Elena sedang merasa sangat bosan, nisan rebahan, jadi dia turun dari atas ranjang untuk mengambil air mineral di meja sofa, saat tiba-tiba Elena mendengar percakapan para suster di luar ruangan.
"Ooh dia benar-benar sangat beruntung ya. Punya keluarga kaya raya. Papa yang penyayang, dua kakak laki-laki yang perhatian, dan pacar yang penuh cinta. Kita kapan bisa punya keluarga kayak gitu?!" suara pertama, dan Elena diam sejenak, dan menajamkan indra pendengarannya.
"Iya. Dia hanya kecapean, dan nyaris pingsan saat akan menuruni anak tangga rumahnya, tapi kedua kakak laki-lakinya justru menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit, lalu pacarnya pun ikut menyusul ke sini!" jawab suster lain.
"Bukan... Aku dengar dia mengidap penyakit serius. Leokimia. Jadi keluarganya hanya merasa khawatir yang berlebihan!" timpal suster yang lain.
"Tapi dia tidak tampak sakit tuh. Dia tampak sehat... Gak ada tanda-tanda di wajahnya kalo dia punya penyakit separah itu!" saut suster yang lain lagi.
"Kamu benar. Aku bahkan tidak percaya kalau dia sakit jika kamu tidak mengatakannya. Secara wajahnya tampak berseri-seri... Meskipun iya... Nada suaranya memang terdengar lemah, tapi jika dilihat dari gestur tubuh dan ekspresi wajahnya, dia tampak seperti wanita normal pada umumnya, bahkan rona wajahnya jauh lebih baik dibandingkan kita yang dinyatakan sehat!" ucap suster yang sebelumnya lagi.
"Betul... Aku pun sempat berpikir demikian...!"
"Hustt... Jangan keras-keras. Entar menganggu pasien lain!" ucap suster lainnya lagi.
"Jika pasien yang di lantai sembilan terlalu beruntung, pasien di unit nomer tiga di bangsal ini justru sebaliknya!" ucap suster lainnya. Entah yang mana, Elena sendiri tidak melihat siapa yang dia maksud.
"Kenapa dengannya?"
"Dia sedang hamil, dan kondisinya sangat memprihatinkan. Dia datang dalam keadaan berlumut darah, dan sudah melakukan transfusi darah beberapa kantung. Namun sejak pagi tadi sampai sekarang , tidak satupun anggota keluarganya yang menemani. Bahkan suaminya pun belum terlihat. Hanya wanita yang di duga asisten rumah tangganya yang dari tadi bolak balik dengan perasaan cemas!" ucapnya lagi.
"Ooh kasihan sekali!" seru suster lain lagi.
"Ooh apa maksud kamu, Nyonya Elena?!" suara seseorang berseru dan mendadak degup jantung Elena berpacu lebih keras saat namanya di sebut.
"Hustt. Pelankan suaramu!" seru perawat tadi, dan kompak mereka terkekeh. "Iya...! Dia pasien yang juga cukup sering berada di rumah sakit ini, tapi memang sampai saat ini, kami belum pernah melihat siapa suami Nyonya Elena!" ucapnya lagi.
"Kata asisten rumah tangga yang selalu menemaninya, suami Nyonya Elena itu laki-laki kaya, penuh cinta. Dia pekerja keras, seorang CEO muda , tapi iya... Laki-laki itu sama sekali tidak pernah terlihat menemani Nyonya Elena selama di rumah sakit!" saut suster itu lagi.
"Eeehm... Apa jangan-jangan Nyonya Elena itu menikah karena perjodohan ya. Kayak laki-lakinya gak begitu mencintainya, tapi terpaksa menikahi Nyonya Elena demi sesuatu... Kayak di cerita-cerita novel gitu...!" seru yang lain lagi.
"Iya kali...!" jawabnya dan setelah itu suara itu menghilang, sepertinya mereka sudah melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing, karena saat Elena sampai di pintu ruangannya, dia tidak melihat siapapun di koridor itu.
Elena mendadak penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.... dan ingin melihat siapa wanita yang di maksud terlalu beruntung itu.
Elena mencabut selang infusnya sendiri, lalu dengan langkah lemah dia keluar dari ruangannya. Berjalan ke arah koridor timur, ke arah tangga , berbanding terbaik dari arah barat, di mana di sana ada lift yang bisa Elena gunakan dengan lebih mudah untuk sampai ke lantai bawah atau atas bangunan itu.
Elena memilih lewat tangga, agar dia tidak perlu melewati area resepsionis bangsal itu, dan dengan langkah terhuyung, Elena berjalan menyusuri dinding dan naik dengan sangat pelan menuju lantai sembilan.
Elena tahu jika saat ini Elena sedang berada di lantai tujuh, jadi dia hanya perlu menaiki dua lantai untuk sampai di lantai sembilan.
Sesekali dia berpapasan dengan pengunjung rumah sakit yang lain, tapi Elena mengabaikannya.
Saat Elena sampai di lantai sembilan, Elena berjalan ke arah timur, karena tahu bangsal yang di maksud perawat tadi ada di bagian sana.
Elena ingat jika tadi mereka mengatakan ruangan VVIP nomer satu... Dan saat Elena masuk area itu, Elena langsung menemukan ruangan yang mereka maksud.
Dengan sangat pelan Elena berjalan ke arah sana. Tidak ada yang begitu memperhatikan Elena. Elena yang menggunakan pakaian rumah sakit tentu saja membuatnya di kira pasien di bangsal itu.
Elena melangkah dengan perasaan ragu, tapi sesuatu yang kuat terus saja mendorongnya untuk tetap melangkah ke pintu nomer satu.
Dari celah kaca di daun pintu, Elena melihat ke dalam... dan benar saja, pasien di dalam sana adalah Gracia. Kakak Elena sendiri.
Tampak Gracia di temani oleh ayah mereka, Tuan Cakra Wiratmaja, dan kedua kakak laki-lakinya, Aldo dan Arlon Wiratmaja. Di samping Gracia juga ada Ozan... Suami Elena.
Elena melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sikap Ozan pada Gracia. Ozan duduk tepat di samping Gracia, bersandar di kepala ranjang besi itu, dengan mangkuk kecil dan garpu di tangannya.
Ada potongan buah di ujung garpu itu, dan dengan sangat manisnya Ozan menyuapi Gracia potongan buah yang sudah di kupas itu ke mulut Gracia.
Ozan tersenyum, senyum menyemangati, dan Gracia balas tersenyum saat menerima suapan laki-laki yang statusnya adalah adik iparnya itu.
Ozan bahkan tidak pernah melakukan itu padanya. Tidak pernah menemaninya selama di rumah sakit, apa lagi bersikap manis dengan menyuapinya seperti itu. Tidak pernah sama sekali, meskipun iya... Saat di rumah Ozan akan bersikap sangat lembut, dan penuh cinta, tapi itupun hanya beberapa saat. Setelahnya Ozan akan punya alasan untuk meninggalkannya , atau justru meninggalkan rumah.
Entah itu karena panggilan telpon dari orang tuanya, partner bisnisnya, atau temannya yang mengatakan ada urusan penting.
Degup jantung Elena semakin terasa bergemuruh, saat Gracia mengucap terima kasih , lalu mengecup pipi Ozan dengan sangat manis... Sedangkan ayahnya, Cakra Wiratmaja, juga kedua kakak laki-lakinya ikut tersenyum melihat interaksi antara Ozan dan Gracia. Seolah mendukung apa yang mereka lakukan. Padahal mereka tahu jika Ozan adalah laki-laki bersuami, dan Ozan adalah suami dari putri bungsunya, adik bungsu kedua laki-laki tampan dengan setelan jas mahalnya itu.
Elena memegang d**a sebelah kirinya, merasakan sakit yang teramat sakit, saat Gracia.....