Bab 20

1659 Kata
Sheila menatap kota Jakarta yang sibuk dari jendela kantornya di The Diamonds Palace. Gedung-gedung pencakar langit terlihat padat, lalu lintas di jalan raya seperti sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Perasaan gelisah bercampur bahagia memenuhi pikirannya. Pernikahannya dengan Galih berkembang dengan cara yang tidak pernah ia duga. Semakin mereka menghabiskan waktu bersama, semakin ia memahami pria itu jauh lebih dalam dari sekadar gambaran keras dan dingin yang selama ini Galih perlihatkan kepada dunia. Namun, di balik kebahagiaannya, Sheila merasa ada sesuatu yang masih tersembunyi di antara mereka. Ketenangan yang dinikmatinya sekarang terasa terlalu sempurna, seakan badai besar sedang menunggu untuk menerpa hubungan mereka kapan saja. Ia menghela napas, mencoba mengusir pikiran negatif yang menghantuinya akhir-akhir ini. Sebuah ketukan lembut di pintu kantornya membuat Sheila tersadar dari lamunannya. “Masuk,” sahutnya lembut. Pintu terbuka, memperlihatkan sosok Galih yang muncul dengan ekspresi serius. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak sedikit gelisah. Kehadirannya membuat hati Sheila sedikit berdebar cemas. “Ada yang ingin aku bicarakan,” katanya singkat sambil berjalan mendekati meja kerja Sheila. Sheila mengangguk perlahan, bersiap untuk apa pun yang akan Galih sampaikan. Ia mengenali ekspresi serius itu—pria ini sedang membawa sesuatu yang penting. Galih duduk di kursi depan meja Sheila, menatap matanya dengan dalam. “Aku baru saja mendapatkan informasi bahwa Dian sedang berusaha untuk menjatuhkanmu. Dia bekerja sama dengan ayahmu. Mereka mencoba mendapatkan bukti bahwa kamu tidak kompeten menjalankan perusahaan ini.” Sheila merasa darahnya seakan berhenti mengalir sesaat. Ia tahu ayahnya tidak pernah benar-benar mendukungnya, tetapi mengetahui bahwa pria itu bersedia melakukan sejauh ini membuatnya terluka lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ayahnya sendiri telah menjadi ancaman terbesarnya. “Apa yang harus kita lakukan?” tanya Sheila pelan, berusaha menyembunyikan ketakutannya. Galih meraih tangan Sheila dengan lembut, memberikan dukungan tanpa kata. Sentuhan itu begitu lembut dan menghangatkan hati Sheila, seakan menyalurkan energi positif yang sangat dibutuhkannya saat ini. “Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu. Kita akan melawan ini bersama.” Sheila menatap Galih, melihat ketegasan dan rasa perlindungan di matanya. Perasaan hangat mengisi dadanya. “Terima kasih,” bisiknya, merasakan air mata mulai berkumpul di sudut matanya. Galih berdiri, berjalan mengelilingi meja untuk meraih Sheila ke dalam pelukannya. “Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu lagi, Sheila. Aku berjanji.” Dalam pelukan Galih, Sheila merasakan keteguhan dan rasa aman yang belum pernah ia alami sebelumnya. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya merasa dilindungi. Pelukan Galih terasa begitu kokoh, seolah menjadi benteng yang tidak akan bisa ditembus oleh apa pun. Sheila perlahan merasa tenang, seakan semua masalah tidak lagi menjadi begitu besar ketika mereka bersama. “Galih,” Sheila berbisik, “aku takut ini tidak akan berhenti di sini. Aku tahu bagaimana ayahku berpikir, dia tidak akan mundur begitu saja.” Galih menatapnya, matanya penuh keyakinan. “Aku sudah memikirkan ini. Kita harus selangkah lebih maju. Kita akan bicara dengan pengacara dan menyiapkan strategi hukum. Selain itu, kita perlu memastikan bahwa dewan direksi berada di pihak kita.” Sheila mengangguk perlahan. “Baik, aku akan menjadwalkan pertemuan dengan tim hukum kita. Kita harus bergerak cepat sebelum mereka membuat langkah selanjutnya.” Galih mengangguk setuju. “Aku akan menghubungi beberapa anggota dewan secara pribadi. Mereka perlu tahu kebenaran langsung dari kita, bukan dari rumor yang akan disebarkan ayahmu atau Doni.” Sheila merasa bersyukur karena Galih ada di sisinya. Pria ini benar-benar menjadi pasangan yang diandalkan dalam situasi sulit seperti sekarang. Mereka berdua berdiskusi panjang mengenai langkah-langkah strategis yang perlu diambil, menyusun rencana yang matang untuk melindungi perusahaan sekaligus hubungan mereka. Waktu berlalu dengan cepat. Sheila merasa tenaganya terkuras setelah diskusi intensif tersebut. Ia melirik jam di dinding kantornya, menyadari bahwa malam telah tiba. Galih memperhatikan kelelahan Sheila, segera berdiri dan menarik tangannya perlahan. “Cukup untuk hari ini,” katanya lembut. “Kita lanjutkan lagi besok. Sekarang, kita pulang dan istirahat.” Sheila tersenyum tipis, merasa lega karena Galih memahami kebutuhannya tanpa perlu banyak kata. Bersama-sama mereka meninggalkan kantor, melewati lorong-lorong yang sepi menuju lift. Di dalam lift, Galih menggenggam tangan Sheila erat, seolah memastikan bahwa Sheila tahu ia selalu ada untuknya. Mereka tiba di apartemen yang hening, tempat di mana mereka mulai menjalani kehidupan baru bersama. Sheila merasa lelah, tetapi perasaan damai menguasai dirinya. Ia duduk di sofa sambil menarik napas dalam, mencoba menenangkan pikirannya yang penuh kekhawatiran. Galih duduk di sebelahnya, mengelus rambut Sheila dengan lembut. “Jangan khawatir,” ucapnya pelan. “Aku selalu di sini untukmu.” Sheila menatapnya, tersenyum hangat. “Aku tahu. Itulah yang membuatku merasa kuat.” Malam itu, mereka berdua duduk berdampingan dalam diam, menikmati kebersamaan yang nyaman. Di tengah ketegangan yang sedang mereka hadapi, Sheila merasakan kehangatan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka. Ia tahu, meskipun perjalanan di depan akan berat dan penuh tantangan, selama mereka bersama, tidak ada yang tidak bisa mereka atasi. Sheila menyandarkan kepalanya di bahu Galih, merasa damai dan terlindungi. Ia memejamkan mata, mencoba mengingat setiap momen indah yang telah mereka lalui bersama. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Sheila merasa benar-benar bahagia dan aman. Namun, jauh di dalam hatinya, Sheila tahu ini hanyalah awal dari pertarungan besar. Pertarungan tidak hanya untuk perusahaan yang dicintainya, tetapi juga untuk hubungan yang perlahan mulai ia sadari sangat berarti baginya. Kini, ia harus kuat, bukan hanya demi dirinya, tetapi demi cinta yang mulai tumbuh di antara mereka. Dan ia tahu, bersama Galih, ia akan mampu menghadapi apa pun yang datang. Sheila duduk di meja rapat yang besar di ruang konferensi The Diamonds Palace, menatap wajah-wajah serius di sekelilingnya. Suasana ruangan terasa tegang, dipenuhi dengan suara pelan diskusi tentang langkah berikutnya. Di sampingnya, Galih duduk dengan tenang, sesekali memberikan komentar yang tajam dan terarah, memastikan diskusi berjalan dalam koridor yang tepat. Tim hukum dan para eksekutif kepercayaan Sheila berkumpul untuk merumuskan strategi menghadapi ancaman yang datang dari ayahnya, Ferry, dan mantan tunangannya, Doni. Sheila sadar bahwa pertarungan kali ini sangat penting, bukan hanya untuk masa depan perusahaan tetapi juga untuk kehidupannya sendiri. “Kami sudah mempelajari semua dokumen yang tersedia,” ujar Bapak Surya, pengacara senior yang telah lama menjadi penasihat keluarga Sheila. “Tidak ada dasar hukum yang kuat dari tuduhan Ferry maupun Doni. Namun, kita harus tetap waspada. Mereka pasti punya sesuatu yang lebih besar lagi.” Sheila menghela napas panjang. “Apa kira-kira yang bisa mereka gunakan untuk menyerang kita lebih jauh?” Bapak Surya terdiam sesaat, tampak berpikir mendalam. “Kelemahan terbesar kita adalah citra publik. Mereka mungkin menggunakan media untuk merusak nama baikmu, Sheila.” Galih menyela dengan suara yang tenang namun tegas. “Kalau begitu, kita harus memperkuat komunikasi publik. Kita perlu menjelaskan situasi ini secara transparan kepada publik, sebelum Ferry atau Doni melakukannya lebih dulu.” Sheila menatap Galih, mengangguk setuju. “Aku setuju. Kita tidak boleh membiarkan mereka menentukan narasi cerita ini. Kita yang harus mengambil kendali sejak awal.” “Baik,” kata Bapak Surya. “Saya akan segera menyiapkan pernyataan publik yang kuat dan jelas.” Setelah rapat berakhir, Sheila merasa sedikit lega. Mereka telah memiliki rencana tindakan yang jelas. Namun, beban pikiran masih terasa berat di pundaknya. Galih menyentuh tangannya dengan lembut, memberinya senyum tipis yang penuh pengertian. “Kita akan melewati ini,” katanya dengan suara penuh keyakinan. Sheila tersenyum kembali. “Aku tahu, tapi tetap saja aku merasa tidak enak. Ini semua karena masalah keluargaku.” Galih menggeleng pelan. “Masalahmu adalah masalahku juga. Kita sudah menjadi tim, Sheila. Jangan pernah lupakan itu.” Sheila merasa hatinya semakin hangat mendengar kata-kata Galih. Ia merasa sangat beruntung memiliki Galih di sisinya dalam situasi sulit ini. Hari berikutnya, Sheila dan Galih mulai melakukan pertemuan pribadi dengan beberapa anggota dewan direksi yang masih ragu-ragu. Mereka memberikan klarifikasi mengenai situasi sebenarnya, berusaha meyakinkan para anggota dewan agar tetap solid di belakang Sheila. Pertemuan pertama mereka adalah dengan Pak Hendro, anggota dewan paling senior. Sheila mengenalnya sejak kecil, dan ia tahu bahwa Pak Hendro selalu bersikap netral. Namun, netralitasnya kali ini justru bisa menjadi masalah. “Saya paham posisi Anda,” ujar Pak Hendro sambil menatap Sheila dengan tatapan lembut namun serius. “Tapi Anda harus mengerti, posisi saya juga tidak mudah. Banyak tekanan dari Ferry dan beberapa anggota lain yang lebih tua.” “Saya mengerti, Pak,” jawab Sheila sopan namun tegas. “Tapi saya juga yakin bahwa Bapak tahu kemampuan saya dalam memimpin perusahaan ini.” Pak Hendro menghela napas. “Saya tidak meragukan kemampuanmu, Sheila. Namun, pertarungan ini lebih dari sekadar kompetensi. Ini soal politik internal yang rumit.” Galih menyela dengan tenang, “Justru karena itu, dukungan Bapak sangat penting untuk menunjukkan bahwa politik internal tidak boleh mengalahkan kebenaran.” Pak Hendro menatap Galih dengan tajam, kemudian tersenyum tipis. “Baiklah. Saya akan mendukung kalian. Tapi ingat, kalian harus berhati-hati. Ferry adalah lawan yang sangat kuat.” Pertemuan demi pertemuan terus berlangsung sepanjang hari. Sheila merasa lelah secara mental, tetapi ia tahu bahwa ini semua diperlukan untuk melindungi perusahaan dan reputasinya. Di akhir hari yang panjang itu, Sheila duduk bersandar di kursinya, merasa sangat letih. Galih menghampirinya dan meremas bahunya dengan lembut. “Kamu luar biasa hari ini,” ucapnya pelan di telinga Sheila. “Aku tahu ini sangat berat, tapi kamu melakukan semuanya dengan sangat baik.” Sheila tersenyum lemah, menyandarkan kepalanya di d**a Galih. “Terima kasih sudah selalu di sini untukku. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu.” Galih mengecup kening Sheila lembut. “Aku akan selalu di sini untukmu, Sheila. Apa pun yang terjadi.” Mereka menghabiskan malam itu dengan tenang, saling menguatkan satu sama lain dalam keheningan yang nyaman. Sheila tahu bahwa pertempuran besar masih menunggu mereka di depan, namun selama Galih berada di sisinya, ia merasa memiliki kekuatan untuk menghadapi apa pun. Dalam hatinya, Sheila mulai menyadari betapa dalamnya perasaannya kepada Galih. Hubungan yang dimulai sebagai pernikahan kontrak kini telah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata dan berarti. Sheila menyadari bahwa ia tidak hanya ingin mempertahankan perusahaan ini, tetapi juga kehidupan yang kini telah dibangunnya bersama Galih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN