Bab 72

742 Kata

Sudah hampir tujuh bulan usia kehamilan itu. Hari-hari berlalu seperti potongan mozaik yang pelan-pelan disusun ulang. Tidak ada ledakan besar. Tidak ada adegan dramatis seperti yang sering Sheila tonton di film. Tapi setiap pagi, setiap detak kecil di dalam tubuhnya, menjadi semacam pengingat sunyi: seseorang sedang datang, pelan-pelan, dari dalam dirinya. Pagi itu, Galih duduk di teras apartemen mereka, memandangi langit Jakarta yang berwarna abu pucat. Ia memegang daftar perlengkapan bayi yang masih penuh coretan, dan satu pertanyaan menempel di kepala: Apa ini cukup? Apa aku cukup? Di dalam, Sheila sedang mencoba mengenakan kaus hamil baru. Perutnya kini sudah tak bisa disembunyikan. Gerakan si kecil juga makin terasa jelas—tendangan ringan saat ia bicara sendiri, gulatan pelan saat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN