Bab 47

1322 Kata
Sudah hampir tujuh bulan usia kehamilan itu. Hari-hari berlalu seperti potongan mozaik yang pelan-pelan disusun ulang. Tidak ada ledakan besar. Tidak ada adegan dramatis seperti yang sering Sheila tonton di film. Tapi setiap pagi, setiap detak kecil di dalam tubuhnya, menjadi semacam pengingat sunyi: seseorang sedang datang, pelan-pelan, dari dalam dirinya. Pagi itu, Galih duduk di teras apartemen mereka, memandangi langit Jakarta yang berwarna abu pucat. Ia memegang daftar perlengkapan bayi yang masih penuh coretan, dan satu pertanyaan menempel di kepala: Apa ini cukup? Apa aku cukup? Di dalam, Sheila sedang mencoba mengenakan kaus hamil baru. Perutnya kini sudah tak bisa disembunyikan. Gerakan si kecil juga makin terasa jelas—tendangan ringan saat ia bicara sendiri, gulatan pelan saat ia mengganti posisi tidur. “Sheil,” panggil Galih dari luar. “Minggu depan kita ambil kelas persiapan kelahiran, ya?” “Kalau aku kuat duduk lama,” jawab Sheila dari balik pintu. “Kita bisa pilih yang daring. Lebih fleksibel.” Sheila keluar dengan langkah hati-hati, duduk di sebelah Galih sambil menatap kakinya yang sedikit bengkak. “Kamu deg-degan?” tanyanya. Galih mengangguk. “Banget.” “Kenapa?” “Karena aku takut jadi ayah yang bingung.” Sheila tertawa kecil. “Semua ayah bingung. Tapi yang tetap tinggal, itulah yang jadi rumah.” Galih menoleh padanya. “Kamu masih mimpi buruk?” Sheila menggeleng. “Sudah nggak. Tapi ganti. Sekarang aku sering mimpi aku telat ke rumah sakit. Atau anak kita lahir di lift. Atau aku lupa bawa popok dan dia nangis sepanjang jalan.” Galih menggenggam tangannya. “Kamu nggak sendiri. Aku belajar cara pasang car seat semalaman di YouTube.” Sheila tersenyum. “Kamu serius?” Galih mengangguk. “Dan aku juga belajar cara gendong bayi baru lahir. Ternyata harus suport lehernya.” “Ya Tuhan, Galih...” Sheila menatapnya lama. “Kamu lucu banget.” “Lucu atau panik?” “Keduanya.” Hari itu, mereka pergi ke toko perlengkapan bayi besar untuk pertama kalinya. Kali ini bukan sekadar ‘melihat-lihat’. Kali ini mereka siap membawa pulang sesuatu. Sheila berdiri di depan rak pakaian, menyentuh kain-kain lembut yang belum pernah disentuh siapa-siapa. Galih di dekatnya, memegang daftar di ponselnya. “Ini bagus, Sheil. Lihat, bodysuit dari katun organik.” Sheila tersenyum. “Tapi itu ukurannya newborn. Kita butuh yang 0-3 bulan juga.” Galih mencoret-coret daftar, lalu mendekat. “Sheil... kamu sadar nggak? Kita kayak dua orang asing yang lagi belajar bicara dalam bahasa baru.” “Bahasa popok dan ukuran romper?” “Bahasa ‘aku sayang kamu tapi bingung caranya nyiapin hidup baru’.” Sheila menatapnya. “Tapi kita belajar. Itu yang penting.” Malamnya, mereka menyusun ulang kamar kecil di sebelah kamar tidur mereka. Galih memindahkan rak buku ke ruang tamu. Sheila melipat-lipat baju mungil yang baru dicuci. Di tengah tumpukan selimut dan bantal menyusui, Sheila berhenti sejenak. Ia duduk di lantai, menatap sepasang sepatu bayi berwarna krem. “Galih...” “Hm?” “Kamu pernah mikir nggak... gimana kalau nanti dia tumbuh tanpa suka pelukan? Atau malah lebih dekat sama kamu daripada aku?” Galih menoleh. “Sheil... anak kita nggak harus suka pelukan supaya kita tahu dia cinta. Dan kalau dia lebih dekat sama aku, itu bukan berarti kamu kurang. Itu cuma cara dia mencintai.” Sheila menatapnya, matanya lembap. “Aku pengen dia tahu aku bukan sempurna. Tapi aku selalu ada.” “Dan kamu nggak harus selalu ada dalam bentuk sempurna. Cukup jadi diri kamu. Dia bakal paham.” Beberapa hari kemudian, mereka menghadiri kelas daring tentang persalinan. Layar Zoom dibagi jadi beberapa kotak wajah pasangan-pasangan muda. Suara instruktur terdengar hangat dari laptop. “Rasa sakit saat kontraksi bukan tanda tubuh gagal. Tapi tanda tubuh sedang membuka jalan,” ucap instruktur. Sheila menggenggam tangan Galih. “Dengar?” Galih mengangguk. “Tubuh kamu sedang membuka jalan.” “Jalan buat apa?” “Buat cinta masuk ke dunia ini.” Sheila menangis tanpa suara. Pada malam ke-204 sejak kehamilan dimulai, Sheila menulis di jurnalnya: “Aku takut. Tapi tidak sendiri. Aku lelah. Tapi tidak kehilangan arah. Aku mencintai seseorang yang belum pernah memanggilku apa-apa. Tapi aku tahu... saat dia lahir nanti, namaku akan berubah. Dari Sheila, menjadi rumah.” Dan Galih, di ruangan sebelah, menuliskan satu kalimat di dinding papan tulis kecil: “Kalau kamu menangis nanti, aku nggak akan langsung mencari solusi. Aku akan duduk di lantai bersamamu, dan menangis juga kalau perlu. Karena ayah juga boleh takut.” Hari itu, jam berdetak lebih keras dari biasanya. Bukan karena suaranya benar-benar berubah, tapi karena di kepala Sheila, waktu mendadak terasa lebih tegas, lebih berwujud. Tiap detik seperti menekan dadanya. Ia berdiri di depan jendela, mengenakan gaun rumah longgar berwarna gading. Perutnya besar dan bulat sempurna, menonjol di balik kain tipis seperti dunia yang hampir lahir tapi belum tahu kapan tepatnya. Galih muncul dari kamar mandi, rambutnya masih basah. “Kamu belum duduk sejak tadi?” Sheila tidak menjawab. Ia menatap langit pagi Jakarta yang putih pias. “Kamu pernah ngerasa... dunia terlalu tenang untuk sesuatu yang besar?” Galih berjalan mendekat. “Kayak hari ini?” “Kayak sekarang. Rasanya... hening. Tapi hati aku nggak.” Galih mengusap punggungnya. “Kamu mau keluar bentar? Cari udara?” Sheila menggeleng. “Aku takut tiba-tiba kontraksi di jalan.” Galih mengangguk, paham. Ia tahu, semakin dekat ke hari H, semakin besar ketakutan Sheila—bukan hanya soal rasa sakit, tapi soal perubahan yang tidak bisa diulang. Sore harinya, mereka duduk di ruang tengah sambil melipat baju bayi untuk terakhir kalinya. Tas rumah sakit sudah siap di dekat pintu. Termos, popok, baju ganti, selimut kecil, semua tertata. Sheila memegang topi bayi kecil, lalu bertanya lirih, “Galih... kalau aku nggak kuat nanti, kamu bakal apa?” Galih menatapnya lekat-lekat. “Aku bakal tetap di sana. Pegang tangan kamu. Bilang, kamu cukup.” Sheila mengangguk pelan. “Kamu nggak akan pingsan lihat darah, kan?” Galih tertawa kecil, tapi matanya berkaca. “Kalau aku pingsan, kamu cubit aku. Biar bangun.” Sheila menatapnya, lalu tiba-tiba menangis. Air mata jatuh begitu saja. “Aku nggak tahu kenapa aku sedih.” “Karena kamu sedang menutup satu hidup untuk membuka hidup yang baru.” Malamnya, mereka duduk di balkon, langit Jakarta masih menyala dengan lampu-lampu apartemen lain. Jauh di bawah, suara kendaraan terdengar seperti gumaman kota yang tak pernah benar-benar tidur. Sheila bersandar di bahu Galih. “Aku belum siap,” bisiknya. Galih tidak langsung menjawab. Ia hanya membiarkan napas mereka menyatu dalam keheningan. “Siap itu ilusi, Sheil. Nggak ada yang benar-benar siap. Tapi kamu bersedia. Dan itu lebih penting.” Sheila menarik napas panjang. “Aku takut jadi orang tua yang menuntut. Yang pengen anaknya jadi versi yang aku nggak pernah bisa jadi.” “Kamu nggak sendiri di rasa takut itu. Tapi kita bisa belajar bareng.” Sheila mengangguk. “Janji ya, kita nggak saling salahkan nanti.” “Janji.” Pukul tiga pagi. Sheila terbangun. Napasnya pendek. Ada sensasi baru yang tak ia kenal. Bukan sakit. Tapi... dorongan. “Galih,” bisiknya pelan. Galih terbangun, langsung duduk. “Kenapa?” “Aku... aku rasa kontraksi. Tapi belum sakit. Cuma... beda.” Galih langsung berdiri, mengambil stopwatch di ponsel. “Kita hitung ya.” Sheila memejamkan mata, memegang perutnya. “Bukan waktunya sekarang. Tapi tubuhku kayak lagi ngobrol sama bayinya.” Galih menyentuh pipi istrinya. “Kalau dia siap, kita juga akan siap.” Sheila tersenyum samar. “Lucu ya. Aku ngerasa ini akhir. Tapi juga awal. Kayak semua rasa di dunia dicampur jadi satu. Cinta. Takut. Harap. Rindu.” Galih menarik napas panjang, lalu mencium keningnya. “Nggak apa-apa. Kita jalan bareng.” Dan di dini hari itu, saat seluruh kota masih tertidur, dua orang saling menggenggam tangan di bawah cahaya lampu kecil. Mereka tahu—hari besar belum datang. Tapi dunia sudah bergerak sedikit lebih dekat. Dan mereka menunggu. Bersama. Bersiap menjadi sesuatu yang tak bisa benar-benar didefinisikan. Orang tua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN