Bab 35

1011 Kata
Sudah lebih dari dua minggu sejak Sheila menuliskan kalimat pertama di buku kecil itu. Buku bersampul linen abu-abu muda yang tampak biasa, namun di dalamnya—Sheila sedang merekam sebuah proses penting dalam hidupnya: berdamai dengan kemungkinan menjadi seorang ibu. Di setiap halaman, ia menuliskan keraguan dan keberanian, ketakutan dan harapan. Ia menulis tentang bayangan masa kecilnya, tentang betapa asingnya kata “ibu” di mulutnya sendiri, dan tentang perubahan kecil dalam tubuhnya yang perlahan ia pelajari untuk dicintai. Kadang hanya satu kalimat per hari, kadang satu paragraf penuh air mata. Tapi setiap kata, adalah langkah kecil menuju penerimaan. Setiap pagi, sebelum membuka email kerja atau menulis brief untuk koleksi baru, Sheila duduk di meja kecil dekat jendela, dengan secangkir teh yang perlahan mendingin, dan buku itu di depannya. Ia tidak menulis setiap hari. Kadang hanya satu kalimat, kadang satu halaman. Tapi setiap kali pena menyentuh kertas, rasanya seperti sedang menanam bibit: kecil, belum terlihat, tapi punya harapan untuk tumbuh. Di halaman ketiga, ia menulis: “Jika kamu datang suatu hari, aku ingin kamu tahu: aku takut waktu menuliskan ini. Tapi aku menuliskannya juga. Karena mencintaimu, bahkan saat kamu belum ada, adalah keberanian yang paling besar yang pernah kumiliki.” Galih mulai memperhatikan perubahan kecil dalam rutinitas Sheila. Istrinya yang dulu menghindari pembicaraan tentang anak, kini lebih banyak diam ketika topik itu muncul, bukan melompat untuk mengganti topik. Ia juga mulai membaca ulang buku-buku lama yang pernah dibelinya—tentang pola asuh, psikologi anak, hingga buku fiksi remaja yang penuh perasaan. Namun Galih tidak bertanya. Ia tahu, Sheila sedang memproses sesuatu yang rumit. Dan pertanyaan hanya akan memaksa pintu terbuka sebelum siap. Maka ia memilih untuk hadir, bukan untuk menggiring—melainkan untuk menunggu di samping. Suatu malam, Galih pulang lebih cepat dari biasanya. Hujan turun deras di luar, dan suara rintiknya seperti mengisi keheningan apartemen. Ia menemukan Sheila di ruang tamu, duduk bersila di sofa, membaca sesuatu. Galih duduk di sebelahnya, memerhatikan diam-diam. Sheila sadar, dan menoleh. “Kamu pulang cepat.” “Lagi pengen pulang ke rumah lebih awal.” Galih tersenyum. “Kangen.” Sheila tersenyum, menutup bukunya, lalu bersandar di bahu Galih. “Hari ini aku baca ulang catatan seminar-seminar Rumah Puan. Banyak yang kirim surat sekarang.” “Serius?” Galih terdengar senang. “Apa isinya?” “Macam-macam. Ada yang cerita baru bisa ngomong jujur ke orang tuanya. Ada yang mulai nulis jurnal harian. Tapi ada satu yang... bikin aku duduk diam cukup lama.” Galih mengangkat alis. “Apa?” Sheila menghela napas. “Seorang gadis bilang, dia ingin punya anak suatu hari nanti. Tapi dia takut menjadi seperti ibunya. Dan dia nanya... kalau rasa takut itu bisa hilang?” Galih menatap Sheila lama. “Apa yang kamu jawab?” tanyanya pelan. Sheila memejamkan mata. “Aku bilang, takut itu mungkin nggak pernah hilang. Tapi kita bisa belajar membesarkan anak dengan cara baru: bukan dengan memaksakan yang tidak kita miliki, tapi dengan menjadi jujur—dan mencintai dengan sadar.” Galih tersenyum lembut. “Itu jawaban yang indah.” Sheila menatap mata Galih. “Tapi sejujurnya... aku juga belum tahu, Galih. Aku masih takut. Aku takut kehilangan identitasku, tubuhku, waktuku. Takut... kehilangan ‘aku’ yang baru saja berhasil aku bangun setelah semua luka.” Galih mengangguk. “Kamu nggak harus hilang untuk jadi ibu. Kamu bisa tetap jadi Sheila, dengan tambahan satu peran baru—yang kamu pilih dengan sadar.” Sheila menunduk. “Aku juga takut... kalau kamu berubah.” Galih mengernyit. “Berubah?” “Kalau nanti kita punya anak, kamu jadi lebih sibuk, lebih jauh, atau lebih perfeksionis. Aku takut kamu lihat aku gagal, dan pelan-pelan... kecewa.” Galih menggenggam tangannya. “Sheil. Aku sudah lihat kamu menangis, marah, rapuh, keras kepala, dan menutup diri. Tapi satu pun dari itu tidak pernah membuatku ingin pergi. Justru semua itu... bikin aku tahu kamu manusia. Dan kamu mencintai dengan cara manusiawi: nggak sempurna, tapi tulus.” Air mata Sheila menetes. “Aku pengen punya anak, Galih. Tapi bukan sekarang. Aku pengen lebih kuat. Lebih siap.” Galih menarik tubuhnya ke pelukan. “Kalau kamu siap sepuluh tahun lagi pun, aku akan tetap di sini.” Beberapa hari kemudian, mereka menghadiri ulang tahun keponakan Galih yang berusia 4 tahun. Acara kecil, hanya keluarga dan beberapa teman dekat. Sheila awalnya enggan ikut. Tapi Galih menggenggam tangannya waktu di mobil dan berkata, “Kita datang, bukan untuk jadi tontonan. Tapi karena dia anak yang lucu, dan kamu suka liat anak kecil pakai baju badut.” Sheila tertawa. “Kamu hafal kelemahanku.” Di pesta itu, Sheila banyak diam. Tapi diamnya bukan karena gelisah—melainkan karena mengamati. Anak-anak berlari, tertawa, berteriak. Beberapa menangis. Beberapa tidur di pangkuan ibunya. Sheila memperhatikan satu demi satu. Sampai akhirnya, keponakan Galih datang, memeluknya, dan berkata, “Tante Sheil, nanti kalo aku besar, aku mau punya istri kayak Tante.” Sheila tertawa, nyaris menangis. “Kenapa?” “Karena kamu sabar dan rambut kamu wangi.” Galih tertawa dari kejauhan. Dan saat Sheila menoleh padanya, mereka saling tersenyum—tanpa kata, tapi penuh arti. Malam itu, mereka kembali ke apartemen dengan rasa yang berbeda. Bukan karena tiba-tiba ingin punya anak. Tapi karena sekarang, rasa takut itu mulai ada ruang untuk ditenun bersama harapan. Sheila menyalakan lilin aromaterapi di kamar. Galih mengganti baju, lalu berbaring di tempat tidur sambil menonton Sheila berdiri di jendela, menatap langit. “Aku nggak tahu kapan kita akan mulai,” kata Sheila pelan. “Tapi kalau nanti aku hamil... aku pengen kamu tahu: aku akan ketakutan tiap hari. Tapi aku juga akan jatuh cinta tiap hari.” Galih duduk, menatap istrinya lama. “Aku akan takut juga, Sheil. Tapi kita bisa saling pegang tangan, kan?” Sheila mengangguk. “Selalu.” Beberapa hari kemudian, Sheila membeli satu benda kecil dan menyimpannya di dalam laci lemari kamar tidur: sepasang kaus kaki bayi berwarna kuning pastel, motif bulan dan bintang. Bukan karena ia sedang hamil. Bukan karena ia sedang mencoba. Tapi karena ia mulai percaya bahwa sesuatu yang belum ada... tetap bisa dicintai. Dengan perlahan. Dengan sadar. Dengan lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN