Seringkali cinta menjadi alasan penderitaan seseorang. Kepercayaan kadang dijadikan sebagai topeng untuk membungkus sebuah kepalsuan.
Benar apa yang dikatakan para orang bijak... 'cintailah seorang laki-laki setulus hati, maka dia akan menghancurkanmu dengan cara yang paling kejam dan menyakitkan'.
Hal yang sama juga sedang Elena rasakan. Saat dia menaruh seluruh kepercayaan pada Ozan, laki-laki itu dengan sangat kejamnya mempermainkan harkat dan martabatnya.
Menikahi, lalu menghamili, tapi semua itu bukan untuk kepuasan semata, tapi demi merobohkan keyakinan Elena, bahwa tidak seorangpun yang benar-benar menginginkannya di dunia ini.
"Nikmati saja apa yang aku berikan , wanita sialan. Nikmati saja selama kamu bisa menikmatinya!" rancau Ozan dengan suara berdesis, dan dengan rasa panas yang semakin terasa membara dalam tubuhnya.
"Hanya sampai anak ini lahir, Ozan. Hanya sampai Gracia di nyatakan sembuh... Kamu harus bertahan dengan rasa jijik ini. Kamu harus bertahan Ozan...!" desis Ozan dengan suara lirih untuk dirinya sendiri.
Percayalah; setiap kali Ozan menggagahi Elena, sebenarnya itu bukan semata-mata untuk menenangkan hasrat dan libido bercintanya, akan tetapi itu hanya bagian dari cara Ozan untuk menghukum Elena.
Iya... Ozan ingin menghukum Elena dengan caranya sendiri. Karena pikir Ozan, seharusnya orang yang dia sentuh bukanlah Elena, melainkan Gracia. Orang yang mengandung anaknya bukanlah Elena, tetapi Gracia. Orang yang harusnya dia beri cinta, perhatian dan kasih sayang secara penuh itu adalah Gracia, bukan Elena... Tapi faktanya, keadaannya saat ini sedang tidak memungkinkan untuk Gracia menerima segala sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya.
Gracia di diagnosa mengidap penyakit leukimia, dan untuk menyelamatkan Gracia dari penyakit mematikan itu adalah Gracia harus melakukan transplantasi sumsum tulang belakang.
Mereka sudah melakukan pengecekan . Tuan Cakra, ayah Gracia, juga kedua Kakak laki-laki Gracia, termasuk Elena sendiri, akan tetapi tidak satupun dari mereka memiliki kecocokan sumsum tulang belakang, meskipun mereka memiliki gen yang sama dari ayah yang sama. Namun dokter mengatakan akan ada kemungkinan ada kecocokan sumsum tulang belakang dengan anak yang terlahir dari saudara sedarah dari Gracia, dan anak itu akan bisa menjadi pendonor bagi Gracia.
Iya ... Alasan itulah yang membuat ayah dan kedua saudara laki-laki Gracia meminta Ozan untuk mendekati Elena , lalu menikahinya. Kemudian membuat Elena hamil, dan anak yang akan Elena lahirkan akan mereka gunakan sebagai pendonor untuk menyelamatkan nyawa Gracia.
Ozan semakin menambah tekanan gerakannya, dia semakin bergerak cepat, hingga dia benar-benar berhasil meledak dalam tubuh Elena.
Elena tidak lagi bergerak. Tidak meronta, tidak protes, tidak berkata apapun. Dia hanya menarik tubuhnya untuk melekat di ranjang itu, lalu mengumpulkan selimut yang sebelumnya menutup tubuhnya lalu memeluknya untuk menenangkan janin dalam kandungannya juga menenangkan rasa sakit dan kecewanya , karena kali ini kedua rasa itu seperti berkecamuk dan menyatu dalam pikiran juga logika Elena.
Ozan sudah menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, nafasnya terengah-engah karena rasa lelah setelah menuntaskan rasa yang membelenggu jiwa laki-lakinya.
Dadanya kembung kempis, kemejanya tampak basah. Dia memijat kepalanya untuk mengembalikan kesadarannya, dan detik berikutnya dia kembali bangkit lalu bergerak ke kamar mandi.
Suara gemericik air langsung terdengar dari arah Elena meringkuk. Elena tidak lagi bergerak, dia hanya diam memeluk perutnya, yang semakin terasa nyeri, sementara Ozan sudah berdiri di bawah pancuran air shower.
Dia membubuhkan shampo di kepalanya, lalu mulai menggosok spon dengan cairan sabun aroma antiseptik. Entah sudah berapa kali dia mengulang hal yang sama, shampo lalu sabun, shampo lalu sabun lagi, seolah ada kotoran membandel di tubuhnya.
Elena semakin merasakan rasa nyeri di bagian perutnya, dia semakin memeluk perutnya di balik selimut, menyembunyikan rasa sakitnya dari dunia.
Ozan keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang menutup tubuh bagian bawahnya, dan rambut basahnya masih menetes-netes.
Dia hanya melirik sebentar ke arah ranjang, tapi dengan cepat berjalan ke arah kamar ganti, memakai pakaiannya, kemeja, dasi dan jas mahalnya.
Pandangannya kembali tertuju kearah ranjang di mana Elena masih meringkuk, lalu berjalan mendekati ranjang itu untuk menyapa Elena dengan perhatian yang di buat-buat.
"Sayang... Ayo bangun. Pagi ini aku ada meeting. Aku harus cepat ke kantor , Arlon pasti sudah menungguku!" ucapnya, tapi Elena hanya terus merintih di balik selimutnya.
"Perutku sakit!" ucap Elena yang nyaris terdengar seperti bisikan.
"Siang nanti aku juga harus ke proyek, jadi mungkin aku akan pulang terlambat lagi," ucap Ozan lagi.
"Sakit Zan. Perut aku sakit...!" ucap Elena tapi Ozan sama sekali tidak mendengarnya. Dia hanya terus fokus memakai jam tangan kesayangannya. Jam tangan hadiah ulang tahunnya tiga tahun lalu dari Gracia, jam tangan yang bahkan harganya tidak seberapa, tapi Ozan menganggap hadiah itu bernilai fantastic, karena di berikan oleh Gracia, wanita yang sangat dia cintai.
"Ozan... Perut aku!" rintih Elena lagi, dan baru setelah itu Ozan melihat ke arah Elena.
"Sayang... Kenapa...?!" tanya Ozan yang sudah berjongkok, dan hendak menyingkap selimut yang menutup tubuh Elena.
Namun bersamaan dengan itu, dering ponsel Ozan di kantong celana bahannya terdengar, dan seketika perhatian Ozan teralihkan ke sana.
Ozan merogoh saku celananya, ada nama Arlon di layar ponselnya, dan untuk sesaat Ozan menghela nafas.
"Kamu lihat... Arlon sudah menelpon. Aku yakin dia pasti sudah di kantor dan menungguku!" ujar Ozan, kembali mengabaikan keluhan Elena yang dari tadi mengatakan sakit perut.
Dia lantas menerima panggilan telpon itu dan berbalik memunggungi Elena, saat Elena semakin merintih sakit.
"Ya halloo Ar. Kenapa?!" sapa Ozan. Dia merapikan jasnya lalu berbalik untuk melihat penampilannya lewat cermin besar di sisi lemari pakaiannya.
"Ozan... Garcia koleps...!"
"What...? Koleps...?!" Ozan syok. "Baik. Aku akan segera kesana!" ucap Ozan dengan nada panik , lalu keluar begitu saja dari kamarnya, meninggalkan Elena yang bahkan sudah tidak bisa bersuara karena menahan rasa sakitnya. Bahkan di sprainya sudah basah dengan darah.
Pandangan Elena perlahan mulai memudar, tubuhnya semakin terasa lemah, nafasnya pun perlahan mulai menipis.
Tangannya terangkat untuk menghentikan Ozan yang nyaris menghilang di balik pintu, tapi sia-sia. Ozan sudah pergi dengan langkah tergesa-gesa, dan detik berikutnya, kegelapan menyelimuti dunia Elena.