Bab 45

1224 Kata
Sudah tiga minggu sejak kabar kehamilan itu dibagikan ke keluarga. Dan sejak itu, rumah kecil di lantai lima apartemen mereka mulai berubah—bukan hanya karena Sheila makin sering tertidur di siang hari, tapi karena semua yang dulu terasa normal, sekarang punya makna baru. Pagi itu, Galih membuka tirai lebih lebar. Cahaya matahari masuk langsung ke dalam ruang tengah, memantul ke tanaman monstera yang mulai tumbuh dua helai daun baru. Sheila duduk di sofa, memegangi bagian bawah punggungnya. “Kamu pegal lagi?” tanya Galih sambil berjalan ke arah dapur. Sheila mengangguk, ekspresinya meringis kecil. “Kayak otot di pinggang ditarik pelan-pelan... terus dilepas, terus ditarik lagi.” “Aku buat kompres hangat ya?” “Boleh... tapi nanti. Sekarang cuma pengen duduk dan diem.” Galih menuang teh jahe ke dalam cangkir, lalu membawanya ke meja kecil dekat Sheila. Ia tak banyak bicara. Hanya duduk di karpet, menyandarkan tubuhnya ke sisi sofa. “Baru trimester dua,” gumam Sheila. “Katanya ini fase paling ringan. Tapi kenapa rasanya kayak udah pendakian ke puncak gunung?” “Karena kamu pendaki yang bawa dua napas sekarang,” jawab Galih. Sheila menoleh, menatap wajah suaminya. “Kamu selalu bisa bikin semua terdengar puitis.” “Kalau aku nggak bisa bantu kamu bawa rasa sakitnya, setidaknya aku bisa bantu kamu kasih arti.” Hari itu, untuk pertama kalinya mereka pergi ke toko perlengkapan bayi. Bukan untuk belanja. Hanya untuk melihat-lihat, mencuri bayangan tentang seperti apa hidup mereka beberapa bulan lagi. Sheila berdiri lama di depan satu rak kecil berisi pakaian bayi baru lahir. Semuanya tampak terlalu kecil, terlalu mungil, seperti tak mungkin bisa dikenakan oleh makhluk hidup. “Aku takut,” katanya pelan, sambil menyentuh satu bodysuit putih bersih. Galih berdiri di sampingnya. “Takut apa?” “Takut terlalu sayang sama sesuatu yang belum pernah aku kenal.” Galih menggenggam jemari Sheila. “Justru karena belum kenal, kita punya kesempatan buat belajar mencintai tanpa syarat.” Mereka berjalan pelan ke bagian lain. Kereta dorong. Boks kayu. Kursi makan kecil. Di sudut, Sheila berhenti lagi. Kali ini di depan dinding gantungan mainan gantung untuk ranjang bayi. Tangan Sheila mengarah ke satu dengan bentuk awan dan bintang dari kain wol. “Yang ini... kayak mewakili rasa pelan.” Galih menatap gantungan itu. “Kita beli.” Sheila menoleh. “Baru satu barang?” Galih mengangguk. “Biar kita inget, semua dimulai dari satu langkah.” Malamnya, mereka memasang gantungan itu di atas ranjang mereka. Bukan ranjang bayi—belum. Tapi cukup untuk memberi ruang pada sesuatu yang belum lahir tapi sudah tumbuh di dalam waktu. Sheila berbaring menghadap langit-langit. Matanya belum mau terpejam. Di sampingnya, Galih membacakan satu bab dari buku Ayah dan Bayi, suaranya pelan, nyaris seperti bisikan. “‘Bayi menangis bukan hanya karena lapar, tapi karena dunia terlalu baru untuk dia pahami. Maka tugas pertama orang tua adalah diam bersama bayinya, hingga tangisnya terasa lebih ringan.’” Sheila menoleh. “Itu indah.” Galih mematikan lampu baca, lalu memeluk Sheila dari belakang. “Besok kita kontrol lagi, ya?” Sheila mengangguk. “Aku mulai bisa bayangin bentuk wajahnya.” “Kalau dia mirip kamu, aku bakal kalah saing dari hari pertama.” “Kalau dia mirip kamu, dia bakal punya sabar yang nggak ada habisnya.” Mereka tertawa kecil, lalu terdiam. Dalam keheningan itu, cinta terasa lebih nyata. Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak kehamilan, Sheila tidur nyenyak sampai pagi. Hari itu langit Jakarta seperti menahan napas. Tidak hujan. Tidak panas. Tidak ada angin yang cukup untuk menggoyangkan tirai. Di dalam mobil, Sheila duduk bersandar, matanya menatap kosong ke luar jendela. Galih menyetir dengan tenang. Tangan kirinya menggenggam tangan Sheila yang dingin sejak pagi. Ia belum bicara banyak hari ini. Hanya menatap, hanya mengusap, hanya hadir. “Sheil...” akhirnya Galih bersuara, lembut. “Kalau kamu nggak siap, kita bisa batalin hari ini.” Sheila menggeleng pelan, tapi matanya tetap tak bergerak dari jendela. “Justru karena aku takut... aku harus tahu.” Galih mengangguk. “Aku di samping kamu. Setiap detiknya.” Mereka sampai di klinik lebih awal dari jadwal. Ruang tunggu belum ramai. Seorang ibu muda duduk sendirian di pojok dengan perut besar dan buku di pangkuan. Seorang pria berdiri di depan dispenser, mengisi botol minumnya. Suasana tenang, tapi di kepala Sheila, semuanya terdengar seperti gema. Perawat memanggil nama mereka. Langkah kaki Sheila terasa berat. Seolah tiap langkah adalah tarik-menarik antara “aku bisa” dan “aku nggak yakin”. Di ruang pemeriksaan, dokter menyambut mereka dengan senyum hangat. “Hari ini kita akan coba lihat lebih jelas, ya. Usia janinnya sudah cukup untuk kita lihat detail perkembangannya.” Sheila berbaring perlahan di ranjang periksa. Galih duduk di samping, memegang tangan istrinya tanpa suara. Udara di ruangan terasa terlalu dingin, meski AC tak terlalu kencang. Saat gel dingin menyentuh perutnya, Sheila menahan napas. Dan saat layar menyala, detik itu terasa membeku. Lalu suara itu datang lagi. Cepat. Kuat. Ritmis. Duk-duk-duk-duk... Detak jantung. Detak yang sama, tapi kali ini lebih jelas. Lebih nyata. “Dia sehat,” kata dokter. “Bergerak aktif. Cairan ketuban cukup. Ukuran janin sesuai.” Sheila menutup mata. Satu tetes air mata jatuh ke pelipisnya. Galih mengangkat tangan Sheila ke bibirnya, menciumnya pelan. “Denger, Sheil? Itu suara anak kita bilang, ‘Aku di sini.’” Sheila mengangguk, napasnya berat. “Aku takut kehilangan dia... bahkan sebelum benar-benar mengenalnya.” “Tapi dia belum pergi. Dia masih di sini. Sama kamu. Sama kita.” Di mobil, dalam perjalanan pulang, Sheila akhirnya bicara lebih banyak. “Mimpi itu... aneh. Tapi nyata. Aku kehilangan dia di stasiun kereta. Aku cari ke semua gerbong. Tapi keretanya nggak berhenti. Dan aku cuma bisa lari di peron, sambil teriak namanya yang bahkan belum aku punya.” Galih mengangguk pelan, tidak memotong. “Aku bangun dan ngerasa bersalah. Seolah... aku bukan ibu yang cukup waspada.” “Sheil,” kata Galih, “itu bukan pertanda. Itu cermin dari hatimu yang terlalu sayang. Kadang rasa sayang bikin kita ngerasa bersalah atas hal yang belum terjadi.” Sheila menyentuh perutnya pelan. “Apa dia bisa tahu kalau aku takut?” “Kalau dia bisa dengar apapun dari kamu, aku yakin... dia tahu kamu cinta.” Sore itu, Sheila duduk di balkon dengan selimut di pangkuan. Ia menulis di buku hariannya. “Hari ini aku lihat wajahnya. Masih kecil. Masih samar. Tapi dia menggerakkan tangannya. Seolah bilang, ‘Aku juga takut, Bu. Tapi aku tahu kamu ada di sini.’” Di dalam, Galih mulai menyusun ulang isi lemari di kamar yang akan dijadikan ruang bayi. Ia tak mengganggu. Tak menanyakan. Ia hanya menunggu, memberi ruang. Dan saat malam tiba, saat lampu-lampu mulai menyala satu-satu di kota, Sheila kembali ke dalam. “Aku mau kasih nama,” katanya. Galih menoleh. “Sekarang?” “Bukan nama akhir. Tapi nama panggilan. Supaya... aku bisa bicara ke dia. Supaya aku nggak merasa dia hanya bayangan.” Galih berjalan mendekat, menatap mata Sheila. “Apa namanya?” Sheila tersenyum, lemah tapi utuh. “Awan.” Galih mengerutkan kening sedikit. “Kenapa Awan?” “Karena dia datang pelan. Ringan. Kadang tak terlihat. Tapi mengubah seluruh langit.” Galih memeluk Sheila, dan untuk pertama kalinya sejak mimpi itu, Sheila bisa tertawa lagi. Tertawa karena tahu: takut adalah bagian dari mencintai. Dan mencintai adalah jalan yang mereka pilih untuk sampai. Bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN