Tidak ada cahaya , tidak ada suara, bahkan detak jantungnya pun sudah tidak bisa lagi Elena dengar sendiri. Namun di saat saat seperti ini, tidak ada yang peduli padanya. Bahkan untuk sekedar melihat rasa sakitnya sekejap saja pun tidak ada yang sudi.
Elena menutup mata, bersamaan dengan rasa sakit dan kecewanya, dan saat dia terjaga... Dia sudah berada di rumah sakit, dengan selang infus di lengan kirinya, dan seorang suster yang sedang menganti kantung infus itu.
Elena melihat kantung itu sedikit berwarna merah, dan bisa di pastikan jika sebelumnya Elena mungkin melakukan transfusi darah.
"Nyonya sudah sadar...?!" sapa suster yang menggunakan penutup kepala, juga masker medis untuk menutup separuh wajahnya.
Elena tidak menjawab, dia hanya mengangguk, lalu kembali memejamkan mata, berusaha menenangkan dirinya yang kembali merasakan sakitnya kekecewaan.
"Nyonya kehilangan banyak darah, dan Nyonya sudah melakukan transfusi darah sebanyak tiga kantong. Setelah ini tubuh Nyonya akan sedikit mengalami perubahan, tapi semua masih di batas aman kok. Bayi di kandungan Nyonya juga baik-baik saja. Kedepannya, Nyonya lebih hati-hati ya!" ucap suster itu dan Elena hanya diam, menyimak penjelasannya.
Elena melihat sekeliling tempat itu. Tidak ada Ozan, tidak ada siapapun, hanya dia dan suster yang sedang menganti kantung infusnya.
"Siapa yang membawaku kesini?!" tanya Elena dengan nada suara yang sangat lirih, tapi cukup jelas untuk di dengar oleh suster itu.
"Saya kurang tahu Nyonya. Saya baru datang sekitar dua jam lalu, karena saya dapat sip siang sampai malam!" jawab suster itu ramah, dan Elena kembali diam.
"Bagaimana perasaan Nyonya sekarang. Apa saya perlu membantu sesuatu...?" tanya suster itu lagi, dan Elena tampak menarik nafasnya.
"Tolong beri aku air minum. Tenggorokan ku rasanya kering!" ucap Elena dan suster itu langsung meraih satu botol air mineral, membuka tutupnya lalu memberikannya pada Elena setelah dia menancapkan satu sedotan agar Elena bisa lebih mudah meminumnya.
Elena menghabiskan lebih dari setengah isi botol itu, kemudian kembali menarik nafas , mencoba merilexsasikan perasaannya yang sedang sangat kacau.
Pandangan Elena tertuju ke arah dinding kamar itu. Jam sudah menunjukkan angka lima sore, dan itu artinya Elena sudah seharian ada di ranjang rumah sakit itu, karena jelas, saat Elena kehilangan kesadarannya, saat itu hari masih pagi, dan Ozan baru akan berangkat ke kantor.
"Ada lagi yang bisa saya bantu, Nyonya?!" sapa suster itu ramah, tapi Elena langsung menggeleng.
"Tidak. Untuk saat ini tidak ada!" jawabnya lemah, dan kali ini suster itu yang mengangguk
"Baik. Saya akan ada di meja resepsionis bangsal. Jika Nyonya butuh sesuatu, Nyonya tinggal tekan tombol ini, lalu bicara lewat spiker ini. Saya atau suster yang lain akan segera membantu Nyonya!" ucap suster itu lagi.
Elena hanya mengangguk mengerti, karena memang dia sudah tahu itu. Ini bukan kali pertama Elena di rawat di rumah sakit itu. Nyaris setiap bulan Elena di rawat di sana , dan keluhannya juga masih seputar kehamilannya.
Sebenarnya, dokter menyarankan pada Elena untuk tidak hamil dulu, karena kondisi fisik Elena kurang mendung. Ada satu kendala yang membuat Elena beresiko dengan kehamilannya. Namun karena rasa cintanya pada Ozan, Elena bersedia menanggung segala resiko itu hanya untuk melahirkan keturunan Ozan. Bahkan jika pada akhirnya Elena meninggal karena hamil dan melahirkan keturunan Ozan, Elena rela... Dan ini murni karena rasa cintanya pada Ozan.
Namun fakta yang semalam dia dengar sangat menyakiti perasaan, hati, juga cinta Elena.
Ozan tidak pernah menginginkannya, tidak pernah mencintainya, tidak pernah benar-benar menyayanginya. Meskipun selama ini Ozan seperti bersungguh-sungguh dengan cinta dan perhatiannya. Namun faktanya, Ozan menikahinya, memintanya untuk mengandung dan melahirkan anaknya , itu semua semata-mata karena Gracia. Demi menyelamatkan Gracia yang saat ini di diagnosa mengidap penyakit Leokimia.
Saat suster meninggalkan ruangan itu, bibi Mila juga masuk dari pintu yang sama. Dengan beberapa tas di tangannya, juga rantang stanlis di tangan satunya lagi.
Senyum wanita paruh baya itu tampak tulus, keriput di bawah matanya tampak semakin jelas saat senyum tuanya terbit.
"Non... Non sudah sadar?!" sapanya hangat , seperti biasa.
Satu-satunya orang yang Elena yakini memiliki hati yang tulus padanya hanya wanita itu saja. Wanita yang katanya sudah bekerja pada keluarga Elena sejak Maria, ibu Elena menikah dengan Cakra Wiratmaja, ayah Elena.
Bibi Mila sudah seperti segalanya di keluarga itu. Dia berperan sebagai asisten rumah tangga, memasak, membersihkan rumah, bahkan mengasuh anak-anak Maria dan Cakra. Aldo, Arlon, Gracia, dan anak terakhirnya , Elena.
Elena di rawat secara penuh oleh bibi Mila, hanya saja bibi Mila tidak sampai menyusuinya, karena saat itu bibi Mila tidak sedang memiliki anak bayi.
Dia hanya memiliki satu orang putra yang usianya sama dengan Arlon. Kakak kedua Elena, dan putranya sudah berusia lima tahun saat Elena lahir.
Meskipun sebelumnya bibi Mila sempat menawarkan untuk menjadi ibu s**u Elena, tapi waktu itu Tuan Cakra menolak dengan sangat tegas usul itu, dan lebih memilih mengabaikan Elena, hingga akhirnya bibi Mila hanya memberi Elena s**u formula, dan itupun di beli menggunakan uang bibi Mila sendiri.
Seharusnya bibi Mila tetap bekerja di rumah orang tua Elena, tapi sejak Elena hamil, Elena terus merengek peda Ozan untuk membawa bibi Mila tinggal bersamanya.
Meskipun sebelumnya Ozan sempat menolak, karena di rumah itu sudah ada asisten rumah tangga , nyatanya Elena tetap merasa lebih nyaman di bantu oleh bibi Mila, terlebih lagi sejak hamil, Elena tidak pernah benar-benar baik.
"Bibi bawakan bubur beras untukmu!" ucap wanita paruh baya itu. Dia lantas meletakkan barang bawaannya di atas meja sofa lalu membawa rantang stainless itu ke ranjang di mana Elena masih setengah berbaring.
"Terima kasih Bik!" jawab Elena tanpa ekspresi.
"Bukan Bibi yang buat, tapi adiknya Bibi," ucap bibi Mila lagi. "Itu lho... Adiknya Bibi yang waktu itu datang ke rumah Non Elena bawa kedondong dan buah cermani... Ingat gak?!" ujar bibi Mila lagi dan Elena tersenyum tipis.
"Iya. Elena inget kok. Yang bilang pengen punya anak seperti Elena itu kan. Dan saat itu Elena justru merasa takut. Takut jika adik Bibi itu menculik Elena!" jawab Elena dan bibi Mila langsung mengangguk dengan senyum tulusnya.
"Iya. Yang itu," ucap bibi Mila membenarkan. "Dia langsung buatkan bubur beras saat Bibi bilang kalo Non Elena lagi di rumah sakit, dan tadi dia sendiri yang ngantar bubur ini kesini. Hanya sampai gerbang rumah sakit saja, karena dia buru-buru harus pulang, sebab suaminya juga lagi sakit!" jelas bibi Mila panjang lebah dan Elena semakin tersenyum haru. Bahkan ada air di kedua sudut matanya, karena sungguh, dia benar-benar merasa luar biasa saat seseorang yang bukan keluarganya justru memiliki rasa empati yang begitu tulus padanya.
"Benarkah...!" seru Elena, dan bibi Mila langsung mengangguk.
"Iya!"
"Kalo begitu sampaikan salam Elena padanya. Terima kasih untuk buburnya. Elena pasti akan memakannya sampai habis," ucap Elena dan bibi Mila langsung mengangguk antusias. "Sampaikan juga salam Elena padanya... 'jika ada kehidupan kedua untuk Elena..., Elena mau kok lahir dari rahimnya, dan menjadi putrinya. Sungguh!" sambung Elena dan bibi Mila langsung mengangguk dengan sangat cepat , tapi percayalah... Wanita paruh baya itu bahkan sedang menahan nafasnya, karena mendadak kelopak matanya terasa panas, dan dadanya terasa bergemuruh saat Elena justru membahas tentang kehidupan kedua.
Ketahuilah... Jikapun benar akan ada kehidupan kedua itu, tidak hanya adik bibi Mila yang mau punya anak seperti Elena, tapi bibi Mila pun tidak akan keberatan memiliki sepuluh anak seperti Elena... Dan jika benar kehidupan kedua itu benar-benar ada, bibi Mila tetap ingin menjadi bagian dari perjalanan Elena melewati kehidupan dan takdirnya.
"Iya... Akan Bibi sampaikan padanya. Bibi yakin dia pasti akan sangat senang mendengar ini!" jawab bibi Mila, dan Elena kembali tersenyum.
Bibi Mila kemudian membuka rantang itu, lalu memilah satu persatu bagiannya. Ada abon ayam di anak rantang paling atas, lalu ada telur ayam kampung sudah di rebus di anak rantang nomer dua, dan bubur di anak rantang paling bawah.
Elena menerima sendok yang bibi Mila berikan, lalu menerima bubur itu untuk dia coba dengan abon ayam sebagai campurannya, sementara itu bibi juga mengupas telur untuk Elena.
Baru saja Elena akan memasukkan sendok pertama bubur itu ke dalam mulutnya, tiba-tiba terdengar kegaduhan dari arah luar pintu.