Elena berdiri membeku di depan pintu ruang VVIP nomer satu.
Tubuhnya memang berada di sana, tetapi jiwanya terasa seperti tertinggal jauh di belakang. Kakinya seolah menancap ke lantai, tidak mampu melangkah maju ataupun mundur. Hanya matanya yang terus menatap pemandangan di dalam ruangan, pemandangan yang perlahan-lahan menghancurkan seluruh pertahanan yang selama ini dia bangun dengan susah payah.
Ozan membalas kecupan Gracia di kening wanita itu. Dia masih duduk di samping ranjang Gracia, memperhatikan setiap gerakan wanita itu seolah Gracia adalah sesuatu yang sangat berharga. Dengan penuh kesabaran, Ozan kembali memotong buah menjadi bagian-bagian kecil, lalu menyuapkannya satu per satu ke mulut Gracia.
Tatapan matanya penuh perhatian. Penuh kelembutan. Penuh kepedulian... Dan jelas di sini Elena bisa melihat ada ketulusan di setiap aksi Ozan.
Hal-hal yang selama ini Elena cari dalam pernikahan mereka. Hal-hal yang selama ini tidak pernah benar-benar Elena dapatkan secara sempurna. Hal sepele yang bahkan sempat menjadi impian Elena.
Tenggorokan Elena terasa tercekat. Dia berusaha mengingat. Berusaha keras mengingat apakah pernah ada satu hari saja di mana Ozan menemaninya seperti itu saat dirinya sakit.
Tidak ada.
Saat dia demam tinggi dan menggigil semalaman, Ozan hanya meninggalkan obat di atas meja sebelum kembali ke ruang kerjanya dan mengatakan jika ada file yang harus dia selesaikan dan meminta Elena untuk tidur, karena dengan cara itu rasa nyeri yang Elena rasakan akan berkurang.
Saat Elena jatuh di kamar mandi hingga lututnya berdarah, Ozan hanya bertanya apakah lukanya parah, lalu pergi menghadiri rapat... Seolah hal semacam itu sudah biasa Elena hadapi. Meski setelahnya Ozan akan pulang dan membawakannya seikat bunga, entah kenapa kali ini Elena merasa semua itu tetap tidak sebanding dengan perlakuan Ozan pada Gracia.
Lalu Saat Elena harus dirawat karena pendarahan akibat hubungan s*x yang Ozan paksakan di tengah kehamilannya , Ozan hanya datang sebentar, menanyakan kondisinya, lalu menerima panggilan telepon dan pergi dengan alasan ada urusan mendadak.
Selalu begitu. Selalu ada alasan. Selalu ada sesuatu yang lebih penting darinya.
Namun hari ini... Hari ini Elena melihat sendiri bahwa sebenarnya Ozan mampu menjadi laki-laki yang perhatian. Ozan mampu menjadi laki-laki yang lembut. Ozan mampu menjadi laki-laki yang sabar. Hanya saja... Bukan untuk Elena.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Elena. Bukan karena dia lemah. Bukan karena dia terlalu sensitif... Tetapi karena untuk pertama kalinya, kenyataan yang selama ini berusaha dia sangkal berdiri tepat di depan matanya.
Bukan Ozan yang tidak bisa menunjukkan perhatian. Bukan Ozan yang tidak pandai menunjukkan rasa cintanya... Ozan sudah sangat sempurna mencintainya dalam kepura-puraan. Namun sepertinya Ozan melupakan satu hal... Ozan lupa akan pribahasa.... 'sepandai-pandainya kamu menyembunyikan bangkai, suatu saat aromanya akan tercium'.
Iya... Anggap saja saat ini jalan kebenaran itu terbuka di depan mata Elena. Elena perlahan menyadari satu hal, bahwasanya dia tidak akan pernah punya tempat di hati ayahnya, di hati ketiga kakaknya, bahkan Elena tidak pernah benar-benar punya tempat di hati Ozan sekalipun.
Dadanya terasa sesak. Sangat sesak.
Seolah ada tangan tidak terlihat yang meremas jantungnya tanpa belas kasihan. Dia kesulitan bernapas... dan bersamaan dengan itu Gracia mengangkat kepalanya.
Melalui pantulan kaca pintu rumah sakit, mata mereka bertemu di kejauhan. Hanya sesaat. Namun Elena tahu jika Gracia melihatnya.
Gracia melihat keberadaannya yang sedang berdiri di sana. Sadar bahwa Elena sedang menyaksikan semuanya. Namun wanita itu tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun.
Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada rasa canggung. Tidak ada usaha menjelaskan apa pun, tapi justru sebaliknya...
Gracia justru perlahan menundukkan kepala. Wajahnya berubah pucat. Tubuhnya tampak melemah... dengan suara lirih yang dibuat-buat, Gracia memegang kepalanya.
"Ozan... aku tiba-tiba pusing..."
Kalimat itu langsung membuat Ozan panik.
"Oh..., jangan memaksakan diri," ucap Ozan lembut.
Tanpa ragu, Ozan merangkul bahu Gracia. Menarik tubuh wanita itu mendekat ke dadanya.
Gerakan yang begitu spontan. Begitu alami. Seolah tubuhnya bergerak lebih cepat dari pada pikirannya.
Elena menatap pemandangan itu tanpa berkedip. Sementara Ozan mengusap kepala hingga punggung Gracia dengan penuh rasa iba.
"Tenang... aku di sini" ucap Ozan menenangkan. Kalimat itu jelas terlihat dari gerak bibir Ozan.
'Aku di sini'.
Tiga kata sederhana. Tiga kata yang selama ini ingin Elena dengar. Tiga kata yang selalu dia tunggu saat dunia terasa berat. Tetapi hari ini... Tiga kata itu diberikan kepada orang lain, bukan kepada Elena, istrinya.
Bukan kepada wanita yang menghabiskan malam-malamnya menunggu kepulangannya. Bukan kepada wanita yang saat ini sedang mengandung darah dagingnya. Bukan kepada wanita yang terus mencari alasan untuk membenarkan setiap ketidakberadaan laki-laki itu di sampingnya... Melainkan kepada Gracia. Wanita yang sejak dulu selalu menjadi pusat perhatian keluarganya. Ayah, dan kedua kakak laki-lakinya.
Wanita yang selalu mendapatkan apa pun yang dia inginkan... Dan kini... Bahkan mendapatkan perhatian Ozan, suami Elena... Adik iparnya sendiri.
Perlahan Gracia menyandarkan kepalanya ke d**a Ozan. Bersikap rapuh. Bersikap lemah. Bersikap seolah hanya Ozan yang bisa menjadi tempat bergantung.
Lalu... Dengan gerakan yang sangat pelan. Sangat hati-hati.... Gracia mengangkat wajahnya. Matanya kembali mencari pantulan kaca pintu. Mencari keberadaan Elena... Dan saat menemukan Elena masih berdiri di sana... Senyuman kecil muncul di sudut bibirnya. Senyuman yang begitu tipis hingga orang lain tidak akan menyadarinya. Namun Elena melihatnya dengan sangat jelas. Sangat jelas.
Senyuman kemenangan. Senyuman ejekan. Senyuman seorang pemenang yang sedang memamerkan trofinya. Seolah Gracia sedang berkata,
~~~"Lihatlah. Lihat siapa yang memilihku. Lihat siapa yang lebih dipedulikannya. Lihat siapa yang lebih penting baginya."~~~
Air mata Elena kembali jatuh... Diam-diam membasahi pipi Elena... Lalu disusul air mata berikutnya... dan berikutnya lagi. Namun tidak ada suara tangisan.... karena beberapa rasa sakit terlalu dalam untuk diterjemahkan menjadi tangis.
Ada luka yang begitu besar hingga bahkan air mata terasa tidak cukup untuk menggambarkannya.
Elena merasa seperti seseorang yang berdiri di tengah hujan deras tanpa tempat berteduh. Sendirian. Dingin... dan tidak diinginkan... dan yang lebih menyakitkan lagi _________ orang yang menyakitinya itu adalah keluarganya sendiri.
Ayahnya. Kedua kakak laki-lakinya, juga Gracia.
Mereka semua melihat apa yang terjadi. Mereka semua tahu Ozan adalah suaminya. Namun tidak satu pun dari mereka merasa ada yang salah dengan sikap Ozan dan Gracia.
Tidak satu pun dari mereka menegur. Tidak satu pun dari mereka melindunginya. Mereka hanya tersenyum. Tersenyum seolah pemandangan itu adalah sesuatu yang wajar... dan pada saat itu Elena menyadari sesuatu __________ mungkin selama ini dia memang sendirian. Sendirian dalam keluarga yang seharusnya menjadi tempat dia pulang dan berlindung. Sendirian dalam pernikahan yang seharusnya menjadi tempatnya bersandar. Sendirian dalam hidup yang seharusnya dipenuhi orang-orang yang mencintainya.
Sungguh sangat menyedihkan. Elena berjuang mati-matian untuk mempertahankan semua hubungan itu, sementara orang-orang yang dia perjuangkan bahkan tidak pernah benar-benar memilih dirinya.
Elena menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan isak yang hampir keluar, karena jika pun dia menangis di sana, tidak akan ada yang peduli. Tidak akan ada yang datang memeluknya. Tidak akan ada yang berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja... Sebab perhatian mereka semua sedang tertuju pada Gracia.
Selalu Gracia... dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Elena tidak lagi merasa marah. Dia hanya merasa lelah. Sangat lelah.
Lelah berharap. Lelah menunggu. Lelah meyakinkan dirinya bahwa suatu hari nanti ayah dan ketiga kakaknya akan melihatnya. Bahwa suatu hari nanti dia akan menjadi seseorang yang cukup berharga untuk dicintai... karena hari ini kenyataan telah menjawab semuanya.... dan jawaban itu terasa lebih tajam dari pada ujung pedang mana pun.
Perlahan Elena mengusap air matanya. Kemudian menatap sekali lagi ke dalam ruangan itu. Melihat Ozan yang masih memeluk Gracia. Melihat Gracia yang menyembunyikan senyum kemenangannya. Melihat keluarganya yang tampak bahagia... lalu Elena tersenyum.
Bukan senyum bahagia. Bukan senyum lega. Melainkan senyum seseorang yang hatinya baru saja hancur berkeping-keping..., karena terkadang, bagian paling menyakitkan dari sebuah pengkhianatan bukanlah saat seseorang meninggalkan kita..., melainkan saat kita menyadari bahwa mungkin sejak awal, mereka tidak pernah benar-benar memilih kita.
Elena pilih kembali ke ruang rawat inapnya, dan kali ini dia memilih lewat lift. Namun baru saja Elena keluar dari dalam lift, tiba-tiba....