Hari itu langit Jakarta seperti menahan napas. Tidak hujan. Tidak panas. Tidak ada angin yang cukup untuk menggoyangkan tirai. Di dalam mobil, Sheila duduk bersandar, matanya menatap kosong ke luar jendela. Galih menyetir dengan tenang. Tangan kirinya menggenggam tangan Sheila yang dingin sejak pagi. Ia belum bicara banyak hari ini. Hanya menatap, hanya mengusap, hanya hadir. “Sheil...” akhirnya Galih bersuara, lembut. “Kalau kamu nggak siap, kita bisa batalin hari ini.” Sheila menggeleng pelan, tapi matanya tetap tak bergerak dari jendela. “Justru karena aku takut... aku harus tahu.” Galih mengangguk. “Aku di samping kamu. Setiap detiknya.” Mereka sampai di klinik lebih awal dari jadwal. Ruang tunggu belum ramai. Seorang ibu muda duduk sendirian di pojok dengan perut besar dan buku d

