Bab 46

1298 Kata
Hari itu langit tak terlalu terang. Jakarta mendung, tapi bukan mendung yang berat. Hanya semacam abu tipis yang melayang-layang, seperti selimut tipis di atas kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Di dalam apartemen, Sheila duduk di karpet ruang tamu, membenamkan punggungnya ke dinding, kedua kakinya dilipat santai ke samping. Tangannya membelai perutnya—bukan refleks, tapi kesadaran. Ia sudah mulai melakukannya lebih sering. Setiap bangun tidur, setiap selesai makan, setiap kali berbicara pada dirinya sendiri. Galih sedang di dapur, membilas gelas-gelas sisa sarapan. Ia menyenandungkan lagu yang tidak selesai, nadanya melayang acak tapi lembut. “Sheil, kamu mau teh peppermint atau chamomile?” “Chamomile,” jawab Sheila, tanpa melihat ke arah dapur. Suara keran berhenti. Suara sendok bertemu keramik terdengar samar. Dan saat itu terjadi. Sedikit. Ringan. Lembut seperti gelembung pecah di permukaan air. Sheila terdiam. Lalu menunduk, meletakkan tangan di perutnya. Satu... dua... Satu lagi. Tidak salah. Itu bukan sekadar gerakan usus atau gas. Itu bukan ilusi. Itu nyata. “Galih,” panggilnya pelan. Tidak teriak. Tidak panik. Tapi ada ketegangan yang tidak bisa ditahan di ujung suaranya. Galih muncul dari dapur, masih memegang cangkir teh. “Kenapa? Kamu mual?” Sheila menggeleng. “Dia... dia gerak.” Galih membeku. “Apa?” “Tadi. Baru aja. Dia gerak. Di sini.” Sheila memegang sisi kanan perutnya, matanya mulai berkaca. Galih meletakkan cangkir di meja, berlutut di hadapannya. “Boleh aku sentuh?” Sheila mengangguk. Ia mengambil tangan Galih dan meletakkannya di tempat yang sama. Mereka menunggu. Satu menit. Dua. Tak ada apa-apa. “Dia... mungkin udah berhenti,” bisik Sheila, kecewa bercampur harap. Galih masih menatap perut itu. “Dia gerak karena kamu tenang. Karena kamu diam. Karena kamu... hadir.” Sheila tertawa pelan, lalu air matanya jatuh. “Aku nggak tahu kenapa aku nangis.” “Karena kamu sadar, ada yang benar-benar hidup di dalam kamu.” Galih memeluknya perlahan, tubuh mereka menyatu di atas lantai ruang tamu yang dingin. Waktu seolah melambat. Dan dalam pelukan itu, janin itu bergerak lagi—lemah, malu-malu, tapi cukup untuk menyentuh ruang batin yang tak bisa diisi oleh siapa pun kecuali dia. Sore itu, mereka tak keluar rumah. Galih membuatkan makanan ringan, Sheila membaca ulang buku kehamilan, lalu mereka menuliskan tanggal di kalender dapur: hari pertama gerakan. “Sheil,” kata Galih sambil menulis. “Apa kamu sadar... sekarang kita bukan cuma pasangan. Kita tim.” Sheila menatapnya. “Tim untuk siapa?” “Untuk seseorang yang belum bisa bicara. Tapi sudah membuat kita saling mendengarkan.” Malamnya, mereka duduk di ranjang, lampu dimatikan, hanya cahaya dari luar jendela menyinari siluet mereka. Di dalam gelap itu, Sheila bergumam. “Aku takut kalau suatu hari... aku terlalu keras kepala. Terlalu keras menuntut. Aku takut anak kita mewarisi bagian terburuk dari aku.” Galih menjawab tanpa ragu, “Aku juga takut. Tapi kamu tahu? Aku lebih percaya, dia akan mewarisi keberanianmu.” “Dan kesabaran kamu,” tambah Sheila. Mereka terdiam. Kemudian Sheila tertawa pelan. “Nanti kita bakal begadang ya. Nggak tidur. Dengerin tangis. Ganti popok.” Galih mengangguk. “Tapi aku yakin... semua rasa capek itu bakal berubah jadi rasa syukur.” Sheila menatapnya. “Kenapa kamu bisa seyakinkan itu?” Galih tersenyum. “Karena kita sudah pernah ke tempat yang gelap. Dan sekarang... kita tahu cara mencari cahaya.” Dan malam itu, sebelum tidur, Sheila menulis satu kalimat di ponselnya: “Hari ini, untuk pertama kalinya, aku merasa tidak sendiri dalam tubuhku. Hari ini, aku tahu: aku akan belajar mencintai dengan cara yang tak pernah kupelajari sebelumnya.” Hari itu matahari muncul terlambat, seolah lupa bangun. Cahaya pagi yang biasanya menyentuh lantai kayu ruang tamu sekarang berubah jadi abu tipis yang hanya menyelinap di sela tirai. Di dapur, Galih mengaduk oatmeal di panci kecil sambil sesekali mencuri pandang ke arah ruang tengah, tempat Sheila duduk diam dengan wajah yang tidak bisa ia baca. Sheila sudah bangun sejak subuh, tapi tidak bicara banyak. Ia duduk dengan selimut dililitkan di bahu, memegangi cangkir teh yang bahkan belum disentuh. “Sayang,” kata Galih, pelan, “kamu mau oatmealnya dicampur pisang atau plain aja?” Sheila menoleh pelan, wajahnya seperti tertarik ke bawah oleh gravitasi. “Nggak pengen makan.” Galih mematikan kompor. “Sheil, kamu perlu makan.” Sheila mengangkat bahu. “Kalau aku muntah lagi?” “Kita coba dikit aja, ya?” Galih mencoba mendekat, membawa semangkuk kecil ke meja. Tapi Sheila tiba-tiba berdiri. “Aku capek, Galih.” Galih terdiam. “Capek karena apa?” “Karena semua orang kayak tahu aku harus apa! Kamu tahu aku harus makan. Mama tahu aku harus minum vitamin. Teman-teman tahu aku harus bahagia. Tapi nggak ada yang tahu aku takut banget bahkan buat tidur malam.” Suara Sheila naik, matanya mulai berkaca. Galih meletakkan mangkuk. “Aku tahu kamu lelah. Tapi kamu bisa bilang, pelan-pelan. Aku bukan musuhmu.” Sheila memejamkan mata. “Aku juga nggak tahu apa yang salah. Aku cuma... sedih aja. Tanpa alasan.” Galih berdiri, mendekatinya. Tapi Sheila menghindar. “Jangan peluk aku sekarang,” katanya cepat. “Aku nggak kuat berpura-pura semuanya baik-baik aja.” Beberapa jam kemudian, rumah itu sunyi. Galih duduk sendiri di balkon, membaca ulang catatan kecil yang ia buat sejak Sheila dinyatakan hamil: jadwal kontrol, daftar makanan pantangan, notes kecil tentang perubahan hormon. Tapi tidak ada satu pun yang bisa menjawab kenapa hari ini terasa lebih sulit dari kemarin. Sheila di kamar, tertidur dengan mata masih sembab. Ia tidak menutup pintu sepenuhnya—seperti memberi isyarat: aku perlu ruang, tapi jangan benar-benar pergi. Sore hari, hujan datang diam-diam. Galih masuk ke kamar dengan satu cangkir teh hangat dan sebungkus roti kismis. Ia tidak langsung bicara. Hanya duduk di tepi ranjang, menunggu Sheila membuka mata. Beberapa menit kemudian, suara pelan terdengar. “Aku jahat ya tadi pagi?” Galih menggeleng. “Nggak.” “Aku nyakitin kamu?” Galih menatapnya. “Nggak.” “Aku nyakitin bayi kita?” Galih menghela napas panjang, lalu menyentuh punggung tangan Sheila. “Kamu sedang menyesuaikan diri dengan perubahan yang bahkan kamu sendiri belum sepenuhnya pahami. Dan aku... aku juga lagi belajar. Kita dua-duanya bukan orang jahat.” Sheila menunduk. “Aku takut jadi ibu yang penuh kemarahan.” “Kamu bukan penuh kemarahan. Kamu penuh rasa.” Sheila akhirnya menatap Galih. “Kalau suatu hari aku kehilangan kendali... kamu bakal tetap di sini?” Galih mengangguk. “Aku di sini bukan cuma buat peluk kamu waktu bahagia. Tapi juga waktu kamu butuh marah tanpa alasan.” Malam itu, mereka duduk bersama di ruang tengah, makan malam dalam diam. Tapi bukan diam yang kaku—diam yang membiarkan masing-masing bernapas. Setelah mencuci piring, Sheila mendekati Galih yang sedang merapikan buku-buku di rak. Ia berdiri di belakangnya, lalu meletakkan dagunya di bahu suaminya. “Maaf ya.” Galih meletakkan satu buku, lalu memutar tubuh, memeluk Sheila erat. “Nggak usah minta maaf. Kita bukan aktor dalam drama. Kita manusia.” Sheila menahan air mata yang tak lagi terlalu berat. “Aku pengen kuat. Tapi kadang... aku pengen lelah juga.” Galih menyentuh pipinya. “Dan kamu berhak untuk lelah. Karena kita nggak sedang berlomba.” Beberapa hari kemudian, mereka pergi ke kontrol rutin. Dokter memutar layar USG, memperlihatkan janin yang kini makin jelas bentuknya. “Dia sehat,” ujar dokter. “Dan... sepertinya kalian akan punya anak laki-laki.” Sheila menatap layar, matanya membulat. “Laki-laki?” Galih menoleh padanya. “Raka?” Sheila mengangguk pelan. Lalu menatap layar lagi. Dan di sana, untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat sosok itu sebagai seorang anak. Bukan hanya makhluk kecil tak bernama. Anak laki-laki. Yang sedang tumbuh di dalamnya. Yang suatu hari akan memanggilnya “ibu”. Dan Sheila tahu, tak ada buku yang bisa benar-benar mempersiapkan dirinya untuk itu. Tapi hari itu, dia merasa cukup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN