Bab 19

1369 Kata
Saat Sheila pulang larut malam, kepalanya terasa seperti akan meletus. Dari tekanan yang meremas tengkoraknya hingga denyut di pelipisnya, ia tahu ini adalah awal dari migrain tegang yang menyebalkan. Permintaan mengejutkan dari Grup Aichi terus berputar di pikirannya sepanjang sore—begitu juga dengan foto Galih dan Gempita yang menyebalkan itu. Agensi Gempita tidak mungkin memiliki pengaruh cukup kuat untuk memaksa konglomerat Korea seperti Aichimengambil keputusan apa pun. Itu menyisakan dua kemungkinan kekuatan eksternal yang bisa punya suara dalam proyek tersebut: The Diamonds Palace dan My Jewelry. Dan dia tahu, dia sendiri bukan pelakunya. Berarti tinggal Galih. Sangat masuk akal jika Galih ingin tetap dekat dengan Gempita. Ia adalah wajah My Jewelry—dan wanita yang dicintainya. Yang pertama adalah pengetahuan umum. Yang kedua pernah Galih akui sendiri sebelum mereka menikah. Tak ada alasan logis bagi Sheila untuk merasa sakit hati seperti itu. Namun kemarahan dan rasa pengkhianatan telah mencengkeramnya selama berjam-jam. Ia hampir tak bisa menyelesaikan rapat. Syukurlah tidak ada satu pun keputusan besar yang harus diambil hari itu. Saat James menghentikan mobil dan turun untuk membukakan pintu, Sheila duduk sejenak dengan mata terpejam. Ini hanya perjodohan, katanya dalam hati. Perasaannya terhadap Galih hanyalah sayang yang mungkin mendekati cinta seorang gadis. Namun, intensitas rasa sakit yang menghantamnya belakangan ini mengatakan bahwa “sayang” saja tidak cukup menggambarkan apa yang sebenarnya ia rasakan. Tetap saja, ia menciptakan kembali topeng yang dibutuhkan untuk menghadapi suaminya—topeng yang sama yang selalu ia pakai saat melihat berita utama buruk tentang dirinya: tenang, bangga, tahan banting. Baru setelah yakin ia telah cukup tenang, Sheila keluar dari mobil. “Terima kasih, James. Selamat malam.” Ia melangkah masuk ke dalam rumah, berharap Galih masih berada di kantornya. Namun ia menemukannya di meja dapur, duduk santai hanya dengan celana pendek dan laptop di hadapan. Jika saja Sheila tidak melihat foto mereka di hotel, atau mendengar permintaan dari Grup Hae Min, mungkin ia akan sempat mengagumi otot d**a Galih yang ramping dan menawan. Namun kini, pikirannya dipenuhi oleh racun. Apakah Galih melakukan lebih dari sekadar menemui Gempita di hotel itu? Apakah itu alasan dia berganti pakaian? Berhentilah bersikap konyol, pikir Sheila. Mengapa dia tetap mengenakan jas setelah harinya berakhir? Namun logika telah lama menyerahkan kendali kepada emosi. Ia menggenggam kendalinya lebih erat. “Bagaimana harimu?” tanya Galih sambil tersenyum. Sheila memandangi wajahnya, mencari tanda-tanda bahwa Galih menyembunyikan sesuatu—atau mungkin ingin mengaku. Namun tak ada apa pun. Hanya senyuman biasa. “Melelahkan,” jawab Sheila, membalas senyumnya. Galih mengeluarkan suara simpatik kecil. “Maaf mendengarnya.” Responsnya terasa seperti ejekan. Dia, pikir Sheila, adalah alasan kenapa harinya begitu melelahkan. “Bagaimana wajah dan punggungmu?” “Baik.” Nada suaranya halus dan dingin, seperti marmer. Memar di pipinya adalah hal paling tidak penting saat ini. Ia sembuh cepat, bahkan nyaris tak terlihat. Punggungnya masih sedikit nyeri, tapi tak seberapa. Sayangnya, gejolak emosionalnya tak semudah itu untuk disembunyikan. Sheila menaruh tas di meja dan mengambil segelas air dingin. Saat air mengalir melewati tenggorokannya dan mengisi perut kosongnya, ia baru menyadari betapa lelahnya dirinya. Ia belum makan malam—sup dan salad dari Bianca tak sanggup ia telan. “Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.” Kekhawatiran dan kebingungan muncul di wajah Galih. “Baiklah.” Apakah dia akan jujur soal Gempita dan peluncuran Galih Peery? “Aku menyelidiki siapa yang membocorkan foto-foto pesta itu ke Lambe Turah.” Kata-kata itu menghantam Sheila seperti tamparan. “Itu tidak perlu,” ujarnya tajam. “Mereka selalu melakukan apa yang mereka inginkan. Mengejar mereka hanya akan membuatku diburu lebih lama.” Ekspresi Galih menunjukkan keterkejutan, seperti Sheila yang bersikap tidak masuk akal. “Akulah yang akan mengejar mereka. Mereka tidak akan mengganggumu soal itu. Kau tidak bisa membiarkan mereka begitu saja, bukan ketika mereka melanggar privasimu seperti ini.” “Mereka selalu melanggarnya.” Sheila berusaha menjaga suaranya tetap tenang. Tak ada gunanya fasad tenang jika ia sendiri akan meledak. Namun Galih terus melanjutkan. “Dalam kasus ini, mereka tidak mungkin bisa melakukannya tanpa seseorang yang memberi mereka foto itu.” “Tamu mana pun bisa melakukannya.” Gempita bisa. Dan setelah Galih menyebutkannya, Sheila semakin yakin itu dia. Galih sepertinya menangkap tuduhan diam-diam itu. Wajahnya memerah. “Bukan salah satu tuduhanku.” Sheila mendengus. “Tentu saja itu Gempita! Siapa lagi yang akan menyebarkan foto yang membuatku terlihat seperti jalang kecuali dia?” Mengendalikan drama ini sudah mustahil. Sheila ingin menenggelamkan wajahnya ke bantal dan berteriak. “Gempita—? Apa? Dia tidak ada hubungannya dengan ini.” Sheila mengangkat tangan. “Berhentilah membelanya. Kamu hanya membuat segalanya semakin buruk.” “Dan berhentilah menarik kesimpulan sebelum aku bisa menjelaskan semuanya.” Rasa sakit di kepalanya makin menjadi. Saraf di belakang dahinya berdenyut hebat. “Itu dikirim dari akun sss anonim,” lanjut Galih. “Dan orang yang mengunggahnya menggunakan Wi-Fi rumah ini.” Butuh waktu sejenak sebelum makna kata-katanya meresap. “Wi-Fi rumahku?” “Ya. Jadi jelas bukan Gempita. Dia tidak punya kata sandi, dan dia tidak cukup pintar untuk membobol jaringan kita.” “Jadi hanya ada kamu, aku, Bianca, dan Matthias. Tapi Matthias sudah meninggal. Dan tidak mungkin Bianca melakukan itu.” “Bagaimanapun juga, seseorang di jaringan ini yang melakukannya.” Sheila sempat bertanya-tanya apakah Galih menyusun semua ini untuk membela Gempita, tapi segera membuang pikiran itu. Bahkan Dian tidak akan jatuh serendah itu. Namun, mungkin Galih memang mendekati Grup Aichidi belakangnya demi Gempita, tanpa peduli pada dampaknya terhadap Sheila atau perusahaan. “Apakah kamu sudah menghubungi orang-orang di Aichi dan meminta mereka menggunakan Gempita untuk peluncuran?” Pertanyaan itu keluar sebelum ia sempat menahannya. Galih tersentak, menatap Sheila seperti habis ditampar. “Apa maksudmu?” “Mereka bilang kolaborasi itu tidak bisa dilanjutkan jika Gempita bukan bagian dari kampanye pemasaran. Itu aneh. Mereka awalnya sepakat untuk memakai selebriti Korea. Mereka menyiratkan ada tekanan dari luar. Dan itu bukan dariku. Berarti kamu.” “Aku tidak peduli siapa yang mereka pilih, selama orang itu tepat untuk pekerjaan itu.” Apakah dia hanya menjelaskan posisinya? Atau menyembunyikan kebenaran? “Mungkin menurutmu dia orang yang tepat.” “Bagaimana kau bisa menyimpulkan itu dari apa yang baru saja kukatakan?” “Dengan menggunakan otakku.” Sheila menaruh gelas kosong di wastafel. Ia harus pergi sebelum melakukan sesuatu yang akan disesalinya. Namun Galih meraih lengannya, menghentikannya. “Ada apa denganmu? Kau hanya ingin bertengkar?” “Tidak. Aku tidak ingin bicara tentang betapa pentingnya Gempita.” Untukmu. Galih menatapnya seperti tak percaya. “Apa maksudmu? Kaulah yang membahasnya.” “Dan kaulah yang mencintainya dan terus melemparkannya ke hadapanku.” Sebuah suara samar dalam dirinya tahu bahwa tuduhan itu tidak adil—Galih tidak bisa mengendalikan foto-foto itu. Namun sisi keras kepala Sheila tetap menyalahkannya karena membiarkan wanita itu mendekat. “Apa?” Galih tampak seperti mendengar hal paling gila di dunia. “Aku tidak mencintainya.” Jantung Sheila berdebar kencang. Kebohongan. “Berhentilah memperlakukanku seperti orang bodoh. Kau sendiri yang bilang kau mencintainya sebelum kita menikah.” “Aku…” Galih terdiam. “Sialan.” “Jika kamu ingin berbohong, setidaknya ingatlah apa yang sudah kamu katakan.” “Aku tidak berbohong. Aku tidak mencintainya.” “Tapi kamu bilang kamu sedang jatuh cinta…” Sheila menahan kata-kata yang tak lagi bisa ia susun dengan baik. “Wah. Kau sama buruknya dengan semua pria lain yang pernah kukenal. Bahkan lebih buruk—kau tidak bisa setia, bahkan pada wanita yang kau cintai, bahkan sebelum dipaksa menikah denganku.” Galih menggeram frustasi. “Tidak ada seorang pun yang bisa setia.” Sheila mencoba menarik lengannya, tetapi genggamannya erat. “Aku berbohong tentang jatuh cinta saat itu,” kata Galih. “Aku kesal dan ingin bersikap menyebalkan. Aku tidak jatuh cinta pada siapa pun. Terutama bukan Gempita.” Sheila ingin menertawakan absurditas itu. “Aku tidak akan pernah menikahimu jika mencintai wanita lain.” Namun, katanya dalam hati, kau mencintai my Jewelry. Kau akan melakukan apa saja untuk mempertahankannya. Bahkan menikah. Sheila menyadari: ia terlalu lelah untuk debat lagi. Ia hanya ingin pergi, mandi, dan tidur. Namun Galih tidak melepaskannya. Dan dari titik ini, ketegangan memuncak menjadi ledakan fisik dan emosional yang membaur—ciuman penuh kemarahan, hasrat, dan luka yang belum sembuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN