Bab 34

958 Kata
Angin sore mengalir pelan ke dalam balkon apartemen mereka. Jakarta di kejauhan bersinar seperti hamparan perhiasan tak berujung, dan langit mulai kehilangan cahaya oranye terakhirnya. Galih duduk di sofa balkon, mengenakan hoodie tipis dan celana pendek, sementara Sheila menyusun dua mug teh chamomile di atas nampan. Aromanya lembut, menenangkan, seolah mengerti bahwa hari ini terlalu panjang untuk ditutup tanpa kehangatan. Sheila melangkah perlahan, mengenakan kaus longgar dan celana tidur, rambutnya digulung asal. Tidak glamor. Tidak dibuat-buat. Hanya versi dirinya yang paling nyata. Dan ketika ia duduk di samping Galih, dunia terasa cukup. Tidak lebih. Tidak kurang. Mereka tidak bicara banyak hari itu. Sudah hampir seminggu sejak seminar terakhir Sheila, dan ia sedang banyak berpikir. Tentang Rumah Puan, tentang dirinya sendiri, dan... tentang sesuatu yang mulai dibicarakan orang-orang di sekitarnya. “Kita satu-satunya yang belum punya anak,” kata Galih pelan, seolah membaca pikirannya. Sheila berhenti menyesap teh, lalu menatap Galih. Tidak marah. Tidak kaget. Tapi juga tidak tersenyum. “Ya,” jawabnya singkat. Galih menoleh. “Aku nggak bermaksud menyindir. Aku cuma... berpikir.” Sheila menghela napas. “Aku tahu.” “Semua orang nanya terus ke kamu?” tanya Galih, menatap langit. Sheila mengangguk. “Iya. Dari tetangga, sampai tante yang dulu suka bandingin aku sama anaknya.” “Dan kamu jawab apa?” “Biasanya aku bilang, ‘Masih menikmati berdua dulu.’” Sheila menatap mugnya. “Padahal... bukan itu alasan utamanya.” Galih tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunggu. Sheila tahu itu caranya memberi ruang. “Aku takut,” kata Sheila akhirnya. Suaranya kecil, tapi jelas. “Aku takut... aku akan mewarisi sesuatu yang tidak kusadari dari ibuku. Aku takut aku akan menjadi ibu yang tidak lembut. Atau terlalu keras. Atau membuat anakku merasa tidak cukup.” Galih berpaling, menatapnya. “Kamu bukan ibumu.” “Bagaimana kalau aku tidak tahu perbedaannya sampai semuanya terlambat?” Galih menggenggam tangan Sheila. “Sheil. Kamu sudah menyembuhkan banyak anak perempuan hanya dengan kata-kata dan keberanianmu. Kamu punya empati yang tidak bisa dipalsukan. Kamu takut... bukan karena kamu nggak bisa jadi ibu yang baik. Tapi karena kamu terlalu peduli untuk jadi asal-asalan.” Sheila menunduk, matanya mulai memerah. “Tapi anak bukan proyek sosial. Dia bukan sekadar ‘yang dibantu’. Dia akan melihatku... setiap hari. Belajar dariku. Apa yang terjadi kalau aku gagal?” Galih menarik Sheila ke pelukannya. Membiarkannya bersandar di dadanya. “Kita akan gagal, Sheil. Tapi kita juga akan bangkit. Kita akan belajar. Sama-sama. Nggak ada orang tua yang sempurna. Tapi kamu... kamu akan jadi ibu yang berani minta maaf kalau salah. Dan itu jauh lebih penting.” Sheila menggenggam kaus Galih. Diam lama sekali. Lalu berkata, “Aku ingin siap. Tapi aku belum tahu kapan siap itu datang.” Galih mencium keningnya. “Kalau kamu butuh waktu lima tahun lagi pun, aku akan tetap di sini. Nggak ada target. Nggak ada batasan.” “Kalau kita ternyata nggak punya anak pun?” “Kalau kita punya kamu, itu cukup,” bisik Galih. Beberapa hari kemudian, Sheila mengunjungi Devi di studio barunya. Mereka sedang menata sudut kecil tempat anak-anak Rumah Puan bisa datang langsung untuk sesi offline. Dindingnya dicat pastel, dengan rak buku motivasi dan bantal-bantal besar untuk duduk lesehan. “Gue dengar dari Galih ya, kamu... agak berat mikir soal anak?” tanya Devi pelan. Sheila tersenyum tipis. “Agak berat itu versi manis dari panik.” Devi tertawa. “Nggak semua orang siap. Dan menurut gue, justru yang banyak mikir gini biasanya malah lebih matang.” Sheila duduk di lantai, menyandarkan diri ke dinding. “Aku cuma ngerasa... dunia terlalu bising. Orang-orang pengen kita lahiran, lalu pengen lihat gaya pengasuhan kita, lalu bandingin lagi sama anak mereka.” Devi duduk di sebelahnya. “Sheil. Kamu nggak hidup buat nyenengin dunia. Kamu hidup buat nyenengin jiwamu sendiri. Dan kalau suatu saat jiwamu bilang, ‘aku siap untuk jadi rumah buat jiwa lain’—kamu akan tahu.” Sheila menatap sahabatnya. “Mungkin... aku takut kehilangan kendali atas tubuhku sendiri. Dan hidupku. Karena selama ini, aku baru ngerasa pegang kemudi setelah sekian lama.” “Dan kamu boleh takut,” kata Devi sambil tersenyum. “Tapi kamu nggak sendiri.” Di rumah malam itu, Sheila membuat kejutan kecil. Ia mencetak foto mereka berdua di stasiun kereta kecil di Jepang—perjalanan pertama mereka setelah menikah. Lalu membingkainya dan menaruh di meja makan. Galih melihatnya dan tersenyum. “Kenapa tiba-tiba ini?” Sheila duduk, memandangi foto itu. “Aku cuma pengen kita ingat: kita baik-baik saja. Bahkan sebelum semua ini. Dan kita akan tetap baik-baik saja, bahkan kalau kita nggak jadi punya anak tahun ini. Atau tahun depan. Atau... kalau ternyata tidak sama sekali.” Galih menarik kursinya, duduk di sebelah Sheila, lalu mencium puncak kepalanya. “Setuju.” “Dan kalau suatu hari aku bilang aku siap... kita mulai pelan-pelan. Aku yang minta. Bukan karena diminta.” Galih mengangguk. “Deal.” Sheila memejamkan mata, lalu berkata, “Aku nggak janji akan jadi ibu. Tapi aku janji akan terus belajar menjadi versi terbaik dari diriku.” Galih memeluknya erat. “Dan aku akan terus memilihmu. Dengan atau tanpa peran baru.” Tiga hari kemudian, Sheila menyimpan sesuatu di dalam lemari kecil mereka. Bukan test pack. Bukan jadwal dokter. Hanya satu buku catatan baru bertuliskan: Jika suatu hari aku menjadi Ibu. Dan di halaman pertama ia menulis: Aku tidak tahu kapan aku siap. Tapi aku ingin belajar. Mencintai bukan karena sempurna, tapi karena aku tahu rasanya bertumbuh dengan luka. Dan karena aku ingin menjadi alasan luka itu berhenti diwariskan. Ia menutup buku itu dengan napas yang pelan. Di luar, hujan mulai turun. Dan di dalam hati Sheila, sebuah benih kecil mulai tumbuh—bukan janin, bukan rencana. Tapi harapan. Yang sederhana. Yang belum pasti. Tapi nyata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN