Kenzo kembali mencium Zeya, lebih dalam, lebih lama. Helaan napas mereka berpadu dalam keheningan kamar yang hanya diisi suara detak jantung mereka berdua. Zeya menggenggam bahu Kenzo, dan saat tubuhnya sedikit terangkat oleh cengkeraman pria itu, ia terkesiap kecil. “Kenzo...” bisiknya. Namun ia tak menolak. Sebaliknya, kedua lengannya langsung melingkar di leher Kenzo, sementara kakinya naik dan melingkari pinggang suaminya. Ia menyandarkan tubuhnya dengan pasrah, wajahnya tersembunyi di lekukan leher Kenzo. “Aku kangen kamu begini,” bisik Kenzo di telinga Zeya, suaranya rendah dan berat, seperti gumaman dalam mimpi. Zeya tak menjawab. Ia hanya memejamkan mata dan membiarkan dirinya larut. Ciuman Kenzo kembali mendarat di bibirnya, kini disertai gerakan yang perlahan tapi tak tertaha