapi kamu yang pertama menyembuhkan aku. Jadi kalau aku bisa bantu orang lain... itu karena kamu.” Galih tertawa pelan. “Kita jadi kayak tim super ya?” “Super rawan menangis,” timpal Sheila. Dan mereka tertawa. Lama sekali. Dua minggu kemudian, Sheila menerima undangan dari sekolah menengah atas tempat salah satu peserta Rumah Puan belajar. Kenia, gadis pendiam yang dulu penuh rasa malu, kini mengusulkan seminar tentang “Suara Perempuan dalam Keluarga” dan ingin Sheila jadi pembicaranya. “Kalau kamu bisa datang, Kak Sheila,” tulis Kenia, “mungkin ada satu teman yang berani bilang ke ibunya, ‘Aku nggak apa-apa jadi beda.’” Sheila membaca pesan itu sambil duduk di dapur, dan matanya basah. Saat Galih bangun dan melihatnya, ia langsung menghampiri. “Ada apa?” Sheila hanya menyodorkan ponselnya. Galih membaca. Dan hanya berkata: “Kita berangkat.” Hari seminar, Sheila mengenakan blus putih dan celana bahan abu terang. Bukan karena ingin tampil mewah, tapi karena ia ingin terlihat sebagai diri sendiri—bukan figur bisnis, bukan istri CEO. Tapi Sheila. Di aula sekolah, ratusan siswi duduk rapi. Beberapa guru perempuan menyambut dengan antusias, meskipun ada dua guru laki-laki yang terlihat ragu dan duduk di sudut dengan tangan bersedekap. Sheila berdiri di depan. Tangannya sedikit gemetar. “Namaku Sheila,” katanya, suaranya sedikit serak. “Dan aku dibesarkan dalam rumah yang... tidak pernah mengajarkan aku untuk merasa cukup.” Ruangan hening. “Aku diajarkan untuk tampil, diam, dan menyenangkan semua orang. Tapi aku tidak pernah diajarkan untuk berkata: ‘Ini aku. Dengan segala kekuranganku.’” Sheila menatap para siswi satu per satu. “Aku ingin kalian tahu... bahwa suara kalian bukan ego. Itu hak. Dan cinta bukan tentang seberapa patuh kalian pada harapan orang. Tapi seberapa tulus kalian menjadi diri sendiri.” Beberapa siswi menunduk, yang lain mencatat. Kenia menangis pelan. Setelah seminar itu selesai, lebih dari dua puluh siswi datang dan meminta kontak Rumah Puan. Beberapa dari mereka menggenggam tangan Sheila lama sekali, seolah ingin berkata terima kasih tanpa kata. Dan di parkiran sekolah, saat Sheila duduk di mobil menunggu Galih yang sedang menelepon, ia menangis diam-diam. Air mata lega. Air mata bangga. Galih masuk, melihat wajahnya. “Kamu baik-baik saja?” Sheila mengangguk. “Untuk pertama kali dalam hidupku... aku ngerasa berhasil.” Malam itu, sebagai ucapan terima kasih atas semua keberanian Sheila, Galih menyiapkan makan malam kejutan di balkon apartemen. Hanya ada meja kecil, dua kursi, lilin di tengah, dan makanan rumahan: sup ayam, nasi hangat, dan sambal terasi yang ia pelajari dari YouTube semalaman. Sheila tertawa saat melihat sambalnya. “Ini pedas banget?” Galih mengangguk bangga. “Aku bahkan nggak nyicip. Supaya efeknya kejutan total.” Sheila mencicip. “Lidahku bisa mati rasa—tapi hatiku terasa hidup.” Mereka makan pelan-pelan. Angin malam meniup rambut Sheila. Dan saat selesai makan, Galih berdiri, lalu berlutut. Sheila terperanjat. “Galih?” “Ini bukan lamaran kedua,” katanya sambil mengeluarkan kalung tipis berbentuk lingkaran kecil. “Tapi ini pengingat. Bahwa kamu bukan cuma seseorang yang aku nikahi. Kamu wanita yang aku banggakan di depan dunia.” Sheila menutup mulutnya. Air matanya kembali tumpah. Ia menunduk, memeluk Galih erat. “Terima kasih... karena mencintai aku, bahkan ketika aku belum bisa mencintai diriku sendiri.” Galih membalas pelukannya. “Karena mencintaimu... membuatku juga jadi lebih utuh.” Dan malam itu, tanpa tamu, tanpa undangan, tanpa glamor... mereka menggelar perayaan paling jujur dalam hidup. Perayaan tentang perjalanan. Tentang luka yang jadi pintu. Dan tentang rumah—yang tidak lagi berupa bangunan megah, tapi dua orang yang saling menjaga satu sama lain, apa pun yang datang. Tidak ada musik meriah, hanya tawa kecil yang terdengar di dapur saat mereka memasak bersama. Tidak ada kue besar, hanya teh hangat dan mie goreng sederhana di meja makan. Tapi di sanalah cinta berdiam dengan tenang—di antara piring bekas cuci dan lampu kuning redup. Dan malam itu, mereka memilih satu sama lain. Sekali lagi. Tanpa ragu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN