"Cepat ke lantai sembilan. Pasien kamar VVIP nomer satu membutuhkan bantuan medis segera!"
Teriak seseorang yang mereka duga seorang penjaga keamanan rumah sakit, khusus bangsal di mana Elena di rawat.
Nada suaranya terdengar panik, seakan-akan pasien itu benar-benar sedang dalam keadaan gawat darurat yang jika terlambat sedikit saja , akan berakibat fatal, yang mungkin akan bisa merenggut nyawa sang pasien.
Elena dan bibi Mila tidak berpikir jika itu mungkin pasien yang baru saja mengalami kecelakaan dan nyawanya kritis kerena pendarahan hebat. Mereka jelas menyerukan lantai sembilan, dan itu adalah ruangan khusus pasien dengan penyakit dalam, dan ruangan itu juga khusus untuk kelas VVIP, yang mana hanya orang-orang tertentu yang bisa di rawat inap di lantai dan ruangan itu.
"Siapa kira-kira yang sedang dalam kondisi gawat darurat. Kasian sekali dia!" ucap bibi Mila, tapi Elena hanya terlihat menelan nafasnya, lalu benar-benar memasukkan bubur itu ke dalam mulutnya.
Dia tidak menjawab pertanyaan bernada seruan yang baru saja bibi Mila ucapkan, karena sungguh dia juga tidak tahu.
Pandangan bibi Mila kembali tertuju ke arah Elena, lalu menyerahkan telur yang baru selesai dia kupas, setelah dia juga membela telur itu menjadi dua.
"Makan yang banyak, agar tubuh Non lebih segar, dan calon anak Non dapat nutrisi yang cukup dan sehat!" ujar bibi Mila lagi, dan Elena hanya mengangguk seraya mengelus perut bulatnya.
Elena agak kesusahan menelan buburnya, akan tetapi dia tetap memaksa bubur itu lolos dari tenggorokannya.
Kembali bayangan Ozan menyelimuti pikirannya. Suara-suara itu kembali mengusik pikiran Elena. Ingin sekali Elena mengenyahkan semua pikiran itu, akan tetapi semakin dia berusaha, semakin terasa sakit hatinya.
Elena kembali menyerahkan rantang bubur itu pada bibi, dan mengatakan cukup, karena sekarang bubur itu justru terasa pahit di tenggorokannya. Pahit karena racun di hati dan pikirannya membuat dia kehilangan selera makan.
"Elena kenyang Bi!" ucap Elena dengan nada suara yang terdengar sangat lirih, dan bibi Mila menatap sendu ke arah wanita itu, Elena.
"Ayo makan dua atau tiga sendok lagi, Non. Ingat... Sekarang tidak hanya Non Elena yang membutuhkan nutrisi dari makanan ini, tapi anak dalam kandungan Non juga," ucap bibi Mila membujuk Elena untuk makan lebih banyak lagi, tapi Elena langsung menggeleng.
"Elena udah kenyang Bi. Elena makan buburnya nanti lagi deh, kalo Elena udah agak lapar. Taruh saja dulu. Nanti Elena minta lagi!" ucap Elena tanpa menyinggung perasaan patuh baya itu, dan bibi Mila hanya terlihat menghela nafas, merasa iba, tapi juga tetep menuruti ucapan Elena.
Menutup rantang bubur itu, lalu menaruhnya sedikit menjauh.
Bibi membawa beberapa buah yang sudah dia kupas ke atas ranjang Elena, lalu menawarkannya pada Alena. Elena menerimanya, mengambil satu potong buah pir dan apel, menggunakan garpu, dengan bibi Mila yang duduk di samping Elena, dan memijat kaki Elena yang mulai terlihat bengkak.
"Bibi sudah menghubungi nomer ponsel Tuan Ozan, tapi masih belum bisa tersambung. Bibi juga sudah mengirimi Tuan Ozan pesan , meski masih belum dibaca. Apa Non mau Bibi pulang dulu, dan menunggu Tuan Ozan, lalu memberi tahunya kalo Non ada di rumah sakit?!" ujar bibi Mila setelahnya tapi Elena justru menghela nafas dalam diam.
"Tidak perlu Bi. Ozan pasti sedang sangat sibuk... tapi nanti kalo dia emang udah baca pesan Bibi, dia pasti akan langsung kesini," ucap Elena seraya melepaskan sisa nafas lelahnya.
Tadi pagi , saat Elena mengerang menahan rasa sakitnya, dia jelas mendengar Ozan mengatakan akan ada meeting , dan akan pergi ke proyek, jadi dia akan pulang terlambat hari ini. Jadi meski bibi Mila pulang , dia tidak akan menemukan Ozan di rumah , dan itu akan sangat percuma.
Belakangan ini Ozan memang selalu pulang terlambat. Bukan sekali atau dua kali, tapi nyaris setiap malam. Bahkan Elena kadang tidak tahu kapan Ozan pulang, karena saat Elena terbangun di pagi harinya, Ozan sudah ada di kamar mereka. Baru semalam Ozan pulang lebih cepat dari biasanya, tapi semalam juga Elena mendapatkan fakta yang paling menyakitkan hatinya. Dimana dia harus mendengar percakapan suami dan kakak laki-laki Elena sendiri.
Sejak semalam, Elena menyadari satu hal. Selama ini Ozan mengatakan akan lembur di kantor, itu bukan semata-mata karena pekerjaan, tapi karena ingin menghindari dirinya. Dia merasa tidak nyaman di samping Elena, dia merasa sangat lelah, jijik dan ingin segera mengakhiri sandiwaranya.
Dia ingin segera menyingkir Elena dalam hidupnya, dan mencurahkan segala perhatian dan kasih sayang juga cintanya pada wanita yang benar-benar dia cintai. Kakak Elena sendiri. Gracia.
"Tapi Non... Tuan Ozan itu sangat menyayangi Non Elena, Bibi yakin dia akan meninggalkan pekerjaannya demi bisa merawat Non Elena dalam kondisi seperti ini. Terlebih lagi saat ini Non Elena sedang mengandung anaknya!" ucap bibi Mila.
Semua orang percaya jika Ozan benar-benar tulus mencintainya, tulus dengan kasih sayangnya. Bahkan ibu dan ayah Ozan pun berpikir demikian. Bahkan jika Elena tidak mendengarkan percakapan mereka semalam, Elena juga masih akan sangat percaya jika Ozan memang benar-benar laki-laki yang berbeda.
Ozan adalah penyelamatnya, Ozan adalah malaikat yang dikirim sang pencipta untuk merengkuhnya dalam rasa getir yang menyayat hati, saat dia bahkan berada dalam rengkuh keluarganya sendiri. Keluarga yang bahkan tidak pernah menganggap keberadaannya sebagai anugerah, tapi justru menganggapnya sebagai sesuatu yang membuat takdir keluarganya hancur.
Iya... Bahkan ayahnya sendiri menganggap Elena anak pembawa sial. Anak yang di ciptakan dengan garis kesialan yang tanpa ujung, dan kali ini Elena bahkan percaya hal itu. Percaya jika dia memang tidak pernah di ciptakan untuk mendapatkan sedikit saja kebahagiaan, bahkan dia merasa cinta untuknya itu hanya sebuah khayalan semata.
"Tidak perlu Bi. Aku sudah merasa aman dan baik-baik saja selama ada Bibi. Tenanglah!" ucap Elena akhirnya dan paruh baya itu semakin terlihat sendu.
Dia mengusap kelopak matanya yang terasa memburam, lalu menyentuh d**a sebelah kirinya, karena rasa harunya.
Sungguh, bibi Mila pun merasa mendapat kehormatan bisa menemani Elena sejauh ini. Dia tidak akan pernah merasa lelah meski Elena memintanya tetap berada di sampingnya sampai dia menutup mata. Dia bahkan rela sisa usianya dia habiskan untuk merawat anak yang saat ini masih berada dalam kandungan Elena.
"Terima kasih Non. Terima kasih sudah percaya sama Bibi!" ucap bibi Mila dengan suara terbata, tapi detik berikutnya Elena justru meraih tangan wanita itu untuk dia genggam.
"Tidak... Harusnya Elena yang berterima kasih sama Bibi, karena sudah sangat sabar sama Elena. Sudah mau menemani Elena sejauh ini. Elena gak tahu akan jadi apa Elena jika Bibi gak ada. Mungkin Elena sudah jadi may....!"
"Husttt. Non jangan bilang kek gitu. Bukankah dari dulu Bibi itu memang sudah sama Non Elena. Non Elena sudah Bibi anggap seperti putri Bibi sendiri. Jadi stop bicara yang aneh-aneh!" potong bibi Mila karena tahu kemana arah pembicaraan Elena. "Ingat... Akan ada pelangi setelah badai hujan melanda, dan Bibi tahu... Tuan Ozan adalah pelangi yang sang pencipta kirim untuk Non Elena. Semua sudah berlalu. Sekarang Non Elena sudah bahagia!" ucap bibi Mila.
Percayalah; kalimat yang baru saja diucapkan oleh Bibi Mila seharusnya menjadi madu manis di hati Elena, akan tetapi nyatanya kata-kata itu justru menjadi duri yang menancap tajam dan sengaja mencabik-cabik bilik hati Elena... Karena faktanya... Ozan tidak datang sebagai pelangi dalam hidup Elena, tapi justru kabut hitam yang sedang menggunakan topeng sang surya untuk menutupi sisi gelapnya.
Elena tersenyum. Senyum getir yang terpaksa Elena balut dengan manis hanya agar kepercayaan wanita di depannya itu tidak runtuh seperti kepercayaan dirinya saat ini.
"Iya...!" balas Elena, berusaha tetap tegar, meski sebenarnya dia sudah tidak lagi sanggup menerima kenyataan ini.
"Eehm baiklah. Bibi mau ke swalayan lantai bawah. Mau beli sabun dan tissu basah buat Non Elena... Kira-kira, selain tissu, Non Elena mau Bibi belikan apa lagi?" tanya bibi Mila dengan nada suara yang terdengar sangat lembut, dan Elena kembali tersenyum.
"Kalo boleh... Elena mau yogurt kek kemarin Bi. Yang rasa mangga dan strawberry!" ucapnya dengan sorot mata berbinar pernuh harapan. Elena bahkan mengucapkan itu sambil menggenggam kedua tangannya sendiri dan menopang dagunya, seperti gaya anak-anak ketika menginginkan sesuatu dari ibunya, dan sikap seperti itulah yang selalu membuat Bibi Mila merasa gemas.
"Akan Bibi belikan!" ucapnya. "Apa lagi?" tanya bibi Mila lagi, tapi kali ini Elena langsung menggeleng.
"Tidak. Elena hanya ingin itu saja!" ucapnya dan wanita paruh baya itu langsung mengangguk.
"Baiklah. Non Elena tunggu ya. Bibi gak akan lama kok. Istirahat saja dulu!" ucap Bibi Mila yang di jawab anggukan oleh Elena.
Elena menatap punggung wanita tua itu keluar dan menghilang dari balik , dan mendadak tenggorokan Elena kembali terasa kering. Elena bangkit dari duduknya, berniat ingin turun dari ranjang rumah sakit itu, dan mengambil air mineral yang bibi Mila letakan di meja sofa tidak jauh dari ranjangnya.
Sebenarnya Elena bisa saja memencet bel dan meminta bantuan perawat untuk membantunya. Namun Elena merasa ini terlalu sepele, dan khawatir jika dia akan merepotkan perawat itu. Jadi Elena berusaha menguatkan dirinya.
Saat Elena berhasil mengambil air mineral itu, Elena juga langsung meminumnya setengah, dan dari arah dia berdiri, samar-samar Elena mendengar.....