Sudah hampir dua bulan sejak perbincangan terakhir mereka soal masa lalu. Dua bulan sejak nama itu akhirnya benar-benar tak dibicarakan lagi. Dan dua bulan sejak Sheila kembali menulis secara teratur, bangkit perlahan dari keraguan yang sempat menghantui relasi mereka. Pagi itu Jakarta sejuk. Tidak ada hujan. Tapi juga tidak ada terik. Hanya semacam bayangan abu-abu tipis di langit, seperti dunia sedang menunggu kabar. Sheila membuka email dari penerbit digital kecil di Bandung yang pernah menghubunginya tahun lalu. Subjeknya jelas: “Proposal Buku Anda Diterima.” Ia membaca kalimat demi kalimat dengan campuran perasaan. “Kami tertarik menerbitkan kumpulan esai Anda yang sebelumnya dimuat di blog pribadi. Bila berkenan, kami ingin menyusun meeting pertama minggu depan di kantor pusat ka

