Hari itu langit tak terlalu terang. Jakarta mendung, tapi bukan mendung yang berat. Hanya semacam abu tipis yang melayang-layang, seperti selimut tipis di atas kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Di dalam apartemen, Sheila duduk di karpet ruang tamu, membenamkan punggungnya ke dinding, kedua kakinya dilipat santai ke samping. Tangannya membelai perutnya—bukan refleks, tapi kesadaran. Ia sudah mulai melakukannya lebih sering. Setiap bangun tidur, setiap selesai makan, setiap kali berbicara pada dirinya sendiri. Galih sedang di dapur, membilas gelas-gelas sisa sarapan. Ia menyenandungkan lagu yang tidak selesai, nadanya melayang acak tapi lembut. “Sheil, kamu mau teh peppermint atau chamomile?” “Chamomile,” jawab Sheila, tanpa melihat ke arah dapur. Suara keran berhenti. Suara sen

