Bab 39

1473 Kata
Di meja makan, Sheila menatap setangkai bunga krisan yang mulai layu di dalam vas kaca kecil. Bunga itu dibeli Galih seminggu lalu dari tukang bunga keliling, dan sejak saat itu selalu diletakkan di tengah meja. Tak istimewa, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa hal-hal sederhana tetap bisa menghadirkan kehangatan. Sheila menyentuh kelopaknya dengan pelan. Krisis dengan ibunya dua hari lalu masih terasa seperti gelombang kecil yang belum sepenuhnya surut. Tidak ada pesan lanjutan. Tidak ada telepon. Dan anehnya, Sheila tidak terlalu menunggu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sheila merasa tidak perlu validasi siapa pun untuk merasa benar. Galih sedang tidur siang di sofa. Terapi pagi hari cukup menguras energinya. Sekarang tubuhnya lebih terbiasa dengan gerakan dasar, tapi masih banyak keterbatasan yang menuntut adaptasi harian. Sheila menatap wajahnya dari jauh, lalu membuka laptop di meja kerja. Notifikasi Slack dan email berdatangan. Beberapa draft artikel untuk Rumah Puan masih perlu revisi. Ia menarik napas dalam dan mulai bekerja, tapi pikirannya tak sepenuhnya ada di layar. Ada sesuatu yang mengganjal di d**a—bukan rasa sedih, tapi lebih ke pertanyaan: Setelah ini, aku siapa? Pukul tiga sore, Sheila mengisi sesi konsultasi daring bersama seorang penyintas yang baru saja keluar dari hubungan manipulatif. Suaranya gemetar, ceritanya tersendat-sendat. Tapi Sheila mendengarkan dengan sabar. “Aku takut... aku tuh trauma banget kalau deket sama orang yang dominan. Tapi aku juga pengen punya hubungan yang sehat.” Sheila mengangguk. “Takut itu tanda kamu sadar. Itu bukan kelemahan. Itu alarm. Tapi jangan biarkan alarm itu bikin kamu mengurung diri.” “Aku takut nggak cukup kuat untuk buka hati.” “Pernah merasa kuat bukan karena kamu ngelawan semuanya, tapi karena kamu cukup lembut untuk ngakuin kamu takut?” Gadis itu diam. “Kadang cinta nggak datang sebagai penyelamat. Tapi sebagai teman yang sabar duduk di samping kamu, bahkan saat kamu belum berani buka jendela.” Sheila menutup sesi itu dengan d**a penuh. Gadis itu mengucapkan terima kasih pelan, dengan mata berkaca-kaca. Dan Sheila tahu, di sinilah jiwanya berada. Sore hari, Devi datang berkunjung. Membawa dua paper bag besar berisi tahu pedas, risoles sayur, dan bakpia hangat. “Makanan adalah bahasa cinta terkuat,” kata Devi sambil menyerahkan salah satu bungkus ke Sheila. Galih yang baru bangun langsung tertawa. “Kata siapa?” “Kata aku. Dan aku sahabat istrimu, jadi valid.” Mereka makan bertiga di balkon. Angin sore menenangkan, langit berwarna jingga, dan aroma gorengan hangat mengisi udara. Devi memandang Sheila lama. “Sheil, aku boleh jujur?” Sheila mengunyah perlahan. “Kamu selalu boleh.” “Aku bangga sama kamu.” Sheila menoleh. “Karena?” “Karena kamu bertahan, tapi nggak jadi batu. Kamu lembut, tapi nggak lemah. Kamu bisa mencintai tanpa kehilangan dirimu sendiri.” Sheila tertawa kecil. “Aku juga baru belajar itu. Dulu aku pikir cinta itu harus ngalah. Sekarang aku tahu... cinta itu bukan tentang siapa yang mengalah, tapi siapa yang tetap ada bahkan saat capek.” Galih diam-diam menatap Sheila, menahan senyum. “Dan kamu tahu?” lanjut Sheila. “Aku bukan perempuan hebat. Aku cuma perempuan yang nggak mau berhenti mencoba.” Setelah Devi pulang, Sheila duduk di depan cermin kamar. Ia memperhatikan wajahnya sendiri. Bukan untuk mencari kerutan atau jerawat, tapi untuk benar-benar melihat siapa dirinya kini. Apa yang ia lihat? Mata yang sedikit lebih dalam. Bibir yang jarang pura-pura tersenyum. Garis rahang yang lebih tegak, bukan karena keras kepala, tapi karena ia mulai tahu batasnya. Ia mengambil buku jurnal dan mulai menulis. “Hari ini aku tidak menyelamatkan siapa pun. Tapi aku tetap merasa hidup. Karena aku mulai berdamai dengan kenyataan bahwa keberadaan itu sendiri sudah cukup berarti.” Malamnya, Galih memanggil Sheila pelan dari ruang tengah. “Sheil?” “Hm?” jawabnya dari kamar mandi. “Aku barusan baca ulang surat cintamu waktu kita LDR dulu.” Sheila keluar sambil mengeringkan tangan. “Yang mana?” “Yang kamu kirim di hari ulang tahunku, yang tulis tangan, panjang banget. Ingat?” Sheila tertawa. “Yang hurufnya miring-miring karena aku nulis sambil nangis?” “Iya,” Galih tersenyum. “Aku baru sadar... kamu udah mencintai aku bahkan sebelum kita saling lengkap.” Sheila berjalan pelan ke arahnya. “Karena dari awal... aku nggak butuh kamu jadi sempurna.” Galih menggenggam tangannya. “Tapi kamu tahu nggak, sekarang aku ngerasa lebih utuh dari sebelumnya.” Sheila menatapnya. “Karena sekarang aku nggak berusaha tampil kuat terus. Aku cukup jadi... manusia.” Sheila tersenyum, lalu mencium keningnya. Lama. “Kita udah sampai sejauh ini, Galih.” “Dan aku nggak akan kemana-mana.” Malam itu, sebelum tidur, Sheila menulis satu kalimat lagi di jurnalnya. “Jika besok aku ditanya siapa diriku, aku tidak akan jawab: anak siapa, istri siapa, atau apa pekerjaanku. Aku akan jawab: aku perempuan yang memilih. Dan itu cukup.” Di luar jendela, langit mendung tapi tenang. Dan di dalam kamar itu, cinta tidak perlu kata-kata keras atau janji besar. Hanya kehadiran. Hanya kejujuran. Dan itu sudah lebih dari cukup. Matahari pagi menyapu lembut jendela ruang kerja, memantulkan cahaya ke meja kayu tempat Galih duduk dalam diam. Di hadapannya, layar laptop menampilkan laporan pendapatan kuartal. Tapi fokusnya teralihkan—oleh suara tawa dari dapur. Sheila sedang berbicara di telepon. Suaranya terdengar ringan, hampir seperti bernyanyi. Galih tak bisa mendengar jelas isi percakapannya, tapi ia mendengar satu nama disebut dua kali. "Reyhan." Galih diam. Tangannya berhenti di atas trackpad. Ia ingat nama itu. Salah satu rekan Sheila di Rumah Puan—psikolog muda yang pernah datang dalam rapat besar di Jakarta. Tinggi, ramah, berwawasan luas. Dan waktu itu, Galih sempat melihat caranya memandang Sheila. Tidak berlebihan. Tapi cukup untuk membuat d**a sedikit mengencang. Beberapa menit kemudian, Sheila masuk ke ruang kerja membawa dua cangkir kopi. "Ini untuk kamu," katanya ceria, meletakkan cangkir di atas tatakan kayu. "Reyhan nelpon ya?" tanya Galih pelan, tanpa menatap. Sheila berhenti sejenak. Lalu duduk di sofa, menatap Galih dengan kepala sedikit miring. “Iya. Dia ngajak diskusi soal program advokasi baru. Kenapa?” Galih mengangkat bahu. “Nggak apa-apa.” Sheila tertawa pelan, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Kamu cemburu?” Galih diam. Lalu menatap mata Sheila dengan ekspresi campur aduk. “Mungkin. Dikit.” Sheila tidak menertawakannya. Ia bangkit, mendekati Galih, lalu berlutut di samping kursi rodanya. “Galih, denger ya,” katanya pelan, “kamu bisa kehilangan fungsi kakimu. Tapi kamu nggak pernah kehilangan tempatmu di hatiku.” Galih tertunduk. “Aku tahu kamu setia. Tapi aku cuma manusia.” “Manusia yang kusayang,” bisik Sheila, “dan satu-satunya yang kupilih setiap hari.” Galih menatapnya. Lama. Lalu mengelus pipi Sheila perlahan, seperti menyentuh musim yang ditunggu lama. Siangnya, Sheila mengusulkan sesuatu. “Aku mau bawa kamu jalan-jalan. Tapi bukan taman. Bukan rumah sakit. Dan bukan supermarket.” Galih mengangkat alis. “Mau kemana?” “Ke tempat pertama kali kamu ngajak aku makan malam.” Galih terdiam. “Restoran itu?” tanyanya dengan suara pelan. Sheila mengangguk. “Tempat kamu bilang... ‘kalau kamu mau, kita ulang semuanya dari awal, tapi dengan pelan-pelan dan jujur.’” Galih tertawa kecil, lalu mengangguk. “Oke. Tapi sekarang aku yang duduk di roda, bukan di seberang meja tinggi.” “Kali ini,” kata Sheila sambil mengancingkan jaket Galih, “aku akan duduk di sampingmu. Bukan di depan. Kita sebaris.” Restoran itu tidak banyak berubah. Lampu gantung masih remang, aroma kayu manis dari diffuser masih memenuhi udara, dan alunan musik jazz mengalun pelan. Pelayan mengenali mereka. Dan kali ini, menyediakan tempat duduk di area ramah kursi roda. Galih memesan menu lamanya. Sheila pun sama. Tapi suasananya tidak sama. Karena kali ini mereka tidak sedang menebak satu sama lain. Mereka sudah saling tahu. “Waktu kamu ngomong soal Reyhan tadi pagi...” Galih memulai, sambil menyeruput jus. “Hm?” “Aku nggak hanya cemburu karena dia suka kamu. Tapi karena dia bisa berdiri di sebelahmu. Bener-bener berdiri.” Sheila menatapnya. Lalu berkata dengan nada lembut, “Aku nggak butuh orang yang berdiri di sebelahku. Aku butuh yang bertumbuh bersamaku. Dan kamu... kamu orangnya.” Galih tertunduk, menyeka sudut matanya yang basah dengan tisu. “Kenapa kamu nggak pernah marah karena aku merasa kurang?” Sheila meraih tangannya di atas meja. “Karena aku juga pernah merasa kurang. Tapi kamu nggak pergi. Dan sekarang, giliranku untuk tetap.” Setelah makan malam, mereka pulang ke apartemen. Di lift, Sheila berdiri di belakang kursi roda Galih, tangannya menyentuh bahu suaminya dengan lembut. “Besok kamu mau ngapain?” tanya Sheila saat mereka masuk rumah. Galih menghela napas. “Besok? Aku mau... mencintaimu lebih banyak.” Sheila tertawa. Tapi matanya berkaca-kaca. Dan malam itu, sebelum tidur, mereka tak banyak bicara. Hanya pelukan. Dan sentuhan. Dan saling menatap sampai waktu meluruh jadi tenang. Karena cinta itu bukan tentang siapa yang bisa berjalan lebih cepat. Tapi siapa yang tetap tinggal ketika langkah tak bisa diambil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN