Hari itu, jam berdetak lebih keras dari biasanya. Bukan karena suaranya benar-benar berubah, tapi karena di kepala Sheila, waktu mendadak terasa lebih tegas, lebih berwujud. Tiap detik seperti menekan dadanya. Ia berdiri di depan jendela, mengenakan gaun rumah longgar berwarna gading. Perutnya besar dan bulat sempurna, menonjol di balik kain tipis seperti dunia yang hampir lahir tapi belum tahu kapan tepatnya. Galih muncul dari kamar mandi, rambutnya masih basah. “Kamu belum duduk sejak tadi?” Sheila tidak menjawab. Ia menatap langit pagi Jakarta yang putih pias. “Kamu pernah ngerasa... dunia terlalu tenang untuk sesuatu yang besar?” Galih berjalan mendekat. “Kayak hari ini?” “Kayak sekarang. Rasanya... hening. Tapi hati aku nggak.” Galih mengusap punggungnya. “Kamu mau keluar bentar

