Zeya memutuskan untuk tidak menunggu lebih lama. Ia sudah melihat sendiri betapa padatnya hari Kenzo. Bahkan detik ini, suaminya masih memberi instruksi pada tim medis dengan ekspresi serius dan fokus penuh. Zeya tidak ingin mengganggu. Ia menekan tombol lift dan melangkah mundur beberapa langkah, bersiap meninggalkan lantai itu. Tapi baru beberapa detik kemudian, sebuah tangan menyentuh pergelangan tangannya pelan dari samping. "Sayang, kamu di sini?" Zeya berbalik dengan sedikit kaget. "Eh, Kenzo? Kok malah di sini?" ucapnya reflek. Matanya membesar, tak menyangka pria itu bisa muncul di tengah kekacauan ruang bedah yang tadi ia lihat sendiri. Kenzo tersenyum kecil. Matanya tampak lelah, tapi tetap hangat. Rambutnya sedikit acak, masih mengenakan baju scrub biru yang baru saja digan