Sudah dua minggu sejak Galih sadar.
Dua minggu sejak malam itu, saat matanya terbuka dan ia mengucap nama Sheila dengan suara pelan yang lebih mirip desir angin daripada ucapan manusia.
Tapi kesadaran bukan berarti kepulihan.
Setiap pagi, Sheila duduk di kursi samping tempat tidur rumah sakit sambil menunggu Galih membuka mata. Setiap malam, ia tidur di sofa sempit, menahan nyeri di punggung dan tengkuk—nyeri yang sebetulnya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang Galih rasakan.
Hari ini, Galih tidak bisa menggerakkan kakinya.
“Bu Sheila,” ucap dokter sambil menutup map hasil MRI dengan pelan, “kami sudah mendiskusikan hasilnya dengan tim neurologi. Ada trauma saraf di tulang belakang bagian bawah. Dan... kami harus menyampaikan bahwa kemungkinan besar... Pak Galih mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya.”
Sheila menatap dokter itu seolah kata-kata tadi adalah kalimat dalam bahasa asing. Dunia di sekelilingnya seperti mengecil, kabur, dan sunyi.
“Lumpuh?” ia mengulang dengan suara lirih.
“Untuk sementara, atau mungkin permanen. Kami belum bisa memastikan, tapi peluang pemulihannya... kecil.”
“Apakah dia tahu?”
“Kami belum sampaikan langsung. Kami pikir... sebaiknya Ibu yang memberitahu. Dengan cara dan waktu Ibu sendiri.”
Sheila mengangguk. Matanya tak berkedip. Tangannya gemetar di atas lututnya yang kaku.
Begitu dokter pergi, ia duduk sendirian di ruang tunggu. Menunduk. Menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangis tak langsung turun. Hanya napas pendek, nyeri di d**a, dan satu pertanyaan yang tidak berhenti menggema:
“Bagaimana kalau dia tidak sanggup?”
Sheila masuk ke kamar Galih beberapa menit kemudian. Ia membawa jus jeruk yang baru dibelinya dari kafetaria. Wajahnya dipaksakan tenang. Tidak ada bekas air mata. Tidak ada getar suara.
Galih tersenyum saat melihatnya, walau senyumnya lebih seperti tarikan lemah bibir.
“Jus favoritku,” katanya pelan.
Sheila mendekat, duduk di sisi ranjang. “Kamu ingat? Aku kira kamu lupa.”
“Sulit lupa rasa segar pas kamu minum pakai sedotan dan bilang ‘kita layaknya dua jeruk yang nggak mau diperas’,” gumam Galih.
Sheila tertawa kecil. Tapi matanya masih menyimpan badai.
“Ada yang mau aku bicarain sama kamu,” katanya akhirnya.
Galih menoleh. “Tentang apa?”
Sheila menggenggam tangan Galih. Lama sekali.
“Kamu tahu kan... kamu belum bisa gerak dari pinggang ke bawah?”
Galih diam. Lalu menatap langit-langit.
“Dokter bilang... mungkin ini akan butuh waktu. Tapi bisa juga... selamanya.”
Keheningan menggelayut seperti kabut tebal. Sheila tidak tahu apakah Galih mendengarnya, atau pura-pura tidak.
Tapi beberapa menit kemudian, Galih berkata, “Jadi... aku mungkin nggak bisa jalan lagi?”
Sheila mengangguk perlahan, air mata menggenang. “Mungkin. Tapi belum pasti.”
Galih menutup mata. “Berarti aku akan jadi beban, ya?”
“Galih…” suara Sheila nyaris pecah.
“Aku bahkan belum selesai membangun ulang perusahaan. Aku belum lunasi janji kita ke tim. Dan sekarang... aku bahkan nggak bisa bangun dari kasur.”
“Kamu bukan tubuhmu saja, Galih. Kamu lebih dari itu. Kamu tetap kamu.”
Galih tertawa hambar. “Aku bahkan belum tahu caranya cebok sendiri sekarang.”
Sheila terdiam. Napasnya tercekat.
“Aku kehilangan harga diriku, Sheil. Dan kamu—kamu bisa ninggalin aku sekarang dan nggak ada yang nyalahin kamu. Bahkan aku.”
Sheila berdiri. Matanya berapi. Tapi suaranya pelan.
“Jangan kamu bilang aku bisa pergi. Jangan kamu serahkan pilihan itu padaku seolah-olah aku butuh disuruh.”
Galih terkejut.
“Aku di sini karena aku memilih tetap di sini. Karena aku cinta kamu, bukan kakimu. Bukan tampilan kamu. Tapi kamu.”
Air mata Galih jatuh perlahan ke sisi pipi.
“Dan kalau kamu nggak bisa jalan, aku akan belajar mendorong kursi rodamu. Kalau kamu nggak bisa berdiri, aku akan jadi kaki kamu. Tapi jangan kamu kira aku akan tinggalkan kamu hanya karena dunia bilang hidup harus sempurna.”
Galih menunduk. Tubuhnya terguncang diam.
Dan Sheila mendekat, memeluknya.
“Ini bukan akhir kita. Ini cuma bentuk baru dari kita.”
Hari-hari setelah itu, semuanya berubah.
Perawat mulai mengajari Sheila cara membantu Galih ke kursi roda. Mereka mulai latihan terapi—meski tak menghasilkan gerakan, tetap dilakukan. Karena harapan, meski tipis, tak boleh mati.
Setiap sore, Sheila duduk di sisi Galih, membacakan koran, atau sekadar memutar lagu-lagu lama yang dulu mereka dengar saat masih bertengkar di ruang kerja masing-masing.
Galih sempat murung. Sering tidak mau bicara. Bahkan tidak mau makan.
Tapi malam-malam sunyi itulah yang perlahan melembutkan hatinya.
Malam ketika Sheila duduk di samping ranjang, menggenggam tangannya dan berkata, “Kalau kamu takut, ngomong. Aku juga takut. Tapi kita bisa takut bareng.”
Malam ketika Galih menangis untuk pertama kalinya di depan Sheila, mengatakan betapa ia merasa kalah dan tidak pantas.
Dan malam ketika Sheila mencium bekas luka di pelipisnya dan berbisik, “Aku tetap milih kamu.”
Dua bulan kemudian, Galih sudah diizinkan pulang.
Kursi roda menjadi bagian dari rutinitas harian. Apartemen mereka disesuaikan. Rak diturunkan, kamar mandi diubah, tempat tidur diberi penyangga. Tapi tidak ada yang berubah dari cara Sheila menatap Galih.
Malam pertama di rumah, Sheila membuatkan teh, lalu duduk di lantai.
“Aku masih belajar,” katanya. “Belajar mencintaimu dalam wujud baru. Tapi yang pasti, aku tetap jatuh cinta.”
Galih memandangnya lama. “Sheil…”
“Hm?”
“Kalau nanti aku takut nggak bisa jadi ayah... boleh nggak kamu yakinkan aku kalau cinta kita cukup?”
Sheila tersenyum, lalu mendekat, meraih wajah Galih dan menyentuhnya dengan lembut.
“Cinta kita bukan cukup. Tapi luar biasa.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, Galih tersenyum tanpa menahan air mata.
Karena ia tahu, meski tubuhnya tak bisa lagi berdiri—hatinya tetap dipeluk utuh.
Oleh satu nama.
Sheila.
Pagi itu datang dengan sinar matahari yang masuk dari celah tirai krem di kamar tidur. Cahaya hangat menyentuh punggung tangan Galih yang diam di atas selimut. Ia membuka mata perlahan, mendengar gemericik air dari kamar mandi dan suara lembut panci disentuh di dapur.
Suasana rumah masih sama.
Yang berbeda hanya dirinya.
Dan kursi roda yang sekarang setia berada di sisi tempat tidur.
“Sudah bangun?” suara Sheila datang bersamaan dengan langkahnya.
Ia membawa nampan berisi sarapan: bubur, potongan buah, dan satu cangkir kopi yang disukai Galih—kopi yang sudah tak lagi bisa ia ambil sendiri dari dapur, tapi tetap terasa akrab di lidahnya.
Galih hanya mengangguk. Rambutnya sedikit kusut, matanya masih sembab karena tidur terlalu lama.
Sheila meletakkan nampan di meja kecil, lalu berjongkok di depan Galih.
“Aku bantu ya,” katanya sambil menyentuh lengan Galih.
Galih menarik napas panjang, menahan desakan emosi yang samar, lalu mengangguk. Dengan gerakan pelan dan hati-hati, Sheila membantu tubuh Galih berpindah dari kasur ke kursi roda. Keringat mulai keluar di dahi Galih, bukan karena tenaga, tapi karena menahan harga diri yang terus berontak.
“Tahan ya. Aku tahu ini tidak enak,” ujar Sheila pelan.
“Yang tidak enak bukan sakitnya,” bisik Galih. “Tapi rasanya... seperti bayi lagi.”
Sheila berhenti sejenak, lalu menatapnya.
“Kalau jadi bayi bikin kamu bisa melihat dunia dari sisi lain, ya sudah. Kita ulang semua. Pelan-pelan.”
Setelah sarapan, Sheila membantu menyisir rambut Galih. Biasanya ini dilakukan cepat, otomatis. Tapi sekarang, setiap helai rambut disisir dengan pelan, seperti ritual perawatan yang penuh makna. Tidak ada paksaan. Tidak ada rasa kasihan. Hanya cinta yang tak tergesa.
“Jadwal kamu hari ini?” tanya Sheila sambil menepuk bahu Galih lembut.
“Meeting internal. Tiga orang dari tim R&D datang jam sepuluh. Aku mau coba mulai dari rapat kecil.”
Sheila menoleh. “Kamu yakin sudah cukup kuat?”
“Tidak,” jawab Galih jujur. “Tapi aku harus mulai. Atau nanti aku berhenti terlalu lama.”
“Kalau kamu lelah, bilang ya.”
Galih tersenyum kecil. “Sheila... aku selalu bilang. Kamu aja yang kadang nggak percaya.”
Ruang kerja mereka kini lebih lapang. Kursi tamu digeser. Meja direndahkan. Sheila bahkan mengganti gagang pintu agar lebih mudah dibuka dengan siku. Segala hal kecil yang dulu tak pernah dipikirkan, kini jadi penting.
Pukul sepuluh tepat, tiga orang staf masuk ke ruang tamu apartemen.
Wajah mereka—setengah canggung, setengah lega. Takut menatap Galih terlalu lama, takut salah bersikap.
Tapi Galih langsung menyambut dengan senyuman.
“Masuk. Duduk aja. Jangan terlalu formal, nanti saya ikut tegang.”
Mereka tertawa pelan, lega.
Sheila diam di dapur, memperhatikan dari jauh sambil membuatkan teh. Ia melihat bagaimana Galih mengatur napas, berusaha berbicara dengan nada yang sama seperti dulu—tegas, tapi tenang.
Tapi ada jeda dalam setiap kata.
Ada tarikan napas yang lebih sering.
Ada jeda sunyi saat ia mengganti posisi tubuh, berusaha terlihat nyaman.
Dan di sela presentasi, tangan Galih bergetar sedikit saat menyentuh pointer. Salah satu staf buru-buru mengambilkan.
“Maaf, Pak. Saya bantu.”
Galih terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Terima kasih. Kita semua lagi belajar hal baru, ya?”
Mereka mengangguk. Dan salah satu dari mereka—Andien, staf muda yang dikenal sangat cepat bicara—tiba-tiba berkata, “Senang lihat Bapak kembali kerja. Kami kangen diskusi panjang yang suka bikin kepala ngebul.”
Galih tersenyum. Tapi matanya berkaca.
“Terima kasih, Andien.”
Sheila yang mendengar dari jauh ikut menunduk. Menyeka air matanya diam-diam dengan ujung apron.
Sore hari, setelah rapat selesai dan para staf pulang, Galih terduduk lama di kursi rodanya. Jari-jarinya bermain di lengan kursi, pikirannya tak tentu arah.
Sheila duduk di karpet, menghadapnya. “Capek?”
Galih mengangguk pelan.
“Bukan karena kerjaan. Tapi karena... merasa kalah di banyak hal kecil. Dari yang kelihatan remeh, sampai yang bikin d**a sesak.”
Sheila meraih tangan Galih, mengecupnya. “Tapi kamu tetap menang di satu hal besar.”
“Apa?”
“Kamu masih pilih hidup.”
Malamnya, mereka makan malam di balkon. Suasana tenang, angin malam pelan, lampu kota seperti bintang di kejauhan.
Sheila mengambil sendok, menyuapkan ke Galih. Tapi Galih menolak pelan.
“Aku bisa,” katanya. “Pelan aja.”
Sheila menarik tangan, membiarkannya mencoba. Galih mengangkat sendok dengan tangan kiri yang masih kuat. Tangan kanan sedikit gemetar, tapi ia berusaha. Sampai akhirnya, sesuap makanan masuk ke mulutnya sendiri.
Sheila tersenyum.
Galih menatapnya. “Kamu bangga?”
“Selalu.”
Setelah makan, mereka menonton film di sofa. Sheila menyandarkan kepala di bahu Galih. Mereka tidak banyak bicara. Hanya tertawa pelan di beberapa adegan, lalu diam lagi.
Di tengah film, Galih memegang tangan Sheila.
“Sheil…”
“Hm?”
“Kalau suatu hari aku benar-benar harus dibantu terus... kamu bakal capek ya?”
Sheila menoleh, menatapnya.
“Aku akan capek. Tapi bukan karena kamu. Karena hidup emang melelahkan. Tapi aku pilih capek bareng kamu.”
Galih tersenyum pelan. “Aku takut... kamu menyesal nanti.”
Sheila membalas senyuman itu. “Aku takut... kamu lupa bahwa kamu berharga meski nggak bisa berlari.”
Galih menarik napas panjang. Lalu berbisik, “Terima kasih sudah tetap di sini.”
Sheila mengecup pelipisnya. “Terima kasih sudah mau tetap mencoba.”
Dan malam itu, mereka tertidur di sofa, dengan posisi yang tidak sempurna, tapi cukup. Pelukan yang tidak kuat, tapi hangat.
Dan hidup yang tak lagi normal.
Tapi tetap berarti.