Pesawat mendarat di Bandara Internasional Hongkong dengan sentuhan ringan yang hampir tak terasa. Di dalam kabin kelas bisnis yang setengah redup, Sheila menatap ke luar jendela, matanya sedikit berkaca.
“Akhirnya,” bisiknya.
Galih menoleh, senyumnya penuh makna. “Setelah berapa lama ya kita janji mau ke sini?”
Sheila tertawa pelan. “Dari awal nikah. Tapi ya... waktu itu kamu sibuk. Aku juga.”
“Dan sekarang kita sibuk jatuh cinta lagi,” gumam Galih sambil meraih tangan Sheila dan mencium punggungnya.
Perjalanan panjang mereka menuju momen ini terasa seperti pendakian yang tak pernah selesai. Tapi pagi itu, dengan matahari yang perlahan menyapa dari balik jendela kaca pesawat, segalanya terasa lebih ringan.
Mereka menginap di sebuah hotel butik kecil di kawasan Sheung Wan, jauh dari keramaian turis, tapi cukup dekat dengan jalur trem dan pelabuhan. Kamar mereka berada di lantai lima, dengan jendela lebar yang menghadap ke laut dan atap-atap tua bergaya kolonial.
Begitu masuk kamar, Sheila melepaskan sepatu dan duduk di tepi ranjang sambil tertawa. “Kita beneran di sini.”
Galih memutar kursi rodanya ke sisi tempat tidur, meraih tangan istrinya. “Dan kita nggak nyamar jadi pekerja, nggak ngumpet dari tekanan. Kita cuma... kita.”
Sheila memiringkan wajahnya, menatap dalam. “Kamu tahu apa yang paling aku syukuri?”
“Apa?”
“Kita bisa sampai sejauh ini. Nggak semua orang bisa bertahan setelah badai segila itu.”
Galih mengangguk. “Tapi kita bukan semua orang.”
Siang itu, mereka makan siang di Cha Chaan Teng lokal—tempat kecil dengan kursi kayu berderit dan pelayan tua yang masih menggunakan dasi kupu-kupu. Galih memesan sup makaroni dengan ham dan Sheila memilih milk tea hangat.
“Kamu tahu,” kata Galih sambil meniup supnya, “dulu aku pikir honeymoon itu harus mewah. Resort di Maldives. Private island. Tapi ternyata...”
“Ternyata?” Sheila mengangkat alis.
“Ternyata makan mie telur di kedai kecil bareng kamu udah lebih dari cukup.”
Sheila tertawa. “Coba kamu ngomong gitu waktu aku ngajak honeymoon ke Bali dulu. Ingat nggak?”
Galih mengangguk, tertawa juga. “Waktu itu aku takut bawa kamu ke Bali malah bikin kamu sakit hati. Karena semua yang romantis justru terasa seperti pura-pura.”
“Sekarang?”
Galih menatapnya dalam. “Sekarang, semua yang sederhana terasa tulus.”
Sore harinya, mereka berjalan di sepanjang pelabuhan dengan kursi roda Galih meluncur pelan di samping Sheila. Angin laut membawa aroma asin dan kelembapan khas dermaga. Suara kapal, tawa anak-anak, dan bahasa Kanton terdengar seperti simfoni asing yang tidak mengganggu.
Mereka tidak banyak bicara. Tapi tangan mereka saling menggenggam.
Kadang, cinta tidak butuh percakapan.
Malam pertama di hotel itu, Sheila berdiri di balkon dengan rambut digerai, memakai baju tidur tipis berwarna biru muda. Galih berada di dalam, baru saja menyelesaikan sesi stretching malam dari fisioterapis virtual.
“Sheil,” panggil Galih pelan.
Sheila masuk, menatapnya. “Hm?”
“Aku ngerasa... lebih damai di sini.”
Sheila tersenyum. “Mungkin karena kamu nggak merasa harus jadi apa-apa.”
Galih mengangguk. “Dan kamu juga. Kamu bisa istirahat dari jadi pelindung, penyembuh, atau penyabar.”
Sheila mendekat. Duduk di pangkuan kursi rodanya, memeluk Galih dari depan. Lama.
“Aku cuma mau jadi istri kamu malam ini,” bisiknya.
Galih membalas pelukan itu erat. “Dan aku mau jadi satu-satunya tempat kamu bisa bernafas tanpa takut dinilai.”
Mereka tidak b******a malam itu.
Tapi mereka saling membelai, mencium pelan, berbicara tentang masa kecil, dan saling menyentuh dengan lembut seolah takut menyakiti.
Dan saat tertidur, tubuh mereka masih bersentuhan—bukan karena gairah, tapi karena keinginan untuk tetap dekat.
Hari kedua, mereka naik trem keliling kota. Galih yang mengusulkan.
“Aku mau tahu gimana rasanya jadi turis di hidup sendiri,” katanya sambil tertawa.
Sheila membalas, “Kita semua kadang butuh jadi tamu di dunia yang kita bangun sendiri.”
Di dalam trem kayu yang berderit dan bergoyang pelan, mereka duduk di sisi jendela. Melihat toko obat herbal, pasar basah, dan gedung pencakar langit berbaur dalam satu lanskap.
Galih menoleh. “Kalau suatu hari kita tua... dan semua orang lupa kita pernah berdiri... kamu mau kita tinggal di tempat kayak gini nggak? Di kota yang nggak peduli kita siapa?”
Sheila mengangguk. “Asal kamu tetap di sampingku.”
Hari terakhir mereka dihabiskan di taman kecil yang tersembunyi di tengah pusat bisnis. Mereka duduk di bawah pohon kamper, dikelilingi orang-orang tua yang bermain catur dan anak-anak kecil berlari.
Galih membaca puisi dari buku kecil yang ia bawa diam-diam dari Jakarta. Sheila bersandar di bahunya, mendengarkan.
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,” baca Galih, “dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.”
Sheila menoleh. “Itu Sapardi?”
Galih mengangguk. “Puisi favoritku sejak lama. Tapi aku baru ngerti artinya sekarang.”
Sheila tersenyum. “Kita memang nggak perlu janji besar. Cukup janji kecil yang kita ulang tiap hari.”
Dan saat matahari mulai turun ke balik gedung tinggi, mereka berpelukan di bangku taman itu. Tanpa kata.
Karena di akhir segalanya, cinta bukanlah tentang seberapa jauh perjalanan mereka.
Tapi seberapa dekat hati mereka tetap saling mencari.
Dan di Hongkong, kota yang tak mengenal mereka, cinta mereka justru menemukan rumahnya sendiri.
Pagi pertama di Jakarta setelah honeymoon, langit tampak jernih seperti hati yang baru dicuci hujan. Udara kota terasa sedikit lebih ramah, atau mungkin itu hanya karena Galih dan Sheila membawa pulang rasa damai dari Hongkong yang masih tinggal di dalam napas mereka.
Apartemen mereka seperti menyambut dengan cara lembut: tanaman-tanaman kecil yang tumbuh lebih subur, aroma lavender dari diffuser, dan buku-buku yang masih tersusun rapi di rak. Semua terasa akrab, tapi juga berbeda. Seperti pulang ke rumah yang baru saja diperbarui oleh cinta.
Galih menatap langit-langit ruang tamu sambil berbaring di sofa, kedua kakinya terangkat santai, lututnya sedikit ditekuk.
“Sheil,” panggilnya dari sofa.
Sheila muncul dari dapur, membawa dua gelas jus jeruk dan mengenakan piyama kuning pastel. “Ya?”
“Aku masih belum percaya aku udah bisa naik tangga tanpa kamu pegangin.”
Sheila tertawa sambil duduk di sebelahnya. “Aku juga belum percaya kamu bisa dorong koper 30 kilo di bandara tanpa ngeluh.”
“Padahal dulu dorong kursi roda aja aku ngos-ngosan,” gumam Galih, senyumnya lebar.
Mereka tertawa bersama. Bukan tawa keras. Tapi tawa yang mekar pelan dari hati yang baru.
Hari-hari mereka kembali dipenuhi hal-hal kecil yang terasa manis. Galih mulai menulis kolom opini untuk platform digital, sementara Sheila kembali ke Rumah Puan dengan energi yang lebih segar. Tapi kali ini, mereka tak lagi saling kehilangan di antara kesibukan. Mereka menemukan cara untuk hadir dalam jeda—mengantar, menunggu, atau sekadar minum teh sore bersama.
Suatu hari, Sheila membawa Galih ke ruang komunitas baru mereka.
“Lihat, Galih... itu mural yang digambar anak-anak. Dan itu... ruangan terapi yang kamu dananya bantu,” jelas Sheila sambil menunjuk satu per satu dengan antusias.
Galih menatapnya dengan mata berbinar. “Kamu bersinar banget di tempat ini. Aku bangga jadi bayanganmu.”
Sheila menatapnya. “Kamu bukan bayangan. Kamu langitku. Tempat aku tumbuh.”
Malamnya, mereka makan malam di teras kecil apartemen, ditemani cahaya lilin dan semilir angin.
Sheila menyandarkan kepala di bahu Galih. “Kamu bahagia?”
Galih mengecup ubun-ubunnya. “Lebih dari yang pernah aku bayangkan.”
Sheila menarik napas dalam. “Aku juga.”
Dan malam itu, tanpa banyak bicara, mereka tahu bahwa cinta yang mereka punya bukan hanya bertahan—tapi tumbuh.
Tapi keesokan paginya, semuanya berubah.
Sheila terbangun dengan keringat dingin di pelipisnya. Perutnya mual. Ia buru-buru ke kamar mandi dan muntah dengan keras. Sekali. Dua kali.
Galih, yang sedang menyeduh kopi di dapur, segera berlari ke arah kamar mandi begitu mendengar suara itu.
“Sheil?” panggilnya khawatir.
Sheila keluar dengan wajah pucat, napasnya tak beraturan.
“Maaf... aku tiba-tiba... mual.”
Galih menyentuh pipinya, menatap lekat. “Kamu demam?”
Sheila menggeleng pelan. “Enggak. Tapi aku ngerasa... aneh. Kayak ada yang berubah di tubuhku.”
Galih terdiam. Jantungnya berdetak kencang.
“Sheil... kamu telat datang bulan?”
Sheila menatapnya. Matanya membesar.
“Aku... belum ngecek,” bisiknya.
Galih memegang kedua bahunya. Lembut. “Kamu pikir...”
Sheila tak bisa menjawab. Ia hanya menutup mulut dengan kedua tangan, dan air matanya mulai menggenang. Bukan karena takut.
Tapi karena kemungkinan itu.
Kemungkinan bahwa di dalam dirinya... ada kehidupan yang lain sedang tumbuh.