Bab 36

1576 Kata
Langit sore di Jakarta hari itu berwarna keemasan. Udara tidak terlalu panas, angin bertiup lembut dari balkon apartemen tempat Sheila dan Galih duduk berdampingan, masing-masing dengan secangkir teh. Tapi tak seperti biasanya, sore itu terasa… tenang. Bukan tenang karena semua baik-baik saja, melainkan karena mereka berdua telah belajar berdamai dengan segala hal yang tidak bisa mereka kontrol. Hari ini, tepat dua tahun sejak mereka menikah. Dua tahun penuh luka, pelukan, perlawanan, kehilangan, kemenangan, keraguan, kejujuran—dan cinta. Bukan cinta yang sempurna atau seperti dongeng. Tapi cinta yang tumbuh pelan-pelan, dengan air mata dan percakapan panjang. Cinta yang mereka pilih ulang, setiap harinya. Pagi tadi, Sheila bangun lebih dulu. Ia tidak langsung bangkit dari tempat tidur, hanya berbaring menatap langit-langit, mendengarkan detak jam dan napas Galih di sebelahnya. Ada yang terasa berbeda. Bukan karena momen ini penting, tapi karena mereka akhirnya sampai di titik ini dengan utuh. Setelah sekian banyak pilihan sulit. Ia melirik ke arah Galih yang masih tertidur dengan tenang, satu lengan menyentuh selimutnya. Dan ia tahu—pria ini adalah rumah. Galih bangun tidak lama setelahnya. Mereka sarapan sederhana: roti panggang, telur orak-arik, dan buah potong. Tidak ada bunga. Tidak ada kejutan. “Hari ini kita nggak ke mana-mana?” tanya Galih. Sheila menggeleng. “Aku cuma pengen… duduk sama kamu. Di rumah. Tanpa perlu cerita apa-apa.” Galih tersenyum. “Kedengarannya seperti ulang tahun pernikahan yang sempurna.” Dan mereka menghabiskan pagi itu dalam keheningan yang hangat. Sheila menyiram tanaman kecil di balkon, Galih membaca kembali proposal pengembangan toko flagship di Tokyo. Tak ada pelukan dramatis. Tak ada perayaan mewah. Hanya dua orang yang saling memilih diam-diam. Menjelang siang, Galih mengajak Sheila ke tempat pertama kali mereka berbicara serius tentang kehidupan—taman kecil di tengah kota, dekat museum tua, tempat mereka dulu duduk di bangku kayu sambil memikirkan apakah akan terus bersama atau tidak. Kini, mereka duduk di bangku yang sama. Tapi dunia mereka sudah berubah. “Sheil,” ucap Galih pelan. “Apa kamu pernah menyesal?” Sheila menoleh. “Tentang apa?” “Menikah denganku. Memilih semua ini.” Sheila terdiam beberapa detik. Lalu berkata, “Banyak hari yang berat. Tapi tidak satu pun yang membuatku ingin kembali.” Galih menunduk. “Aku takut dulu kamu hanya… bertahan.” “Aku memang bertahan. Tapi di antara semua tempat aku pernah bertahan, hanya kamu yang memberiku ruang untuk berubah.” Galih tersenyum kecil. “Kita udah berubah banyak, ya.” Sheila menggenggam tangannya. “Kita nggak lagi saling menyelamatkan. Kita sudah jadi teman sejalan.” ⸻ Sore hari, mereka pulang ke apartemen. Galih bilang ingin memasak makan malam. Sheila hanya tertawa. “Jangan lupa matikan kompor, Chef.” Saat Galih di dapur, Sheila duduk di sofa dan membuka buku kecilnya. Ia membuka halaman yang baru ditulis semalam: “Aku belum tahu kapan aku siap. Tapi aku tahu, jika anakku nanti lahir dari cinta yang tidak ditakut-takuti, maka ia akan tumbuh bukan untuk menyenangkan siapa pun—melainkan untuk menjadi dirinya sendiri.” Ia menutup buku itu, lalu tersenyum. Setelah makan malam, Galih dan Sheila duduk di lantai, menyandarkan diri pada sofa, menatap lampu kota dari jendela. “Kadang aku takut kehilangan momen,” ujar Galih tiba-tiba. “Maksudnya?” “Kita terlalu banyak kerja, terlalu sering mikir jauh. Takutnya kita lupa rasanya… duduk kayak gini. Diam. Tapi penuh.” Sheila mengangguk. “Mungkin kita bisa bikin ritual.” “Ritual?” “Setiap malam ulang tahun pernikahan, kita duduk di sini. Sama-sama, tanpa gangguan. Nggak harus ngomong, nggak harus ngerayain. Cuma duduk.” “Deal.” Galih menatap Sheila lama. Lalu berkata, “Kalau kamu ingin anak suatu hari nanti, bukan karena kamu ingin jadi ibu yang sempurna. Tapi karena kamu ingin jadi kamu.” Sheila tersenyum. “Dan kamu… bukan ayah yang sempurna. Tapi kamu selalu jadi pelindung yang tidak membebani.” Galih tertawa pelan. “Kita pasangan yang aneh.” “Pasangan yang utuh,” bisik Sheila. Sebelum tidur, Galih menggenggam tangan Sheila. “Besok kita mulai lagi dari nol. Dunia tetap bising. Proyek tetap jalan. Media tetap cerewet. Tapi selama kamu ada di sini… aku nggak takut.” Sheila menatap matanya. “Kita bukan lagi tentang siapa yang paling kuat. Tapi tentang siapa yang paling jujur.” Pagi berikutnya, tidak ada kembang api. Tidak ada foto di media sosial. Tidak ada pesta atau hadiah. Tapi ada dua cangkir kopi. Dua senyum lelah. Dan dua jiwa yang memilih untuk saling tetap. Karena pada akhirnya, cinta tidak harus disambut dengan gemuruh. Kadang cinta cukup hadir—sebagai seseorang yang mengembalikan kita ke diri kita sendiri, setiap hari. Dan itu cukup. Pagi itu biasa saja. Sheila menyiapkan sarapan seperti biasa—telur rebus, alpukat iris, dan dua gelas jus jeruk. Galih sudah berpakaian rapi sejak pukul tujuh, siap untuk menghadiri rapat penting di kantor pusat My Jewelry. Tidak ada firasat, tidak ada pertanda buruk. “Hari ini kamu bawa mobil sendiri?” tanya Sheila sambil menuang jus ke gelas. Galih mengangguk, mengambil jasnya. “Aku sekalian mampir ke supplier di Blok M. Nggak enak kalau bawa supir ke sana.” Sheila tersenyum, lalu merapikan kerah kemejanya. “Hati-hati ya.” Galih mencium keningnya singkat. “Selalu.” Itu adalah kalimat terakhir yang Sheila dengar pagi itu dari mulut suaminya. Pukul sepuluh lewat dua belas menit, dunia Sheila berhenti. Ia sedang dalam sesi daring dengan tim Rumah Puan saat ponselnya bergetar hebat. Nama yang muncul bukan Galih, melainkan Rumah Sakit Tunas Kasih. Jantungnya seperti mencelup ke air es. "Bu Sheila?” suara di seberang terdengar tegas namun berhati-hati. “Kami dari IGD. Suami Ibu, Bapak Galih Sukmawan, baru saja tiba di sini. Beliau mengalami kecelakaan lalu lintas.” Sheila membeku. Suaranya hilang. “Keadaannya bagaimana?” Itu satu-satunya kalimat yang berhasil lolos dari tenggorokannya. “Kami belum bisa memberikan informasi detail. Tapi beliau dalam penanganan intensif.” “Intensif?” “Iya, Bu. Kami mohon Ibu datang secepatnya.” Bila tidak ingat bagaimana ia menutup laptop, mengambil tas, berlari ke lift, dan menyetop taksi terdekat. Ia bahkan tak sempat berganti baju dari piyamanya. Hanya satu suara di kepalanya yang terus berulang: “Beliau dalam penanganan intensif.” Saat tiba di rumah sakit, waktu terasa seperti teka-teki yang retak. Sheila menuruni taksi dengan tangan gemetar, tubuhnya hampir tak menyentuh tanah saat berlari ke bagian IGD. Petugas menyambutnya dan langsung mengantar ke ruang tunggu dokter. “Suami Ibu mengalami benturan cukup keras di bagian d**a dan kepala akibat tabrakan dari samping,” kata dokter muda yang menjelaskan dengan suara datar. “Ia sempat kehilangan kesadaran di lokasi.” Sheila terdiam. “Sekarang kami sedang melakukan CT-scan untuk melihat potensi perdarahan dalam. Kami juga sedang observasi paru-paru karena ada memar akibat sabuk pengaman.” Sheila ingin bertanya, ingin marah, ingin menangis—tapi semua terperangkap di dalam tubuh yang membeku oleh ketakutan. “Dia akan sadar, kan?” bisiknya akhirnya. “Kami berharap begitu. Tapi kami minta Ibu bersiap untuk segala kemungkinan.” Sheila duduk sendirian di kursi plastik rumah sakit yang dingin. Sekelilingnya ada keluarga lain yang menunggu pasien—beberapa diam, beberapa menangis. Tapi Sheila seperti tak berada di sana. Ia berada dalam ruang kosong di kepalanya, di mana suara Galih masih hidup, mengucapkan “Selalu” pagi tadi. Waktu berlalu pelan. Terlalu pelan. Dua jam kemudian, dokter datang dan memintanya ke ruangan observasi. Galih belum sadar. Ia terbaring di ranjang putih, dengan infus di lengan kiri dan perban di dahi. Monitor di samping tempat tidur menunjukkan detak jantung dan tekanan darahnya. Ada bekas luka di pelipis. Bibirnya pucat. Sheila mendekat perlahan. Napasnya tercekat. “Galih…” ia memanggil dengan suara serak. “Ini aku. Sheila.” Tak ada respons. Hanya suara alat-alat medis yang monoton. Sheila duduk di kursi samping, memegang tangannya yang dingin. “Kamu nggak boleh tinggalin aku,” bisiknya. “Aku baru mulai berani membayangkan masa depan. Jangan kamu yang pergi lebih dulu.” Air matanya jatuh. Tapi ia tidak menyeka. Ia biarkan mengalir, menyatu dengan rasa takut yang tak bisa diredakan oleh logika. “Aku tahu kamu bilang kamu selalu hati-hati. Tapi sekarang aku pengen kamu egois. Aku pengen kamu bangun, Galih. Biar aku bisa marahin kamu. Biar aku bisa peluk kamu sampai kamu bilang ‘udah cukup’.” Ia mencium punggung tangan Galih. Dan untuk sesaat, ia merasa—meski sangat tipis—jari Galih menggenggam balik. Dokter mengatakan butuh waktu. Tidak bisa dijanjikan kapan Galih akan sadar. Tapi mereka juga mengatakan tidak ada pembengkakan signifikan di otak. Itu satu-satunya harapan yang Sheila peluk erat. Selama tiga hari, ia tinggal di rumah sakit. Menolak pulang. Devi datang membawa baju, membawa makanan, membawa doa. “Mereka bilang trauma ringan bisa bikin koma singkat. Tapi Galih kuat,” kata Devi. Sheila mengangguk, tapi tidak berkata apa-apa. Malam keempat, saat ia setengah tertidur di samping ranjang Galih, suara lirih membangunkannya. “Sheil…” Ia tersentak bangun. Menatap wajah Galih. Matanya terbuka. Kecil. Lemah. Tapi hidup. “Galih?” suaranya pecah. “Kamu sadar? Kamu sadar?” Galih mencoba tersenyum, tapi hanya sedikit otot wajahnya yang bergerak. “Kamu… di sini.” Sheila menunduk, mencium tangannya berulang-ulang. “Aku di sini. Selalu. Sama kayak kamu bilang.” Galih menatap langit-langit. “Aku pikir… aku nggak bakal balik.” “Kamu kembali. Dan kamu nggak kemana-mana lagi, ya?” Galih memejamkan mata, lalu mengangguk pelan. Dan malam itu, di antara segala ketakutan, akhirnya cinta mereka bersuara lagi. Lemah, tapi nyata. Karena bahkan saat tubuh tak bergerak, cinta tetap tahu jalan pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN