Hari itu langit cerah tanpa awan. Udara Jakarta terasa lebih ringan dari biasanya, seperti memberi jalan bagi sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di dalam mobil yang melaju pelan menuju rumah sakit, Sheila memegang amplop kecil berisi hasil pemeriksaan darah minggu lalu. Tangannya dingin, meski AC mobil tidak terlalu dingin.
Galih menyetir dalam diam. Tapi bukan diam yang dingin—lebih ke diam yang penuh kehati-hatian. Sesekali ia melirik ke arah Sheila.
“Kamu yakin masih mau USG sekarang?” tanyanya perlahan, seolah bertanya apakah Sheila masih mau melanjutkan perjalanan hidup mereka.
Sheila mengangguk. “Iya. Aku pengen lihat. Walau mungkin... belum banyak yang bisa dilihat.”
Galih tidak menjawab. Tapi senyumnya muncul. Dan dari cara ia menggenggam setir lebih ringan, Sheila tahu: ia juga ingin melihat.
Ruangan dokter beraroma antiseptik seperti biasa. Tapi hari itu terasa berbeda—mungkin karena kursi Sheila ditinggikan, atau karena lampu langit-langit terlalu terang. Atau karena jantungnya berdegup lebih keras dari biasanya.
“Silakan tiduran, Bu Sheila,” kata dokter, sambil meletakkan sarung tangan. “Kita coba lihat ya perkembangan janinnya.”
Galih duduk di sisi ranjang. Tidak memegang tangan Sheila, tapi jarinya menyentuh ujung selimutnya—cukup untuk menunjukkan: aku di sini.
Saat layar menyala, Sheila menahan napas. Dan di sana, samar tapi jelas, tampak bentuk kecil—lebih besar dari kantung minggu lalu.
“Ini dia,” ujar dokter pelan. “Sudah terlihat kepala dan punggung. Usianya sekitar sepuluh minggu. Jantungnya kuat.”
Suara itu datang—duk duk duk duk duk... cepat, kuat, seperti ketukan pintu dari dalam.
Sheila menatap layar dengan mata basah. “Itu... dia?”
Dokter mengangguk. “Iya. Dan dia sehat.”
Galih menunduk, menahan emosi. “Aku gak pernah nyangka suara sekecil itu bisa bikin aku ngerasa utuh.”
Sheila mencengkeram ujung ranjang. “Aku takut... tapi aku juga nggak mau berhenti ngerasain ini.”
Di mobil, Sheila tak banyak bicara. Tangannya masih memegang foto hasil USG, seolah itu benda paling rapuh dan paling penting sekaligus.
“Aku pengen simpan ini di meja kerja,” katanya tiba-tiba.
Galih melirik. “Yang bener?”
Sheila mengangguk. “Biar aku inget, pas hari terasa berat... bahwa aku sedang bawa sesuatu yang luar biasa.”
Galih tersenyum. “Aku juga pengen bikin salinannya. Buat ditaruh di dompet.”
Sheila tertawa kecil. “Kamu bakal jadi ayah yang sentimentil, ya?”
Galih mengangguk. “Nggak apa-apa. Selama kamu tetap jadi ibu yang kuat.”
Sore itu, mereka duduk di ruang tengah, membuka laptop dan melihat-lihat desain kamar bayi. Belum serius. Belum memilih. Hanya menelusuri.
“Kamu pengen tembok warna apa?” tanya Sheila.
“Abu-abu lembut,” jawab Galih cepat.
“Kenapa?”
“Netral. Tapi tenang. Kayak kamu.”
Sheila tersipu. “Aku lebih suka putih tulang.”
“Bisa kompromi,” Galih tersenyum. “Setengah dinding abu-abu, setengah putih. Biar anak kita belajar bahwa hidup itu tentang keseimbangan.”
Sheila mengangguk. “Dan tentang tidak buru-buru.”
Galih menoleh. “Seperti kita sekarang?”
Sheila menjawab pelan, “Seperti kita sekarang.”
Malamnya, saat akan tidur, Sheila berkata lirih.
“Aku ingin bilang ke Devi. Aku siap cerita ke sahabat dulu. Baru keluarga besar.”
Galih menatapnya. “Kamu yakin?”
Sheila mengangguk. “Aku sudah lihat wajahnya hari ini. Meski samar. Tapi aku tahu... dia nyata.”
Galih memeluk Sheila dari samping. “Dan karena dia nyata, kamu merasa kuat?”
Sheila membalas pelukan itu erat. “Bukan. Tapi karena dia nyata, aku nggak bisa pura-pura nggak takut. Dan jujur, itu bikin aku merasa lebih... hidup.”
Galih tertawa pelan. “Kamu selalu bisa bikin takut jadi hal yang indah.”
Dan malam itu, sebelum tidur, Sheila menulis satu kalimat di buku hariannya:
Hari ini aku lihat kamu, Nak. Masih samar. Tapi nyata. Dan hari ini, aku merasa cukup.
Pagi itu hujan turun tipis, seperti taburan ragu yang pelan-pelan jatuh ke atap kota. Suara air menyentuh kaca jendela menjadi latar yang tenang, nyaris seperti musik lembut yang dibuat oleh waktu.
Sheila duduk di meja makan dengan secangkir teh hangat, tangannya memegang ponsel. Di layar, percakapan terakhir dengan Devi masih tergantung di sana, berakhir dengan emoji tawa ringan dan “kapan kita brunch, Bu?”
Ia mengusap perutnya pelan, lalu mengetik:
“Dev, kamu sempat luang hari ini? Aku mau cerita sesuatu.”
Balasan datang tak sampai semenit kemudian:
“Selalu. Rumah atau tempat kamu?”
Sheila mengetik:
“Datang ke sini aja. Aku belum kuat jalan jauh.”
“OTW, bawa roti isi favorit kamu 😘”
Setengah jam kemudian, pintu apartemen terbuka dengan suara langkah ringan yang sudah akrab di telinga Sheila. Devi masuk dengan tote bag besar dan wajah cerah.
“Gue tahu kamu lagi mual, tapi roti isi alpukat-telur tetap juara,” katanya sambil menaruh bungkusan di meja.
Sheila tersenyum, tapi wajahnya menyimpan sesuatu yang tidak biasa. Mata itu—selalu kuat, sekarang terlihat sedikit berkabut. Devi melihatnya sejenak, lalu duduk di seberangnya.
“Ada apa?” tanyanya, langsung masuk tanpa basa-basi.
Sheila menatap sahabatnya. Lalu menarik napas. “Aku hamil, Dev.”
Devi diam. Wajahnya berubah—bukan kaget, tapi seperti sedang mencari cara terbaik untuk menyerap kabar yang tiba-tiba hadir itu.
Lalu, perlahan, matanya membesar dan mulutnya terbuka sedikit.
“Kamu... serius?”
Sheila mengangguk. “Udah masuk minggu ke sepuluh.”
Detik berikutnya, Devi berdiri dan memeluk Sheila erat, terlalu erat. Tak ada kalimat, hanya tubuh yang saling berbagi kejutan dan kehangatan.
“Astaga, Sheil...” bisik Devi. “Kamu... kamu mau ini?”
Sheila terdiam. Lalu menjawab dengan suara pelan, “Aku takut. Tapi ya. Aku mau.”
Devi melepaskan pelukannya, menatap mata Sheila dengan sisa air mata yang mengambang. “Kamu akan jadi ibu yang luar biasa. Kamu tahu itu, kan?”
Sheila menunduk. “Kadang tahu. Kadang... enggak.”
Devi mengangguk pelan. “Sama. Kadang gue juga gak tahu loh kenapa kita bisa bertahan sejauh ini. Tapi... mungkin karena kita belajar buat jujur ke diri sendiri.”
Mereka duduk di ruang tamu, memakan roti perlahan. Galih keluar dari ruang kerja, menyapa Devi dengan senyum hangat.
“Selamat ya, Pak Calon Ayah,” sapa Devi sambil melambaikan tangan.
Galih tertawa. “Makasih. Doain tetap waras ya.”
Mereka bertiga duduk bersama, berbicara ringan. Tentang nama bayi. Tentang makanan yang tiba-tiba jadi musuh. Tentang bagaimana Sheila tidak bisa menonton video lucu tanpa menangis.
“Gue heran,” kata Devi, “lo bisa tetap cantik walau lagi mabok berat.”
Sheila menyender di bahu Galih. “Cantik karena capek. Kayak bunga yang layu karena disiram terus.”
Devi tertawa keras. “Gue bakal kutip itu di IG.”
Siang berganti sore. Devi pulang setelah memeluk Sheila lagi, kali ini lebih lembut. Galih menutup pintu, lalu berbalik dan menatap istrinya yang berdiri diam di depan rak buku.
“Kamu oke?” tanyanya.
Sheila mengangguk. “Lebih ringan. Ternyata... ngomong ke orang yang kamu percaya itu melegakan banget.”
Galih memeluknya dari belakang. “Pelan-pelan ya, Sheil. Kita gak perlu buru-buru bahagia. Kita nikmati dulu tiap detik.”
Sheila menggenggam tangan Galih yang memeluk perutnya dari luar. Lalu berkata pelan, seperti mantra, “Iya. Kita pelan-pelan. Tapi pasti.”
Dan di luar sana, hujan berhenti.
Langit mulai membuka sedikit celah biru di antara awan.
Di dalam, dua orang itu duduk berdampingan, menanti dengan tenang.
Tak ada musik besar, tak ada ledakan kebahagiaan. Hanya cinta yang tumbuh perlahan, bersama waktu.