Hari itu langit Jakarta terlihat seperti tumpukan kapas lembut yang enggan pecah. Hangat, teduh, dan hening seperti pagi-pagi di luar waktu. Tapi di dalam apartemen, dunia Sheila dan Galih bergetar halus oleh sesuatu yang belum mereka beri nama.
Sheila duduk di tepi tempat tidur, kaki ditekuk, jari-jari tangannya meremas ujung kaus tidur. Galih berdiri tak jauh, bersandar ke kusen jendela dengan ekspresi campuran antara cemas dan menanti.
“Mau aku beli test pack sekarang?” tanya Galih akhirnya, pelan-pelan, seperti takut pertanyaannya terlalu berat.
Sheila mengangguk kecil tanpa menoleh. “Mungkin iya... sebelum aku terlalu banyak berandai-andai.”
Galih melangkah mendekat, duduk di sebelahnya. Ia menyentuh tangan Sheila yang dingin.
“Apapun hasilnya, kita tetap tim, ya?”
Sheila menoleh padanya. Wajahnya pucat tapi matanya hidup. “Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut terlalu berharap.”
Galih memeluknya. Kuat, tapi tidak menekan. “Kalau pun bukan sekarang... kita masih punya banyak waktu.”
Sheila memejamkan mata di dalam pelukan itu. Lalu berkata, “Tapi kalau iya... aku nggak tahu apa aku siap.”
Galih mencium pelan ubun-ubunnya. “Kamu nggak harus siap. Kamu cuma perlu jujur. Sama aku. Sama dirimu sendiri.”
Satu jam kemudian, mereka berada di minimarket kecil, hanya berjarak dua blok dari apartemen. Galih menyetir mobil sambil sesekali melirik Sheila yang diam di kursi penumpang, memandangi luar jendela dengan tangan yang menggenggam sabuk pengaman terlalu erat.
Saat mereka tiba di kasir, Galih dengan tenang mengambil dua test pack dari rak. Sheila berdiri beberapa langkah di belakangnya, tak ingin dilihat siapa pun mengenali wajahnya. Seorang kasir muda menatap barang belanjaan itu lalu menatap Galih, lalu ke Sheila, lalu tersenyum dengan simpati yang tak terucap.
Sesampainya di rumah, mereka saling diam sejenak. Test pack diletakkan di atas meja kamar mandi, seperti benda kecil yang tiba-tiba menyimpan beban dunia.
Sheila memandangi pintu kamar mandi tertutup. Galih duduk di ujung tempat tidur, menunggu.
“Kamu mau aku temani?” tanya Galih pelan.
Sheila menggeleng. “Aku rasa aku harus sendiri.”
Galih mengangguk. “Aku tunggu di sini.”
Waktu berjalan lambat. Setiap detik terdengar seperti bunyi jam yang lebih keras dari biasanya.
Sheila berdiri di depan cermin, memandang bayangannya sendiri. Wajah yang selama ini tegas, kini terlihat retak. Bukan karena lemah. Tapi karena terlalu banyak pertanyaan di kepalanya.
Ia membuka kemasan test pack dengan tangan sedikit gemetar, lalu menarik napas panjang sebelum masuk ke tahap yang selama ini hanya ia baca di forum-forum kesehatan.
Tiga menit.
Ia duduk di lantai, punggung bersandar ke dinding, lutut ditarik ke d**a. Detik pertama. Detik kedua. Detik ketiga.
Lalu garis pertama.
Garis kedua.
Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Sheila keluar dengan mata sembab dan napas tak stabil.
Galih berdiri. “Hasilnya?”
Sheila tidak langsung menjawab. Ia hanya berjalan mendekat, berdiri di depan Galih, lalu menyodorkan test pack itu ke tangannya.
Galih menatap dua garis merah terang di sana.
Keduanya diam.
Lalu Galih menatap Sheila.
“Kita...?” bisiknya.
Sheila mengangguk, dan saat itu juga air matanya jatuh lagi.
Tapi kali ini bukan karena takut. Bukan karena panik.
Melainkan karena rasa yang tidak bisa disederhanakan oleh bahasa.
Sesuatu sedang tumbuh di dalam dirinya.
Sesuatu yang tidak mereka rencanakan, tapi tidak juga mereka tolak.
Galih mendekap Sheila, dan dalam pelukan itu, ia berkata pelan, “Aku nggak tahu apa aku akan jadi ayah yang hebat. Tapi aku janji, aku akan jadi ayah yang selalu ada.”
Sheila menangis di dadanya.
“Aku juga takut, Galih,” gumamnya.
“Kita bisa takut bareng,” jawab Galih. “Asal bareng.”
Hari itu mereka tidak bekerja.
Mereka hanya duduk di lantai ruang tengah, berbagi teh hangat, dan membicarakan semua kemungkinan.
“Apa kamu pengen anak perempuan?” tanya Sheila.
Galih tersenyum. “Nggak tahu. Tapi kalau anak perempuan, aku pengen dia punya keberanian kamu.”
Sheila tertawa pelan. “Dan kalau laki-laki, dia harus punya kesabaran kamu.”
Galih mengangguk. “Dan kalau dia bukan keduanya, setidaknya dia tahu dia dicintai dari hari pertama.”
Mereka menulis nama-nama di secarik kertas. Mereka menertawai ide nama-nama aneh. Mereka terdiam lama saat membahas siapa yang harus mereka beri tahu duluan.
Dan saat malam datang, Sheila menyandarkan kepala di d**a Galih yang mulai hangat karena emosi.
“Ini... bukan kebetulan ya?” gumamnya.
Galih mencium keningnya. “Ini... jawaban.”
agi itu hujan turun ringan, seperti tirai tipis yang menggantung di langit Jakarta. Bukan hujan deras yang menggulung dunia, tapi jenis hujan yang diam-diam mengetuk jendela dan meminta diperhatikan.
Di meja makan, dua cangkir teh hangat berembun. Galih menatap cangkirnya dengan tangan menyilang di depan d**a. Sheila duduk di seberangnya, rambutnya masih lembap karena baru mandi. Di antara mereka, sebuah kertas berisi jadwal dokter kandungan baru tergeletak.
“Kamu yakin sama tempat ini?” tanya Galih, akhirnya membuka percakapan.
Sheila mengangguk. “Kata Devi, dokternya baik dan nggak terlalu judging. Aku... butuh itu.”
Galih tersenyum kecil. “Kamu takut dihakimi?”
Sheila mengangkat bahu. “Bukan takut. Lebih ke... aku belum terbiasa. Dengan semua ini.”
Galih menjulurkan tangannya, menggenggam tangan Sheila yang diam di atas meja. “Kita belajar bareng.”
“Kalau ternyata... aku belum bisa nerima semua ini dengan utuh, kamu bakal kecewa?”
Galih menatapnya lama. “Sheil, kita nggak punya standar soal jadi orang tua. Kita cuma perlu jujur satu sama lain. Itu cukup.”
Sheila mengangguk pelan. “Oke.”
Mereka sampai di klinik menjelang siang. Ruang tunggunya hangat, dipenuhi aroma kayu dan rempah dari diffuser. Tidak ada suara bising, hanya musik instrumental yang mengalun dari speaker kecil di pojok ruangan.
Sheila menggenggam lengan Galih erat. Wajahnya tegang.
Galih berbisik, “Kamu kelihatan kayak mau wawancara kerja.”
Sheila tertawa pendek. “Rasanya lebih menegangkan dari itu.”
Tak lama, nama Sheila dipanggil. Mereka masuk berdua ke ruang pemeriksaan. Dokter perempuan muda dengan senyum lembut menyambut mereka.
“Selamat siang, Sheila... Galih. Silakan duduk.”
Sheila duduk perlahan di atas ranjang periksa. Galih duduk di kursi samping, jaraknya hanya sejengkal.
Setelah perkenalan, dokter menjelaskan proses pemeriksaan awal.
“Kita cek dulu lewat USG ya. Kalau memang sesuai perkiraan, usia kehamilan mungkin sekitar lima sampai enam minggu.”
Sheila mengangguk. Nafasnya pelan. Tangannya dingin.
Saat gel dioleskan ke perutnya dan layar menyala, ruangan itu mendadak senyap.
Dan kemudian—titik kecil berdenyut muncul di layar. Seolah semesta sedang mengetuk mereka dari dalam.
“Ini... kantung kehamilan,” kata sang dokter. “Masih kecil sekali, tapi sehat. Denyutnya bagus.”
Sheila menatap layar itu dengan mata berkaca. Galih, yang duduk di samping, mencengkeram sisi ranjang dan menahan napas.
Dia melihatnya.
Sesuatu yang belum berbentuk tapi sudah begitu nyata.
Detik itu, Sheila menoleh ke Galih.
Dan keduanya sama-sama tahu: hidup mereka tidak akan sama lagi.
Di mobil, Sheila diam sepanjang perjalanan. Wajahnya menatap keluar jendela, mengikuti tetes hujan yang meluncur turun perlahan.
Galih memecah keheningan. “Kamu... oke?”
Sheila mengangguk, lalu berkata pelan, “Aku nggak nyangka aku bisa ngerasa segini... rapuh.”
Galih menoleh sesaat. “Rapuh bukan berarti lemah, Sheil.”
“Bukan. Tapi berarti ada sesuatu yang penting sedang tumbuh. Dan aku takut... aku nggak cukup kuat buat jaga itu.”
Galih menggenggam tangannya dengan satu tangan sambil tetap menyetir.
“Kita jaga sama-sama.”
Sheila menatap Galih, dan senyum pelan muncul di bibirnya. “Kamu pengen tahu hal aneh yang aku pikirin waktu lihat layar tadi?”
“Apa?”
“Aku mikir... anak kita bakal punya alis kamu.”
Galih tertawa kecil, lega. “Kamu suka alis aku?”
Sheila menyandarkan kepalanya di bahu Galih. “Suka banget. Dari dulu.”
Malam itu, mereka menghabiskan waktu di balkon kecil apartemen mereka. Di antara lampu-lampu kota yang gemerlap, dua kursi rotan, dan secangkir teh, dunia terasa lebih pelan.
“Kamu pikir... kita bakal jadi orang tua kayak gimana?” tanya Sheila, pelan.
Galih berpikir sebentar. “Aku harap kita jadi orang tua yang... bisa bilang ‘maaf’ kalau salah. Dan yang tahu kapan harus diam.”
“Dan aku pengen kita jadi orang tua yang nggak maksa anaknya buat jadi kuat terus. Yang ngajarin anak kalau nangis itu nggak dosa.”
Galih menoleh ke arah Sheila, lalu mencium jemarinya satu per satu.
“Anak kita beruntung punya kamu.”
Sheila menggeleng pelan. “Aku yang beruntung punya kamu. Kalau dulu aku ketemu orang lain... aku nggak yakin aku bisa jadi begini.”
Galih menatapnya lekat-lekat. “Sheila, kamu yang bikin aku percaya bahwa patah hati bisa disembuhkan dengan kehadiran. Kamu rumah. Dan sekarang... kamu juga tempat hidup baru dimulai.”
Air mata jatuh di pipi Sheila. Ia tidak menyekanya.
“Aku... akhirnya paham, Galih. Semua luka yang dulu... ternyata sedang menyiapkan ruang untuk hari ini.”
Galih memeluknya erat.
Dan di tengah malam Jakarta yang masih basah karena hujan sore, dua orang itu duduk lama. Tak berbicara banyak. Tapi perasaan mereka mengalir deras seperti sungai: tenang, penuh, dan menuju kehidupan yang baru.