Semalam Elena benar-benar kesulitan mendapatkan tidurnya. Pikirannya di penuhi oleh ucapan Ozan.
Tentang dia yang tidak pernah mencintai Elena, tentang dia yang menikahi Elena dengan terpaksa, tentang misi dia yang menghamili Elena lalu menjadikan bayi Elena sebagai donor untuk Leokimia yang Gracia derita.
Sepanjang malam perut Elena juga terasa tidak nyaman, dia menangis dalam diam, hanya karena dia kembali merasakan jika takdir sudah begitu kejam padanya.
Elena baru merasakan indahnya di cintai, indahnya di perhatikan, indahnya di perlakukan seperti manusia. Namun ternyata semua itu adalah kebohongan yang di susun dengan begitu apik oleh Ozan dan keluarga Elena sendiri. Ayahnya, kedua kakak laki-lakinya, atau mungkin Gracia juga terlibat dalam sandiwara ini.
Entah jam berapa semalam Elena mendapatkan lelapnya, Elena sendiri tidak ingat dengan pasti. Namun saat dia kembali mendapatkan kesadarannya, dia justru mendapati Ozan sedang menaunginya, dan tubuh Elena kini ada di bawah kungkungan kedua lengannya.
Elena tentu saja terkejut, tangannya reflek menarik selimut hingga di dagu , dan sebelah tangannya menahan tubuh Ozan yang bahkan masih menggunakan kemeja, pakaian dia semalam, tapi ikat pinggang dan kancing celana bahannya sudah terlihat terbuka.
"Ooh... Apa yang kamu lakukan?!" syok Elena.
Ozan tidak menjawab, dia terus menyelesaikan apa yang sedang dilakukan oleh tangannya, membuka sisa resleting celana miliknya dan setengah kancing kemeja bagian atasnya.
"Ozan... Jangan lakukan ini. Ini masih pagi , dan aku...!" Elena belum sepenuhnya menyelesaikan kalimatnya saat ozon justru menarik selimut yang menutup tubuh Elena lalu membubuhkan ciumannya leher dan d**a Elena.
"Ozan... Stop. Apa kamu sudah...!"
"Aku menginginkan kamu!" ucap Ozan dengan suara yang terdengar serak dan basah.
Elena berusaha menahan aksi Ozan, tapi tentu saja itu percuma dia lakukan.
Tubuh Ozan tidak kali lebih besar dan lebih kokoh darinya, di tambah saat ini Elena sedang hamil tujuh bulan dan Elena benar-benar kesulitan bergerak meski hanya untuk menolak keinginan Ozan.
Lara di hatinya seperti luka tanpa penawar, Elena tentu saja merasa aneh saat laki-laki berstatus suaminya itu tiba-tiba menuntut haknya sebagai seorang suami. Padahal kemarin-kemarin saat Ozan berprilaku seperti ini, Elena tetap bisa menerimanya sebagai bentuk cinta laki-laki itu, akan tetapi kali ini tentu saja berbeda. Ini jelas bukan karena cinta, tapi mungkin sebuah hukuman.
"Ozan... Tunggu dulu!" ucap Elena , berusaha menghentikan apa yang ingin Ozan lakukan, tapi laki-laki itu tidak mengindahkannya, bahkan laki-laki itu tidak mendengar kekhawatiran yang dirasakan Elena saat ini.
"Aku menginginkan kamu... Aku benar-benar menginginkan kamu!" ucapnya lagi dan lagi.
Ozan menarik selimut Elena , lalu melemparkannya asal ke lantai, dan ciumannya semakin terasa brutal di bahu , leher dan d**a Elena.
Tangan Elena terasa melemah, saat Ozan mencengkram kedua tangan itu dan menariknya ke atas untuk meminta Elena tenang, dan dengan gerakan cepat, Ozan menyingkap baju tidur yang Elena gunakan, lalu melepas segitiga putih yang membungkus bagian intim Elena.
Elena memalingkan wajah, menggigit bibirnya sendiri untuk meredam rasa sakitnya, dan tanpa memperdulikan kondisi Elena yang sedang hamil , Ozan memaksa masuk pada lembah kenikmatan wanita itu, Elena.
Tidak ada rasa nikmat yang bisa Elena rasakan saat ini. Hanya rasa sakit, dan sakit hati yang memenuhi pikirannya.
Tubuh Elena terguncang, terpantul-pantul saat Ozan mendorong miliknya masuk dalam tubuh Elena, lalu di ikuti gerakan Ozan yang keluar masuk.
Air mata Elena ikut merembes di sudut matanya, mengalir di antara pelipisnya. Ozan tidak hanya menggagahi tubuh bagian bawahnya saja, tapi bagian atas juga tidak luput dari serangan laki-laki itu.
Ozan memang selalu melakukan kewajibannya sebagai seorang suami dengan cara seperti ini, dan selama ini Elena tetap bisa menerimanya, meski Elena nyaris tidak pernah benar-benar bisa menikmatinya.
Elena pikir ini memang cara Ozan bercinta, tapi makin ke sini, Elena semakin merasa ini bukan sesuatu yang bisa di katakan normal. Tidak.
Mata Ozan terpejam erat, tapi pergerakannya semakin lama semakin kuat di bawah tubuh Elena, dan sesi berikutnya, Ozan justru menarik bantal di samping Elena, kemudian meletakkan bantal itu di atas wajah Elena. Iya... Ozan menutup wajah Elena dengan bantal, seolah tidak ingin melihat Elena saat dia menggagahi tubuh wanita itu.
Elena sudah tahu jika Ozan akan melakukan itu, menutup wajahnya dengan bantal, karena ini nyaris Ozan lakukan setiap kali mereka bercinta, dan selama ini Elena tetap bisa memaklumi semua itu sebagai satu kebiasaan Ozan yang harus di pahami dan terima. Namun kali ini tentu saja Elena akan berpikir yang tidak-tidak.
Kedua tangan Elena masih dalam cengkraman tangan Ozan, dan Ozan masih bergerak dengan sangat bringas di bawah sana.
Elena tentu tidak bisa melihat bagaimana ekspresi Ozan saat ini, karena wajahnya di tutupi bantal.
Sesi berikutnya, Ozan menarik tubuh Elena untuk bangkit dari rebahnya, lalu mendorongnya ke sisi ranjang. Ozan lebih dulu menurunkan kakinya untuk menahan agar Elena tidak jatuh ke lantai, dan Elena belum sepenuhnya bisa menyadari apa yang saat ini terjadi, tiba-tiba Ozan kembali menarik pinggangnya, dan reflek Elena menumpukkan kedua tangannya di atas ranjang, sehingga kini posisi Elena menjadi berdiri tapi dengan kedua tangan Elena yang berpijak pada ranjang, sementara pinggul dan pinggang Elena berada lebih tinggi dari perut dan d**a Elena.
Elena tahu dengan sangat pasti posisi ini. Ozan sering menggaulinya dengan gaya seperti ini, tetapi jika kemarin-kemarin Ozan tidak sampai menutup tubuhnya, tapi kali ini Ozan memilih menutup tubuh Elena menggunakan kain yang sebelumnya dia letakkan di lantai dan hanya menyisakan tubuh Elena bagian bawah saja. Dari pinggul, sampai ke kaki, sedangkan pinggang dan kepala Elena tertutup sepenuhnya dengan selimut.
Iya... Ozan memasuki tubuh Elena dari arah belakang, bahkan tanpa memberi celah waktu untuk Elena bersiap di tenggelami.
Ozan masuk begitu saja, mendorong kuat batang miliknya, mengobrak-abrik lembah kenikmatan Elena dengan cara brutal. Bahkan beberapa kali Ozan menepuk keras b****g Elena, seoalah ingin melampiaskan kemarahannya.
"Oooh... Oooh... Ooh...!" Rancau Ozan dengan pinggul yang terus bergerak keluar masuk dengan ritme kuat dan keras.
Elena mencengkram kuat sprei ranjang itu, mengigit bibirnya sendiri karena rasa sakit itu kini tidak hanya di rasakan tubuhnya, tapi juga hati ,dan mentalnya pun ikut terluka. Rasa sakit itu semakin kuat Elena rasakan saat lagi dan lagi tangan besar Ozan kembali mendarat perih di bokongnya, hingga membuat pendengaran Elena memudar di balik selimut tebal itu, dan perlahan Elena benar-benar kehilangan kesadarannya.