Bab 43

1711 Kata
Hari itu hujan datang tanpa aba-aba. Deras, padat, seperti memaksa semua orang untuk berhenti sejenak dan melihat ke dalam. Di dalam apartemen kecil mereka yang hangat, Sheila duduk di sofa sambil memeluk bantal, kakinya diselipkan di bawah selimut tipis. Di tangannya ada buku bacaan tentang kehamilan trimester pertama, tapi matanya kosong menatap halaman yang tak benar-benar dibaca. Galih muncul dari dapur membawa sepiring roti bakar dan potongan buah. “Kamu belum makan siang,” katanya pelan, meletakkan piring di meja. Sheila mengangguk kecil. “Nggak lapar.” Galih duduk di sebelahnya, lalu menatap perut istrinya yang masih rata. “Kamu tahu... aku bahkan belum bisa bayangin bentuknya. Tapi aku ngerasa udah kenal dia.” Sheila tersenyum tipis. “Kamu selalu lebih cepat menyayangi apa pun yang belum kelihatan.” Galih tak membalas. Ia meraih tangan Sheila, lalu berkata, “Kamu capek?” Sheila menoleh, dan untuk pertama kalinya hari itu, wajahnya benar-benar terbuka. “Bukan capek karena mual. Tapi capek karena... aku ngerasa semuanya berjalan pelan tapi tekanan datang cepat.” Galih mengernyit. “Tekanan dari siapa?” Sheila menarik napas. “Tadi pagi Mama kirim pesan. Nanya kenapa kita belum bikin pengumuman. Kenapa belum sounding ke keluarga besar. Katanya, ini kabar baik—harus dibagi.” Galih diam sejenak. “Kamu belum siap?” Sheila menggeleng. “Bukan belum siap. Tapi aku... pengen punya waktu buat mencintai ini dulu, secara pribadi. Tanpa sorotan. Tanpa opini. Tanpa orang yang datang lalu pergi sambil komentar soal bentuk perut atau cara aku jalan.” Galih mengangguk perlahan. “Kita nggak punya utang apa-apa ke publik, Sheil. Bahkan ke keluarga pun... kita bisa pilih cara mencintai yang paling nyaman buat kita.” Sheila menatap mata suaminya, lalu tersenyum samar. “Kamu tahu kenapa aku bisa bernapas hari ini?” “Kenapa?” “Karena kamu ada.” Keesokan harinya, mereka berdua duduk bersama di ruang tengah, memandangi kalender. Sheila memegang pulpen, mencoret satu persatu jadwal kerja dan acara yang harus ia tangguhkan. “Aku ngerasa bersalah ke tim di Rumah Puan,” gumamnya. Galih menoleh. “Mereka tahu kamu sedang membangun kehidupan yang baru. Kamu nggak perlu minta maaf karena berhenti sejenak.” “Tapi tetap aja. Aku ngerasa... ninggalin tanggung jawab.” “Bukan ninggalin. Cuma memindahkan prioritas.” Sheila mengangguk pelan. “Kamu bisa bantu isi slot mentoring?” Galih tertawa kecil. “Kalau kamu percaya aku bisa jadi mentor yang gak bikin peserta tidur... aku coba.” Sheila tertawa juga. Suara tawanya ringan, sedikit serak, tapi hidup. “Galih...” “Hm?” “Kalau nanti kita punya anak, kamu pengen jadi ayah yang kayak gimana?” Galih menatap jauh ke arah jendela yang diselimuti hujan. “Aku pengen jadi ayah yang didengar. Bukan karena suara aku keras, tapi karena anak kita tahu aku nggak akan pergi meski dia cerita yang paling buruk.” Sheila mengangguk. “Aku pengen jadi ibu yang gak selalu kuat. Tapi selalu jujur.” “Kayak kamu sekarang?” Sheila tersenyum. “Mungkin.” Sore itu, mereka menerima undangan makan malam dari keluarga besar Galih. Alasannya ulang tahun keponakan, tapi Sheila tahu akan ada pertanyaan-pertanyaan yang datang seperti tusukan kecil: basa-basi yang berubah jadi tekanan. “Kita datang?” tanya Galih sambil menyisir rambutnya di depan cermin. Sheila menatap pantulan dirinya yang mengenakan dress longgar berwarna hijau zaitun. Ia tidak menyembunyikan perutnya, tapi juga belum menonjolkan. “Kita datang. Tapi kita nggak cerita kecuali mereka tanya.” Galih memandangnya dari cermin. “Kamu yakin bisa hadapi semua pertanyaan itu?” Sheila menarik napas dalam. “Hari ini, iya.” Di acara itu, semua terasa seperti biasa—tertawa keras, suara piring beradu, anak-anak berlari. Tapi sorot mata beberapa kerabat memicing pelan, menakar dari kejauhan. Salah satu bibi Galih mendekat sambil tersenyum lebar. “Sheila, kamu makin glowing. Tapi kok... agak lain ya?” Sheila tersenyum, sopan. “Mungkin karena lebih banyak istirahat sekarang.” Bibi itu menyipit. “Nggak hamil, kan?” Galih menepuk lembut punggung Sheila. “Kalau pun iya, kita pengen cerita pas semua udah stabil, Bi.” Bibi itu terkekeh. “Ya ampun, zaman sekarang kok pake nunggu stabil. Zaman dulu, yang penting kabar baik disebar.” Sheila menahan napas. Tapi Galih sudah lebih dulu bicara, tenang. “Kami lebih nyaman kayak gini dulu. Nanti juga semua akan tahu.” Dan itu cukup. Bibi itu pergi, membawa rasa penasaran, tapi Sheila merasa... cukup terlindungi. Malam itu, saat mereka pulang, Sheila memeluk Galih lama di dalam mobil. “Terima kasih.” “Buat apa?” “Buat nggak membuat aku menjelaskan diri saat aku belum siap.” Galih memeluk balik. “Tugas aku menjaga kamu. Bukan menuntut kamu bicara.” Malamnya, sebelum tidur, mereka kembali duduk di balkon, seperti kebiasaan mereka sejak Sheila hamil. “Kamu sadar nggak?” bisik Sheila. “Apa?” “Dunia udah mulai nanya. Dan itu artinya... waktu kita tinggal sedikit sebelum semua ini bukan rahasia lagi.” Galih memandang ke arah lampu kota yang berkerlap-kerlip. “Kita nggak harus mengumumkan. Kita cuma perlu membagi.” “Dan kita pilih siapa yang layak untuk tahu,” lanjut Sheila. Galih menggenggam tangan Sheila yang mulai hangat. “Pelan-pelan, kita akan sampai,” bisiknya. Dan di tengah malam yang lembut itu, mereka tak lagi merasa dunia terlalu bising. Karena di dalam mereka—sudah ada ruang baru yang sedang tumbuh: bukan hanya untuk bayi, tapi untuk keberanian. Untuk memilih. Untuk menyimpan. Untuk mencintai... tanpa harus dilihat. Pagi itu, hujan belum juga turun, tapi langit sudah kelabu sejak subuh. Udara terasa berat, dan daun-daun di balkon tidak bergerak. Di dalam apartemen, keheningan terasa lebih tebal dari biasanya. Galih bangun lebih dulu. Ia berjalan pelan menuju dapur, membuka kulkas, dan menyadari bahwa s**u almond yang biasa Sheila minum sudah habis. Ia menuliskan di kertas kecil: "s**u almond, roti gandum, buah pir." Sheila belum bangun. Biasanya, dia akan bangun bersamaan, atau minimal setengah jam setelah Galih duduk membaca berita pagi. Tapi hari itu, ranjang di sebelahnya masih tak bergerak. Galih melirik jam. Sudah pukul 08.12. Pelan-pelan ia masuk ke kamar. Lampu masih redup. Sheila tertidur dalam posisi miring ke kiri, wajahnya menghadap ke arah jendela yang tertutup tirai. Selimut menyelimuti tubuhnya sampai leher. “Sheil,” bisik Galih, sambil duduk di sisi tempat tidur. Ia menyentuh bahu Sheila dengan lembut. “Kamu oke?” Sheila membuka mata perlahan. Bola matanya tampak keruh, dan kulit di bawah matanya menggelap. “Enggak tidur nyenyak,” gumamnya. “Mual lagi?” “Lebih ke... gelisah. Kayak ada yang nggak beres, tapi nggak tahu apa.” Galih menyentuh keningnya. “Demam?” Sheila menggeleng. “Nggak. Cuma capek. Tapi... bukan capek biasa.” Galih tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggenggam tangan istrinya erat-erat. Setelah sarapan yang dipaksakan—roti panggang setengah dimakan dan teh yang hanya diteguk dua kali—Sheila duduk di sofa ruang tamu sambil memeluk bantal. Galih membuka laptopnya di meja makan, menyelesaikan satu dokumen kerja sama yang terlambat dua hari. Hening. Hening yang terasa bukan karena damai, tapi karena ada sesuatu yang mengganggu di bawah permukaan. Sheila akhirnya bicara. “Galih... kamu pernah merasa takut gagal nggak?” Galih berhenti mengetik. Menoleh. “Kapan?” “Sekarang. Jadi suami. Jadi calon ayah. Jadi semua yang kamu coba kejar... tapi nggak yakin bisa kamu pegang.” Galih menutup laptopnya pelan. “Sering. Bahkan sampai sekarang.” Sheila menatapnya. “Terus kamu ngapain?” Galih berpikir sejenak. “Aku berhenti nuntut diriku sempurna. Dan mulai nyadar... bahwa gagal itu bukan akhir. Tapi tanda aku sedang belajar.” Sheila menggigit bibir. Matanya berkaca-kaca. “Aku takut... aku nggak bisa jadi ibu yang baik.” Galih berdiri, mendekatinya, lalu duduk di lantai tepat di depan Sheila. “Kamu tahu gak?” katanya pelan. “Ibu yang baik bukan yang selalu tahu harus ngapain. Tapi yang mau terus ada, meski bingung. Meski takut. Dan kamu udah lakukan itu sejak awal.” Sheila menunduk. Air matanya jatuh ke bantal. “Aku ngerasa gak cukup.” Galih menarik tubuhnya ke pelukannya. “Kamu cukup. Bahkan lebih.” Sore itu, mereka berjalan pelan di taman bawah apartemen. Galih memegangi tangan Sheila dengan sabar, menyesuaikan langkah dengan irama tubuh istrinya yang sedang belajar berdamai dengan perubahan. “Sheil, kamu ingat waktu kita masih pacaran?” tanya Galih, tiba-tiba. Sheila tertawa pelan. “Yang mana? Yang kita diem-dieman tiga minggu cuma gara-gara kamu telat balas chat dua jam?” Galih ikut tertawa. “Dan kamu marah karena aku bilang ‘aku ketiduran’ padahal terakhir online jam satu pagi.” “Waktu itu... rasanya kayak hidup aku bakal runtuh,” bisik Sheila. “Dan sekarang?” tanya Galih, menggenggam tangannya lebih erat. “Sekarang... aku tahu, ada hal-hal yang jauh lebih besar dari sekadar balasan chat. Seperti belajar menerima tubuh yang berubah. Atau... menerima rasa takut yang datang tanpa alasan.” Galih menatapnya. “Dan kamu nggak sendirian di semua itu.” Malamnya, setelah mandi dan makan malam, Sheila duduk di tempat tidur sambil menyisir rambutnya. Galih masuk dengan segelas air hangat. “Untuk besok, kita jadi kontrol ke dokter?” Sheila mengangguk. “Kamu bisa izin setengah hari?” “Udah aku ajukan. Aku bahkan udah siapin daftar pertanyaan buat dokter.” Sheila tertawa. “Kamu tuh... terlalu serius.” “Bukan serius,” balas Galih. “Aku cuma terlalu cinta.” Sheila memandang suaminya lama. Lalu pelan-pelan berbaring, menatap langit-langit kamar. “Kamu pikir... kalau suatu hari nanti anak kita tahu semua keraguan yang pernah aku punya... dia bakal kecewa?” Galih merangkak naik ke tempat tidur, lalu berbaring di samping Sheila. “Nggak. Justru dia akan tahu... bahwa kamu memilih mencintainya, meski takut. Dan itu lebih berani dari apa pun.” Dan malam itu, di antara napas yang lambat dan keheningan yang mulai terasa damai, Sheila meletakkan tangan di perutnya. Masih rata. Tapi terasa penuh. Seperti ada bisikan yang hanya bisa didengar oleh seorang ibu: "Aku sedang datang. Terima kasih sudah menunggu." Dan di balik semua kegelisahan, kelelahan, dan keraguan yang datang silih berganti—Sheila belajar bahwa cinta tidak selalu bersuara keras. Kadang, ia datang sebagai kesediaan untuk bangun pagi-pagi, meski tubuh meminta istirahat. Sebagai pelukan di tengah hari yang membuat napas terasa berat. Atau sebagai tatapan mata suami yang berkata, tanpa suara: kita akan sampai, dan kita akan sampai bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN