1
Ponsel Fida berdering dengan nyaring. Fida yang masih sibuk memasak untuk makan malam di dapur pun harus segera berlari menuju ruang tengah mendekati ponselnya yang sedang di cas.
"Hallo Mas ..." Suara Fida selalu lembut. Bibirnya selalu bisa berbohong tetapi tidak dengan hatinya yang kini hancur lebur.
Suara dari seberang terdengar serak seperti sedang menahan sesuatu yang nikmat. Belum lagi napas Restu yang sedikit terengah-engah.
Fida mencoba mencerna dan tetap berpikiran positif. Baru saja, Fida ingin bertanya kepada Restu, suaminya. Ada suara wanita yang spontan mendesah lembut.
"Ahhh Mas ..." Begitu kira-kira desahan yang tertangkap ditelinga Fida.
Deg ...
Deg ...
Deg ...
Kedua mata Fida membola menatap fokus ke arah tembok. Tangannya bergetar memegang ponsel. Ternyata ... Selama ini dugaannya benar. Ia bicara fakta dan bukan sekedar praduga tak bersalah.
***
Fida sudah rapi dengan pakaian persit. Hari ini, kegiatan persit berada di luar batalyon. Pesan singkat dari sang suami sangat jelas sekali. Ia tidak bisa mengantarkan sang istri dan akan ada supir khusus yang akan menemani dirinya selama Fida membutuhkan supir kemana pun pergi.
Lima tahun sudah ia menikah dengan Restu yang kini berpangkat Perwira. Fida menerima pinangan Restu karena wanita tua yang ia tolong di Jalan. Wanita itu adalah Nenek Restu.
Ting Tong ...
Suara bel dari depan terdengar nyaring sekali di dalam rumah dinasnya yang cukup besar untuk hidup berdua saja dengan Mas Restu. Ya, Fida dan Restu belum memiliki momongan.
Fida mengambil tas hitamnya dan berjalan ke arah depan lalu membuka pintu rumah itu.
Seorang prajurit muda tersenyum ramah dan bicara dengan nada sopan kepada Fida.
"Selamat pagi, Maaf Bu. Bapak memberikan perintah kepada saya untuk mengantarkan Ibu ke tempat kegiatan," ucap prajurit muda berpangkat Praka itu pada Fida.
"Pagi. Iya, Bapak sudah beri informasi itu pada saya. Kita bisa berangkat sekarang?" ucap Fida dengan cepat.
Acara akan dimulai satu jam lagi. Fida tidak biasa terlambat atau mepet untuk datang ke acara penting yang diadakan oleh Persit Kartika Candra Kirana.
Fida mengunci pintu rumah dinasnya dan berjalan menuju mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh prajurit muda itu.
Di dalam mobil mewah itu, keduanya diam. Fida duduk di kursi belakang sambil menatap ke arah luar mobil. Memandangi jalanan yang terasa lengang.
Prajurit muda itu melihat Fida dari kaca spion tengah. Ia sangat mengagumi istri komandannya itu. Cantik alami, sederhana dan pintar. Itu yang ia ketahui. Banyak prajurit seusianya yang membicarakan istri komandannya itu. Ada yang bercerita baik dan ada juga yang bercerita buruk tentang Fida.
"Nama saya Dafi Respati. Ibu bisa panggil saya dengan panggilan Dafi," ucap Dafi dengan nada suara ramah dan sopan.
Dafi memberanikan diri untuk bicara lebih dulu. Sikap Fida begitu acuh dan dingin. Tidak sesuai dengan apa yang dibicarakan oleh para seniornya dulu.
Banyak yang bilang, Ibu Fida itu sangat galak, angkuh dan suka memerintah. Nyatanya sangat berbanding terbalik sekali.
"Iya Om," jawab Fida singkat. Panggilan Om, memang tidak asing didengar di sekitar kesatuan militer. Memang seperti itu panggilan para junior atau prajurit muda yang baru bergabung.
Fida menjawab tanpa melihat ke arah Dafi. Nama Dafi pun hanya sekilas lewat dan sama sekali tidak, Fida ingat. Untuk apa, mengingat nama lelaki lain. Kalau pada kenyataannya semua laki-laki bisa menyimpan nama perempuan lain dengan sangat rapi sekali.
Dafi tidak bersuara lagi. Ia memilih diam kembali dan menikmati pekerjaan barunya. Lumayanlah ada tambahan dari komandannya yang bisa ia kirim ke Kampung untuk Ibu dan kedua adiknya yang masih butuh biaya besar.
Tidak sampai setengah jam. Mobil mewah itu sudah masuk ke area parkir sebuah Panti Asuhan. Ya, hari ini, kegiatan Persit Kartika Candra Kirana adalah membagikan sedekah kepada anak yatim piatu sekaligus makan siang bersama.
Ada niat Fida untuk mencari bayi yang baru lahir. Mungkin ia bisa mengangkatnya menjadi anak. Dengan persetujuan Restu, Suaminya. Dengan begitu, Ia tidak akan lagi merasakan kesepian.
Pintu mobil sudah dibuka oleh sang Prajurit muda itu.
"Silakan Bu. Sudah sampai di lokasi," ucap Dafi dengan sikap hormat.
"Ya," jawab Fida begitu singkat lalu turun dan berjalan menuju pintu depan Panti Asuhan itu.
Beberapa ibu persit lainnya sudah hadir. Kardus besar berisi hadiah pun sudah berjajar dengan rapi di teras Panti.
"Bu Fida ..." panggil seorang ibu persit sambil melambaikan tangannay kepada Fida.
Fida tersenyum dan mempercepat jalannya. Dafi mengikuti Fida.
"Maaf ya. Saya telat," ucap Fida lembut kepada para ibu persit yang sudah hadir lebih dulu dan mempersiapkan segalanya.
"Tidak apa-apa, Bu. Ini berondongnya?" bisik salah satu persit yang mendekati Fida.
Fida menoleh ke arah Ibu persit itu dan melotot tajam, "Apa maksud Ibu, bicara begitu?"
"Lhoo ... Semua orang juga sudah tahu, Bu. Kalau Ibu ada main dengan prajurit junior berpangkat Praka. Itu pasti dia," ucap ibu persit lainnya ikut menuduh.
"Kalian bicara apa sih? Sumpah, saya sama sekali tidak tahu! Kita ini mau melaksanakan acara amal. Bukan mau cari ribut." Fida menjawab dengan nada tinggi. Ia tersulut emosi. Desas desus ini baru ia dengar. Kenapa bisa dirinya yang menerima fitnah keji itu.
Acara amal hari ini berjalan lancar. Tapi tidak dengan hubungan antar persit. Fida seperti dijauhi. Dirinya yang biasa dielu-elukan oleh banyak orang, kini mendadak dilihat seperti sampah. Sangat hina sekali.
Begitu juga dengan Dafi. Para ibu persit itu sangat tajam dan keji sekali seolah mereka jijik melihat Fida dan Dafi.
Saat memasuki acara makan siang, Fida memilih pamit pada pemilik Panti dan beberapa ibu persit lainnya.
Fida langsung berjalan cepat menuju mobil mewahnya dan masuk ke dalam. Dafi yang baru mengambil piring untuk makan siang pun terpaksa diletakkan lagi dan mengejar istri komandannya itu.
Fida sudah duduk dibelakang dengan punggung bersandar pada sandaran jok dan memakai kaca mata.
"Bu? Ibu baik-baik saja?" tanya Dafi sopan.
Fida diam dan menunjuk dengan jari telunjukknya bahwa Dafi harus diam dan cepat menjalankan mobilnya, "Pulang sekarang."
Suara Fida begitu tegas namun bergetar. Fida menangis. Ya, siapa yang tidak sakit hati, jika dirinya malah difitnah selingkuh dengan Dafi. Ia kenal Dafi saja baru hari ini.