Pukul 03.17 pagi. Kontraksi pertama datang seperti gelombang kecil di tengah laut yang tenang. Bukan rasa sakit yang menghantam tiba-tiba, tapi tarikan lembut yang perlahan berubah jadi tekanan. Sheila terbangun dari tidurnya dengan napas memburu, satu tangan menahan sisi kasur, yang lain memegang perutnya. “Galih...” panggilnya lirih. Galih bangun seketika, matanya masih kabur tapi tubuhnya refleks. “Sheil? Kontraksi lagi?” Sheila mengangguk, matanya berkaca. “Kayaknya udah mulai rutin. Aku... takut.” Galih duduk di sisi ranjang, langsung mengambil ponsel dan stopwatch. “Kita hitung, ya? Kita atur napas dulu. Satu, dua, tiga... tarik pelan.” Mereka duduk berdua dalam gelap, hanya diterangi lampu meja kecil. Kontraksi datang kembali 9 menit kemudian. Lalu 8. Galih mencatat tiap jedan

