Kereta menuju Bandung melaju stabil di atas rel, sesekali bergetar halus ketika melewati jembatan panjang yang membelah sawah dan perbukitan. Di dalam kabin kelas eksekutif, Sheila duduk di dekat jendela, tangannya memegang cangkir kopi yang sejak sepuluh menit lalu tidak ia sentuh. Pandangan matanya kosong. Di pangkuannya, ponsel menyala. Layar masih menampilkan pesan dari nomor tak dikenal: “Saya membaca blog Anda. Kita pernah bertemu. Saya rasa Anda tak tahu siapa saya, tapi saya tahu siapa suami Anda. Kita perlu bicara.” Ia menatap kata demi kata itu seperti membaca ulang potongan masa depan yang belum pernah ia bayangkan akan datang. Jemarinya gemetar sedikit, bukan karena kopi, bukan karena perjalanan, tapi karena naluri yang entah bagaimana selalu tahu kapan sesuatu akan berubah

