Bab 48

1344 Kata
Pukul 03.17 pagi. Kontraksi pertama datang seperti gelombang kecil di tengah laut yang tenang. Bukan rasa sakit yang menghantam tiba-tiba, tapi tarikan lembut yang perlahan berubah jadi tekanan. Sheila terbangun dari tidurnya dengan napas memburu, satu tangan menahan sisi kasur, yang lain memegang perutnya. “Galih...” panggilnya lirih. Galih bangun seketika, matanya masih kabur tapi tubuhnya refleks. “Sheil? Kontraksi lagi?” Sheila mengangguk, matanya berkaca. “Kayaknya udah mulai rutin. Aku... takut.” Galih duduk di sisi ranjang, langsung mengambil ponsel dan stopwatch. “Kita hitung, ya? Kita atur napas dulu. Satu, dua, tiga... tarik pelan.” Mereka duduk berdua dalam gelap, hanya diterangi lampu meja kecil. Kontraksi datang kembali 9 menit kemudian. Lalu 8. Galih mencatat tiap jedanya dengan tenang, tapi matanya menunjukkan kegelisahan yang tak bisa disembunyikan. Pukul 06.10, Sheila tidak bisa lagi menahan suara ketika kontraksi datang. Tangannya mencengkeram bantal, napasnya mulai pendek-pendek. Keringat membasahi lehernya, meski udara pagi masih dingin. “Galih, tolong... aku mau ke rumah sakit sekarang.” Galih sudah bersiap sejak sejam lalu. Ia mengambil tas, memastikan semua dokumen, lalu memapah Sheila ke lift. Mobil sudah menunggu di basement. Sepanjang jalan, Sheila terdiam. Tapi air mata mengalir tanpa suara. Galih menggenggam tangannya di atas paha. “Kalau kamu mau teriak, teriak aja,” bisik Galih. “Aku takut kehilangan kendali,” jawab Sheila pelan. “Justru karena kamu manusia, kamu boleh kehilangan kendali. Aku ada di sini buat pegang kamu.” Pukul 06.50 mereka sampai di rumah sakit. Suster menyambut dengan ramah, segera membawa Sheila ke ruang bersalin observasi. Galih mengurus administrasi dengan tangan gemetar, meski ia mencoba terlihat tenang. Setelah diperiksa, dokter berkata, “Bukaan masih tiga. Tapi kontraksi sudah cukup intens. Kita tunggu dulu, ya. Ini proses panjang.” Sheila menggigit bibir saat kontraksi datang lagi. Matanya mulai kabur oleh rasa lelah. “Kenapa sakitnya kayak nggak pernah selesai?” Galih menggenggam tangannya erat. “Karena kamu sedang membuka dunia buat satu kehidupan baru.” Jam demi jam berlalu. Siang berganti sore. Bukaan perlahan bertambah, tapi rasa sakit juga meningkat. Sheila tidak lagi bicara banyak. Ia hanya memejamkan mata, merintih tiap kontraksi datang. Tangan Galih tidak pernah lepas dari miliknya. Pukul 15.45, Sheila mulai kehilangan tenaga. Matanya berkaca, tubuhnya gemetar. “Galih... aku nggak sanggup.” Galih mencium keningnya. “Kalau kamu mau epidural, bilang aja.” Sheila menggeleng. “Aku pengen rasain semua. Kalau dia datang dari tubuhku, aku pengen tahu rasa tubuhku membuka buat dia.” Galih tak berkata apa-apa. Tapi air matanya jatuh saat Sheila menjerit di kontraksi berikutnya. Pukul 17.02. Dokter masuk kembali. “Sudah bukaan delapan. Kita hampir sampai, Bu Sheila.” Sheila sudah setengah telentang, tubuhnya lelah luar biasa. Galih terus mengompres keningnya, menggenggam tangannya, membisikkan kata-kata kecil di sela-sela rintihannya. “Kamu kuat.” “Kamu sudah sangat jauh.” “Aku bangga.” Pukul 18.22, tangisan pertama terdengar. Bukan dari Sheila. Bukan dari Galih. Tapi dari bayi laki-laki mungil yang baru saja lahir ke dunia, dalam peluh dan air mata, dalam pelukan antara cinta dan keberanian. Suara tangis itu memenuhi ruangan, dan waktu seolah berhenti. Sheila menangis. Tapi bukan karena sakit. Ia menangis karena dalam detik itu, ia tahu: hidupnya tak akan pernah sama. Galih memeluk bahu Sheila erat. “Kita berhasil.” Sheila menatap bayi mereka di pelukan bidan. “Dia... dia sempurna.” Galih mencium kening Sheila. “Dan kamu luar biasa.” Beberapa menit kemudian, bayi itu diletakkan di d**a Sheila. Kulit mungil itu bersentuhan langsung dengan kulit ibunya. Mata yang belum benar-benar terbuka. Napas kecil yang pelan. Tapi cukup untuk membuat jantung Sheila dan Galih berpadu dalam satu irama baru. “Aku rasa dia suka namanya,” bisik Galih. Sheila tersenyum. “Raka.” Galih menatap anak mereka. “Selamat datang, Nak. Dunia ini belum sempurna. Tapi kami akan berusaha.” Malam itu, setelah semua tenang, setelah Sheila dipindahkan ke ruang perawatan dan Raka tidur dalam boks kecil di sisinya, Galih duduk di kursi dengan tubuh separuh terkulai. Tangannya menulis di layar ponsel: “Hari ini, aku melihat keajaiban dari dekat. Tidak berupa cahaya dari langit. Tapi berupa napas kecil yang datang dari tubuh orang yang kucintai. Aku tidak tahu apakah aku ayah yang baik. Tapi aku tahu, aku ingin mencoba seumur hidup.” Ia mengirimkan pesan itu ke email dirinya sendiri. Satu hari nanti, mungkin Raka akan membacanya. Dan tahu, bahwa ia datang ke dunia dengan cinta yang utuh. Pukul 02.37 dini hari. Lampu kecil di sudut kamar menyala redup. Suara napas bayi terdengar pelan dari boks kecil di samping tempat tidur. Suara itu nyaris seperti embusan angin di sela dedaunan—halus, tapi cukup untuk membuat dunia terasa hidup. Sheila duduk bersandar dengan tubuh masih setengah dibalut selimut. Rambutnya sedikit acak, matanya sembab, tapi senyumnya—senyum yang belum pernah Galih lihat sebelumnya—tersungging lelah di wajahnya. “Dia tidur lagi,” bisik Sheila sambil menepuk pelan Raka yang tertidur di lengannya. Galih bangkit dari kursi malas, meraih gelas air putih dan menyodorkannya. “Kamu juga harus minum.” Sheila meneguk pelan. “Rasanya seperti aku bukan manusia. Tapi rumah. Yang tidak boleh roboh.” Galih duduk di sisi ranjang. “Rumah juga boleh retak. Asal fondasinya masih kuat.” Mereka saling menatap. Tak perlu kata-kata lebih banyak. Kelelahan bukan sesuatu yang bisa ditutup-tutupi. Tapi di mata mereka, ada keheningan yang saling memeluk. Hari-hari pertama setelah pulang dari rumah sakit seperti berjalan dalam waktu yang patah-patah. Tidak ada pagi, siang, malam. Hanya siklus tidur pendek, tangis, menyusui, menidurkan, mengganti popok, lalu mengulang lagi. Sheila kadang menangis sendiri di kamar mandi. Bukan karena sedih, tapi karena tubuhnya seperti bukan miliknya lagi. Payudaranya bengkak. Punggungnya pegal. Dan ia selalu merasa salah dalam setiap hal kecil: suhu s**u, posisi menyusui, cara menenangkan tangis. “Galih,” ucapnya suatu sore saat Raka akhirnya tertidur. “Ya?” “Kalau nanti aku hilang kesabaran... kamu tetap akan peluk aku, kan?” Galih menoleh dari wastafel, tempat ia mencuci botol s**u. “Sheil, aku nggak butuh kamu sempurna. Aku butuh kamu hadir.” Sheila menunduk. “Aku takut... kehilangan diriku sendiri.” Galih mendekat, memeluknya dari belakang. “Kalau kamu nyasar, aku akan temani sampai kamu nemu dirimu lagi.” Pada hari kelima, untuk pertama kalinya Raka tidur tiga jam tanpa terbangun. Sheila dan Galih makan malam berdua, cepat-cepat seperti pencuri waktu. Mereka duduk di lantai, piring nasi goreng instan dan telur ceplok di tangan. “Aku rindu makan pakai dua tangan,” keluh Sheila sambil tertawa. “Aku rindu tidur lebih dari dua jam,” kata Galih sambil menyuap. Tapi mereka tertawa. Dan tawa itu bukan tawa dari kenyamanan, melainkan dari rasa syukur yang tumbuh liar di tanah yang lelah. Di hari ketujuh, Mama Sheila datang membawa kaldu ayam dan sayur kukus. Ia tidak banyak komentar. Hanya masuk, membereskan cucian, mengganti sprei, lalu meninggalkan catatan kecil di meja makan: “Kamu baik-baik saja. Jangan percaya otakmu saat kamu merasa tidak cukup. Karena dari mataku, kamu sedang menjadi versi terkuat dari dirimu.” Sheila menangis lama setelah membaca itu. Galih merekam momen kecil di ponselnya: Raka menguap, Sheila mencium ubun-ubunnya, atau suara pelan mereka saat membacakan cerita sebelum tidur. “Kita bikin video harian,” kata Galih. “Nanti pas dia besar, dia bisa lihat cinta itu bentuknya kayak apa.” Sheila mengangguk. “Cinta itu suara ayahnya yang nyanyiin lagu nina bobo walau suaranya fales.” Galih tertawa. “Cinta itu ibunya yang bisa bangun 6 kali dalam semalam tanpa marah.” “Dan tetap bilang ‘aku sayang kamu’ sebelum tidur.” Dan malam itu, setelah semuanya diam, Sheila menulis di catatan ponselnya: “Hari-hari ini seperti berenang dalam laut yang tenang, lalu tiba-tiba datang ombak besar. Tapi setiap kali aku tenggelam, ada dua tangan—tanganmu, Galih—yang menarik aku naik ke permukaan.” Ia mengirim pesan itu ke Galih, padahal pria itu duduk tak jauh di depannya, sambil menggoyang-goyangkan boks bayi. Galih membaca, lalu menoleh. “Besok akan lebih baik,” katanya. “Atau lebih kacau,” jawab Sheila. “Tapi tetap bersama.” Sheila tersenyum. “Selalu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN