Hari itu matahari muncul terlambat, seolah lupa bangun. Cahaya pagi yang biasanya menyentuh lantai kayu ruang tamu sekarang berubah jadi abu tipis yang hanya menyelinap di sela tirai. Di dapur, Galih mengaduk oatmeal di panci kecil sambil sesekali mencuri pandang ke arah ruang tengah, tempat Sheila duduk diam dengan wajah yang tidak bisa ia baca. Sheila sudah bangun sejak subuh, tapi tidak bicara banyak. Ia duduk dengan selimut dililitkan di bahu, memegangi cangkir teh yang bahkan belum disentuh. “Sayang,” kata Galih, pelan, “kamu mau oatmealnya dicampur pisang atau plain aja?” Sheila menoleh pelan, wajahnya seperti tertarik ke bawah oleh gravitasi. “Nggak pengen makan.” Galih mematikan kompor. “Sheil, kamu perlu makan.” Sheila mengangkat bahu. “Kalau aku muntah lagi?” “Kita coba dik

