Suasana sore di rumah itu seperti lukisan senyap. Lampu-lampu temaram belum dinyalakan. Tirai masih terbuka, membiarkan cahaya oranye jatuh di lantai ruang tengah. Di meja rendah di depan TV, Raka sibuk menempel stiker dinosaurus ke kertas putih, lidahnya menjulur sedikit, pertanda ia sedang serius. Sheila duduk di sofa, mengenakan sweater lembut, satu tangan menyangga perutnya yang masih belum membuncit, satu tangan lainnya menggenggam cangkir teh chamomile yang mulai dingin. "Raka," panggilnya pelan. Anak itu hanya mengangkat wajah sedikit. "Iya, Ma?" "Boleh Mama ngobrol?" Raka berhenti menempel. Menoleh penuh. "Tentang apa?" Sheila menarik napas. "Tentang sesuatu... yang akan hadir di hidup kita." Raka mengernyit. "Mainan baru?" Sheila tertawa kecil. "Bukan. Tapi sesuatu yang le

