Pukul 02.37 dini hari. Lampu kecil di sudut kamar menyala redup. Suara napas bayi terdengar pelan dari boks kecil di samping tempat tidur. Suara itu nyaris seperti embusan angin di sela dedaunan—halus, tapi cukup untuk membuat dunia terasa hidup. Sheila duduk bersandar dengan tubuh masih setengah dibalut selimut. Rambutnya sedikit acak, matanya sembab, tapi senyumnya—senyum yang belum pernah Galih lihat sebelumnya—tersungging lelah di wajahnya. “Dia tidur lagi,” bisik Sheila sambil menepuk pelan Raka yang tertidur di lengannya. Galih bangkit dari kursi malas, meraih gelas air putih dan menyodorkannya. “Kamu juga harus minum.” Sheila meneguk pelan. “Rasanya seperti aku bukan manusia. Tapi rumah. Yang tidak boleh roboh.” Galih duduk di sisi ranjang. “Rumah juga boleh retak. Asal fonda

