Bab 42

1482 Kata
Udara pagi itu terasa lebih jernih dari biasanya. Jakarta baru saja diguyur hujan semalaman, dan daun-daun di balkon Sheila dan Galih seperti bernapas lega. Di meja makan, ada semangkuk bubur ayam, telur rebus, dan secangkir teh hangat. Sheila menatap semangkuk bubur itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. “Kayaknya... aku nggak bisa makan ini,” gumamnya pelan. Galih menoleh dari dapur, mengangkat alis. “Kamu mual lagi?” Sheila mengangguk pelan sambil memegang perut bagian atas. “Nggak separah kemarin sih. Tapi... kayak nggak sreg aja.” Galih mendekat, duduk di sampingnya, lalu berkata sambil tersenyum, “Mungkin si kecil nggak suka bubur ayam.” Sheila menatapnya. “Tapi kemarin suka banget nasi goreng tek-tek.” “Mungkin dia mood-nya kayak kamu,” canda Galih. Sheila tertawa, tapi wajahnya tetap lelah. Matanya sedikit sayu, dan kulitnya terlihat lebih pucat. Tapi ada sesuatu yang baru: cara ia memegang perutnya diam-diam saat bicara. Sebuah gerakan yang lembut, penuh kesadaran. Galih menyentuh punggung tangannya. “Sheil... kamu tahu kamu boleh istirahat dari semuanya, kan?” Sheila mengangguk pelan. “Tapi... ada banyak hal yang harus disiapkan. Rumah Puan lagi jalan proyek penting. Dan belum lagi urusan artikel bulanan.” “Kamu nggak harus jadi segalanya sekarang.” Sheila menunduk. “Aku cuma nggak mau kehilangan kendali.” Galih meraih wajahnya dengan kedua tangan. “Kita nggak kehilangan apa pun, Sheil. Kita sedang memberi ruang buat sesuatu tumbuh.” Sheila menarik napas panjang, lalu memejamkan mata sejenak. “Oke. Hari ini aku cuma akan mandi, makan, dan tidur. Itu aja.” Galih tersenyum. “Progress.” Siang itu, Devi datang membawa dua box makanan sehat dan segelas jus jambu merah. “Sheil, ini kamu harus coba. Katanya bagus buat yang lagi mual dan kurang darah,” katanya sambil membuka kotak dan menyusunnya di meja makan. Sheila duduk di sofa, memakai sweater longgar dan celana santai. Galih sedang menyalakan diffuser. “Kamu serius?” tanya Devi, matanya berbinar, “kamu beneran... hamil?” Sheila hanya mengangguk pelan, senyumnya malu-malu. “Baru beberapa minggu sih...” Devi langsung duduk di sampingnya dan memeluknya erat. “Ya ampun, aku seneng banget! Tapi juga kayak... nggak percaya.” Galih ikut duduk di kursi seberang. “Kita juga belum percaya sepenuhnya.” “Tapi kamu bahagia, kan?” tanya Devi pada Sheila. Sheila diam sejenak. Lalu menjawab jujur, “Aku bahagia. Tapi aku juga takut. Dan kadang, kedua perasaan itu datang bersamaan.” Devi menggenggam tangannya. “Itu wajar. Kamu nggak sendirian.” Sheila menatap matanya, dan pelan-pelan, bahunya merosot turun seolah beban dari dalam d**a mulai reda. Malam itu, mereka berbaring bersebelahan di tempat tidur. Lampu temaram, suara detak jam, dan keheningan yang nyaman. Galih menyentuh perut Sheila yang masih rata. “Kamu udah mikir mau kasih tahu siapa dulu?” Sheila menatap langit-langit. “Kayaknya Mama dulu. Tapi... aku belum tahu gimana reaksinya.” Galih tak langsung menjawab. Ia mengusap pelan punggung Sheila. “Kalau kamu butuh aku, aku bisa temani ngomong.” Sheila mengangguk. “Tapi aku pengen coba sendiri dulu. Aku pengen Mama tahu... aku bukan anak kecil lagi.” Galih mencium pelan bahu Sheila. “Apa pun yang terjadi, kamu selalu cukup.” Keesokan harinya, Sheila menelepon ibunya. Telepon itu singkat. Tidak ada tangis. Tidak juga pelukan melalui suara. Tapi ada sesuatu yang berubah: ibunya tidak lagi menyuruh Sheila berpikir ulang. “Apa kamu yakin bisa menjalani ini?” tanya suara dari ujung sana. Sheila menjawab pelan tapi mantap. “Nggak yakin. Tapi aku tahu aku akan berusaha.” Dan untuk pertama kalinya, ibunya menjawab, “Kalau kamu butuh apa-apa, kasih tahu Mama.” Setelah menutup telepon itu, Sheila duduk di balkon. Matahari menyorot wajahnya yang masih lelah tapi lebih damai. Galih datang membawa dua gelas infused water, lalu duduk di sampingnya. “Gimana?” “Lebih baik dari yang aku bayangkan.” Galih mengangguk. “Kamu makin hebat.” Sheila tertawa. “Aku makin mual.” Mereka saling menatap. Dan dalam tatapan itu, tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada tuntutan. Hanya satu keyakinan yang tumbuh perlahan: Bahwa menjadi orang tua bukan soal kesiapan yang sempurna. Tapi soal keberanian untuk tetap bertumbuh. Bersama. Hari itu matahari muncul malu-malu dari balik jendela. Cahaya pagi menyentuh lantai kayu ruang tamu seperti sapuan kuas air tipis yang menenangkan. Tapi tak ada yang tenang di dalam tubuh Sheila. Ia meringkuk di sofa, mengenakan kaus kebesaran dan legging hitam. Bantal kecil ia peluk erat, sementara wajahnya mengerut karena mual yang datang dan pergi sesuka hati. Galih muncul dari dapur, membawa roti panggang dan segelas teh herbal. “Coba makan dikit, ya?” ucapnya lembut. Sheila menggeleng pelan. “Kayaknya... bau rotinya bikin tambah pusing.” Galih duduk di karpet di depannya, menaruh piring di meja. “Aku bisa ganti. Mau pisang? Atau biskuit?” Sheila menutup mata. “Mau peluk aja.” Galih tersenyum. Ia berdiri, lalu duduk di ujung sofa, menarik Sheila perlahan agar bersandar ke dadanya. “Sheil...” “Ya?” “Aku tahu tubuh kamu lagi kerja keras banget sekarang. Tapi kamu juga boleh istirahat, tahu?” “Kalau bisa ganti shift, aku bakal minta kamu gantian hamil seminggu aja,” gumamnya. Mereka tertawa kecil bersama. Sheila mendongak. “Galih?” “Hm?” “Aku ngerasa tubuhku bukan milikku akhir-akhir ini. Aku bangun bukan jadi aku. Aku makan bukan karena pengen. Aku muntah tanpa aba-aba. Rasanya... aneh.” Galih menunduk, mengecup keningnya. “Tubuh kamu sedang jadi rumah, Sheil. Rumah paling pertama buat seseorang yang kita belum lihat.” Sheila terdiam. Lalu ia berkata lirih, “Aku cuma takut... kehilangan diri sendiri.” Galih mengusap lengannya. “Kalau kamu nyasar, aku bakal jadi peta. Kalau kamu jatuh, aku jadi alas. Dan kalau kamu lelah... aku jadi tempat rebah.” Sheila menutup matanya, membiarkan air mata jatuh diam-diam. Di hari keempat mualnya tak kunjung reda, Sheila akhirnya bersedia makan bubur labu buatan Galih. Mereka duduk di meja makan, dan Galih dengan sabar menyuapkan sendok demi sendok. “Dikit lagi,” ucapnya pelan, seperti membujuk anak kecil. Sheila membuka mulut setengah malas. “Kalau kamu gak cinta aku, kamu gak bakal kuat liat aku kayak gini.” Galih tertawa. “Kamu itu paket lengkap. Lagi cantik, aku cinta. Lagi lemes, aku cinta. Lagi muntah, cinta juga... walau baunya agak bikin mikir ulang.” Sheila melempar tatapan tajam yang tak sungguh marah. “Bercanda,” kata Galih cepat. “Cinta nggak akan berhenti hanya karena aroma ginger dan kunyit menyatu.” Sheila mengunyah pelan. “Kamu tahu... bagian teraneh dari semua ini?” “Apa?” “Aku bisa nangis gara-gara nonton iklan sabun bayi.” Galih membelalak. “Yang ada bayi guling-guling di kasur dan emaknya senyum terus itu?” Sheila mengangguk, cemberut. “Mukanya bersih banget. Aku liat cermin aja takut.” Galih menggenggam tangannya. “Kamu jauh lebih indah dari semua ibu-ibu di iklan. Kamu nyata. Kamu berantakan dan tetap kuat. Itu cantik yang sebenarnya.” Sore itu, Sheila memutuskan untuk mencatat semua perasaannya di buku kecil. Bukan untuk dibaca siapa-siapa. Tapi agar dirinya sendiri tak lupa: bahwa pernah ada hari-hari seperti ini—di mana ia menangis tanpa alasan, memarahi Galih karena menaruh sendok di tempat yang “salah”, dan merasa sangat sendiri meski dipeluk setiap malam. “Hari ini aku marah karena lemari es kosong. Padahal Galih baru belanja kemarin. Aku nggak ngerti kenapa. Tapi aku merasa lapar dan sedih dan lelah... dalam satu napas. Galih cuma peluk aku. Dan aku nangis. Lalu tidur.” Galih menemukan catatan itu malam harinya, terbuka di meja kerja. Ia tak membacanya semua, hanya satu kalimat terakhir: “Kalau ini harga yang harus kubayar untuk memelukmu lebih erat nanti, aku siap. Tapi peluk aku sekarang juga, ya?” Di minggu ke-8, Sheila mulai merasa sedikit lebih baik. Mualnya belum hilang, tapi mood-nya mulai stabil. Galih mengajaknya berjalan sore di taman kompleks. Udara sedikit basah, aroma rumput menguar. Mereka berjalan pelan sambil bergandengan tangan. “Kamu udah mikir nama?” tanya Galih tiba-tiba. Sheila menoleh. “Serius?” “Ya. Nggak harus sekarang sih. Tapi aku udah mikir kalau anak laki-laki... aku suka nama ‘Raka’.” Sheila berpikir. “Raka bagus. Kuat, tapi hangat.” “Kalau perempuan?” Sheila memandang langit. “Laras. Biar hidupnya selalu selaras.” Galih tersenyum. “Laras dan Raka. Kayak novel klasik.” “Ya. Kita hidup kayak fiksi. Tapi rasanya nyata banget.” Galih berhenti berjalan, memutar tubuh Sheila menghadapnya. “Kita berhasil sampai sini, Sheil.” Sheila mengangguk. “Dan kita akan sampai lebih jauh.” Mereka saling memeluk di tengah taman yang mulai sepi. Cahaya senja menyinari wajah mereka dari samping, memberi warna keemasan pada rambut Sheila yang ditiup angin. Malam itu, Sheila menulis lagi di bukunya. “Hari ini aku merasa tubuhku bukan musuhku. Aku tahu dia sedang berubah. Tapi aku juga tahu... aku punya kamu. Dan selama kamu ada, aku bisa bertahan jadi rumah.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN