Galih terbangun lebih awal dari biasanya. Jam masih menunjukkan 05.23, dan langit di luar jendela masih menyimpan sisa-sisa kelam malam. Udara apartemen lembap, tidak terlalu dingin, tapi cukup membuat kulit lengan yang menggantung di luar selimut merasa geli.
Ia melirik ke arah kanan. Sheila masih tertidur. Napasnya tenang, bibirnya sedikit terbuka, dan satu tangannya menggenggam sudut bantal. Galih diam lama, hanya menatap wajah itu. Wajah yang tidak pernah pergi, bahkan ketika dunia terasa kejam.
Perlahan, Galih mengulurkan tangan ke tombol kecil di sisi tempat tidur elektriknya. Dengan sedikit suara mendesing, sandaran punggung tempat tidur terangkat, membuatnya duduk pelan-pelan.
Ia menatap kakinya.
Diam.
Tak ada reaksi.
Sudah dua bulan, dan tetap tak ada satu pun isyarat gerakan. Tak ada geli. Tak ada denyut. Hanya sepasang kaki yang seperti bukan bagian dari tubuhnya.
Pukul tujuh pagi, Sheila bangun. Galih sudah duduk di kursi roda, mengenakan hoodie abu-abu dan celana training hitam. Ia sedang membaca email di laptopnya, tapi Sheila bisa tahu dari garis matanya: fokusnya tidak di sana.
“Pagi,” sapa Sheila lembut sambil menguap dan mengusap mata.
Galih menoleh dan tersenyum. “Pagi.”
Sheila mendekat dan mencium pipinya. “Kamu nggak tidur lagi setelah subuh?”
Galih menggeleng. “Nggak ngantuk.”
Sheila mengangguk pelan. “Aku bikin sarapan dulu ya?”
“Boleh. Tapi aku yang bikin kopinya.”
Sheila terdiam sesaat, lalu mengangguk. “Oke. Aku tunggu kamu di dapur.”
Galih butuh waktu sepuluh menit hanya untuk memindahkan diri ke kursi dapur dan meraih mesin kopi. Tangannya tak lagi sekuat dulu. Tapi ia hafal letaknya. Ia tahu cara menekan tombol dengan urutan paling efisien.
Sheila diam saja, duduk di meja, pura-pura melihat HP sambil mencuri pandang.
“Kamu memperhatikan aku?” tanya Galih tanpa menoleh.
“Sedikit,” jawab Sheila, tersenyum.
“Kamu takut aku jatuhin cangkir?”
“Bukan. Aku takut kamu terlalu keras sama dirimu sendiri.”
Galih berhenti sejenak. “Aku cuma... nggak mau kamu jadi pengurusku seumur hidup.”
Sheila bangkit dari kursi, menghampirinya, dan berdiri di belakang Galih, lalu menyandarkan dagunya di atas kepalanya.
“Kamu bukan beban. Kamu pasangan. Kadang aku urus kamu. Kadang kamu urus aku. Itu biasa.”
Galih tertawa kecil. “Kamu tuh... kalau ngomong gitu, bikin aku pengen nyerahin semuanya.”
“Yakin nggak mau?” goda Sheila.
“Kalau soal nyerahin hatiku, udah dari lama.”
Sheila mencubit pelan pundaknya. “Gombal pagi-pagi.”
Pukul sembilan, Galih ada pertemuan daring dengan dewan pengawas eksternal. Ia meminta Sheila mendampinginya di ruang kerja. Bukan untuk membantu, tapi karena ia ingin suara perempuan itu ada di dekatnya kalau tiba-tiba pikirannya terbang entah ke mana.
Pertemuan berjalan kaku di awal. Galih memperkenalkan diri ulang, menjelaskan kondisi fisiknya, dan menyampaikan bahwa ia tetap akan memimpin walau dari kursi roda.
Seorang anggota senior, Pak Bahar, bertanya pelan namun tajam.
“Pak Galih, kami khawatir dengan keberlanjutan keputusan strategis jika Bapak belum sepenuhnya pulih secara mobilitas.”
Galih menatap layar. Hening sejenak.
“Pak Bahar,” ujarnya tenang, “tubuh saya boleh tidak bergerak, tapi kepala saya masih penuh ide. Dan hati saya masih punya nyali.”
Sheila menahan napas, bangga dan tergetar.
Galih melanjutkan, “Kalau saya tidak sanggup secara fisik ke lapangan, saya akan kirim tim. Tapi kalau harus hadir secara manusia... saya hadir seutuhnya. Di sini.”
Pertemuan berlangsung satu jam. Setelah itu, ruangan sunyi.
Sheila duduk di kursi seberangnya, menatap Galih yang diam.
“Kamu oke?” tanyanya pelan.
Galih hanya mengangguk. Tapi wajahnya lelah.
Sheila bangkit, berjalan memutar meja, lalu duduk di lantai di sebelah kursi rodanya.
“Kalau kamu pengen marah... atau nangis... boleh,” bisiknya.
Galih tidak menjawab. Tapi tiba-tiba pundaknya gemetar. Air matanya jatuh tanpa suara.
“Aku kangen... berdiri sendiri,” katanya pelan. “Kangen bisa ngambil barang tanpa minta tolong. Kangen ngerasa... laki-laki.”
Sheila mengangkat kepalanya, memaksa Galih menatapnya.
“Kamu laki-laki. Justru karena kamu jujur.”
Siang hari, mereka memutuskan keluar. Ini pertama kalinya Galih keluar dari apartemen selain ke rumah sakit.
Sheila menyiapkan semua dengan detail: kursi roda lipat, bantal sandaran tambahan, minuman kecil di tas, hingga tisu cadangan. Tapi ia tidak membicarakannya secara berlebihan. Ia hanya bilang, “Kita jalan sebentar ya, cari udara.”
Mereka ke taman kota.
Di sepanjang jalan setapak yang datar, Sheila mendorong kursi roda Galih dengan kecepatan lambat. Mereka berhenti di bawah pohon besar.
“Dulu kamu pernah bilang... pengen punya anak kalau kita siap,” gumam Galih tiba-tiba.
Sheila menoleh. “Iya. Kenapa?”
“Kamu masih pengen?”
Sheila menghela napas. “Aku nggak tahu. Tapi... aku nggak takut lagi. Kalau suatu hari kita punya anak, aku mau dia tahu ayahnya bukan sempurna, tapi luar biasa.”
Galih tertawa pelan. “Jadi, sekarang kita cuma... lihat ke mana hidup bawa kita?”
“Kayaknya begitu. Tapi kali ini, aku nggak takut.”
Galih menggenggam tangan Sheila yang ada di bahu kursi rodanya.
“Kalau bisa... kita ke sini tiap minggu, ya?”
Sheila mengangguk. “Tiap minggu. Dan tiap minggu kamu harus ceritain satu hal yang bikin kamu bersyukur.”
Galih tersenyum.
“Hari ini?”
“Hari ini... aku bersyukur kamu masih milih duduk di sampingku. Bukan berdiri menjauh.”
Malamnya, di rumah, mereka tidak menyalakan TV. Hanya lampu kuning temaram dan lagu lembut dari speaker kecil di dapur.
Galih duduk di kursi roda, menghadap jendela. Sheila duduk di lantai, bersandar di kakinya yang tak lagi bergerak. Ia menyandarkan pipinya di paha Galih, dan Galih membelai rambutnya pelan.
“Besok kita mulai hari baru lagi ya?” tanya Sheila.
“Besok... dan lusa... dan seterusnya.”
Sheila menutup mata. “Aku sayang kamu. Bukan karena kamu kuat. Tapi karena kamu mau belajar ulang semua hal dari nol.”
Galih menarik napas panjang. “Aku cinta kamu... karena kamu bikin hidup yang berat terasa seperti buku cerita. Penuh luka. Tapi layak dibaca sampai habis.”
Dan malam itu, di atas roda, di antara luka, cinta mereka tetap mengalir.
Pelan.
Penuh.
Tapi tetap menuju satu arah yang sama.
Ke depan.
Cahaya lembut pagi menyelinap malu-malu di antara tirai, membawa aroma tanah basah dan janji hari baru yang masih sunyi. Di dalam apartemen, suasana tenang. Galih baru saja selesai terapi fisik ringan dan kini duduk di sofa, membaca artikel tentang perkembangan logistik perhiasan digital di Asia Tenggara.
Sheila berdiri di dapur, mencuci buah. Tangannya bergerak lambat. Sudah tiga menit ia memandangi potongan stroberi di atas talenan, tapi tak satu pun yang ia sentuh.
Di atas meja makan, ponselnya bergetar lagi. Nama yang muncul di layar: Ibu.
Ia belum menjawab sejak semalam. Sudah tiga kali telepon. Dua pesan. Semua mengarah ke satu hal yang sama—dan ia tahu, kali ini, ia tidak bisa lagi diam.
“Sheil?” suara Galih dari ruang tengah terdengar pelan, “kamu kenapa bengong?”
Sheila tersenyum kecil, tapi matanya tetap kosong. “Nggak apa-apa. Mau aku kupas jeruk?”
Galih mengangguk, tapi tetap menatapnya curiga.
“Kalau kamu mau cerita, aku di sini.”
Sheila hanya mengangguk. Tapi dalam hatinya, perutnya terasa mual.
Setelah makan siang, Sheila akhirnya menghubungi kembali ibunya. Ia menutup pintu kamar, duduk di tepi ranjang, dan menatap langit kelabu di luar.
Begitu suara ibunya menjawab, nada suara langsung mengeras.
“Baru sekarang kamu ingat ibumu?”
Sheila menutup mata sejenak. “Maaf, Ma. Kemarin aku sibuk nemenin Galih terapi.”
“Terapi terus, terapi terus. Kamu hidup buat siapa sih sekarang? Dia? Dia bahkan...”
Suara itu terhenti sesaat.
“...dia bahkan bukan laki-laki yang lengkap lagi, Sheil.”
Dada Sheila seperti ditusuk perlahan.
“Ma,” suaranya gemetar. “Tolong jangan bilang kayak gitu.”
“Kamu pikir Mama nggak sakit lihat anak perempuan satu-satunya ngurus suami kayak pasien? Dia lumpuh, Sheil. Kamu masih muda. Kamu bisa punya hidup yang...”
“Yang seperti apa, Ma?” Sheila memotong, pelan tapi tegas. “Yang kelihatan sempurna di luar tapi hampa di dalam? Aku sudah pernah punya itu. Dan aku nyaris mati karena sepi.”
Telepon sunyi.
Sheila melanjutkan, lebih tenang. “Galih mungkin nggak bisa jalan. Tapi dia berjalan bersamaku dalam semua hal. Dia lihat aku, Ma. Dia dengerin aku. Dia hargai aku. Dia bikin aku ngerasa layak.”
Ibunya menarik napas panjang. “Tapi semua orang ngomong, Sheil. Tante kamu, sepupu-sepupumu. Mereka semua bilang kamu buang hidupmu.”
Sheila memejamkan mata, menahan amarah yang mengambang.
“Kalau mereka semua tahu caranya mencintai, mereka nggak akan bicara kayak gitu. Aku nggak buang hidupku, Ma. Aku baru mulai hidupku.”
“Apa kamu mau jadi perawat seumur hidup?”
“Kalau itu artinya bisa menjaga orang yang aku cinta, iya. Tapi kamu salah. Galih bukan pasien. Dia pasangan. Dia temanku. Dan aku bukan mengorbankan hidupku. Aku memilihnya.”
Ibunya terdiam.
Kemudian, dengan suara jauh lebih lembut, nyaris putus asa, beliau bertanya, “Kamu yakin nggak bakal menyesal?”
Sheila menghela napas, dan untuk pertama kalinya hari itu, bibirnya tersenyum tulus.
“Menyesal? Mama tahu apa yang aku sesali? Aku nyesel nggak bertemu Galih lebih cepat.”
Sheila menutup telepon dengan tangan gemetar. Tapi kali ini bukan karena marah. Melainkan karena lega. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berkata jujur kepada ibunya. Tanpa bersilat kata. Tanpa berpura-pura baik-baik saja.
Ia keluar kamar.
Galih masih di ruang kerja, menyusun dokumen proyek digitalisasi rantai pasok mereka.
Sheila berdiri di pintu, hanya menatapnya. Lama.
Galih merasakan tatapan itu. Ia berhenti menulis, menoleh, dan tersenyum.
“Kamu habis nangis ya?”
Sheila berjalan pelan, duduk di pangkuan kursi rodanya, memeluk lehernya erat.
“Barusan aku bilang ke Mama... kalau aku nggak nyesel nikah sama kamu.”
Galih terdiam.
“Kamu tahu,” lanjut Sheila pelan, “dulu aku pengen banget diakui. Pengen semua orang bilang aku anak hebat. Istri hebat. Tapi ternyata... yang paling melegakan adalah ketika aku bisa bilang ke diri sendiri: aku mencintai seseorang, bukan untuk terlihat benar—tapi karena itu yang paling benar buatku.”
Galih memejamkan mata. Ia tidak bicara. Tapi pelukannya menjawab semua.
Dan dalam diam itu, mereka tahu: cinta yang dijalani bukan yang dirayakan oleh dunia, tapi yang diperjuangkan meski harus ditentang oleh dunia.
Malam itu, Sheila menulis di buku hariannya:
“Hari ini aku memilih diriku sendiri. Hari ini aku berkata: cukup jadi anak baik yang diam. Aku perempuan dewasa yang tahu apa yang kuinginkan. Dan aku memilih Galih. Pilihan itu tidak sempurna. Tapi benar.”
Di sebelahnya, Galih sudah tertidur di kursi rodanya yang ditarik mendekat ke tempat tidur. Mereka memutuskan untuk tidur berdekatan, bahkan jika itu berarti menyatukan ruang tanpa menyatukan posisi.
Sheila menyentuh punggung tangannya.
Dan berbisik, “Kita nggak sempurna. Tapi aku akan tetap mencintaimu. Sampai suara mereka tak lagi mempan menyentuhku.”