Sudah lebih dari satu tahun sejak kelahiran Raka. Hari-hari mereka dipenuhi tawa kecil, peluh tak berbayar, dan malam-malam panjang yang tak selalu romantis. Tapi di balik keletihan itu, tumbuh sesuatu yang mereka tak tahu punya nama: rasa cukup. Tapi rasa cukup tidak kebal pada kejutan. Pagi itu, Sheila sedang melipat baju Raka yang baru dijemur. Matanya sembap karena bangun tiga kali semalam. Galih sedang di kamar mandi. Di meja, ponsel Galih bergetar. Notifikasi muncul. Satu nama. Satu pesan. “Kita bisa ketemu sebentar? Aku hanya mau bicara.” Pengirimnya: Dira. Sheila menatap layar itu lama. Dira bukan nama asing. Bukan juga nama yang pernah ia takutkan. Tapi selalu menjadi bagian dari masa lalu yang tidak pernah benar-benar selesai dibicarakan. Langkah kakinya terasa berat saat

