Rasa kecewa dan sakit hati membuat Elena benar-benar kehilangan kepercayaan. Namun meski demikian, dia tidak berteriak, dia tidak memberontak.
Entah takdir indah seperti apa yang sedang sang pencipta siapkan untuknya, hingga Elena harus di tempa sedemikian rupa dengan rasa sakit dan kecewa yang bahkan nyaris menghancurkan segala keyakinannya. Keyakinannya atas sebuah takdir, keyakinan atas adanya hari indah itu, keyakinan akan adanya setitik kebagian untuknya, karena sejauh yang Elena dapatkan sampai hari ini adalah kekecewaan, dan rasa sakit hati semata.
Ingatan Elena. kembali ke beberapa waktu lalu, saat dia di larikan ke rumah sakit ini oleh sopir keluarga Ozan. Waktu itu dia di rawat hampir satu Minggu di rumah sakit akibat pendarahan yang sama seperti hari ini. Namun selama satu Minggu itu juga Ozan tidak datang sekalipun untuk melihat kondisinya.
Ozan mengatakan jika dia sedang berada di luar negeri, sedang mengurus kerja sama dengan dua perusahaan besar dan balum bisa pulang dalam waktu dekat. Meskipun saat itu Ozan berkali-kali melakukan panggilan video untuk melihat kondisi Elena, dan meyakinkan Elena jika dia benar-benar sedang di luar negeri, nyatanya Elena tahu jika sebenarnya saat itu Ozan tidak di luar negeri.
Elena tahu jika Ozan sedang menemani Gracia jalan-jalan, menemani Gracia yang ingin liburan ke pantai, dan bermain papan selancar.
Elena tahu itu dari postingan yang Gracia bagikan di akun sosial media miliknya.
Meskipun di postingan itu, Gracia tidak sampai menunjukkan wajah Ozan secara langsung dan hanya menunjukkan tangan Gracia yang di genggam oleh tangan besar seorang laki-laki, akan tetapi Elena mengenali tali merah di lengan kanan Ozan. Tali merah yang dia buat sendiri dan dia pakaikan di lengan kanan Ozan yang Elena yakini sebagai tali pelindung untuk suaminya.
Meskipun sebelumnya Ozan menyangkal hal itu, dan mengatakan jika tidak hanya dia yang memiliki tali seperti itu, akan tetapi Ozan lupa, tidak semua orang memiliki tanda lahir di lengan kanannya. Tanda lahir menyerupai dua titik tahi lalat kembar diantara ibu jari dan jari telunjuknya, juga bekas luka jahit di punggung tangannya.
Waktu itu Elena tidak memperpanjang masalah itu. Elena menganggap dirinya yang terlalu berprasangka buruk, dan membenarkan ucapan Ozan yang mengatakan memang tidak hanya Ozan yang memiliki tali di pergelangan tangannya. Ada banyak orang yang meyakini hal yang sama dengan Elena dan mungkin salah satunya adalah laki-laki yang saat itu dekat dengan Gracia.
Elena juga bukan orang yang suka membuat masalah menjadi berbelit-belit. Saat itu, ketika Ozan pulang dari luar negeri dan Elena juga pulang dari rumah sakit, Ozan memberikan hadiah berupa kalung dengan liontin hati sebagai tanda permintaan maaf Ozan karena tidak bisa menemani Elena selama berada di rumah sakit.
Saat itu Elena sangat senang, saking senangnya dia sampai melupakan fakta bahwasanya selama hidupnya dia terus-menerus dicap sebagai anak pembawa sial oleh ayah juga ketiga saudaranya.
Elena merasa sudah membebaskan dirinya dari kalimat pembawa sial itu ketika dia akhirnya menikah dengan Ozan yang menurut Elena mencintainya seperti dia mencintai laki-laki itu. Namun sekarang semua ini semakin jelas, dan di perkuat oleh ucapan para suster sebelumnya.
~~~"Dia pasien yang juga cukup sering berada di rumah sakit ini, tapi memang sampai saat ini, kami belum pernah melihat siapa suami Nyonya Elena!"~~~
~~~"Kata asisten rumah tangga yang selalu menemaninya, suami Nyonya Elena itu laki-laki kaya penuh cinta. Dia pekerja keras, seorang CEO muda , tapi iya... Laki-laki itu sama sekali tidak pernah terlihat menemani Nyonya Elena selama di rumah sakit, padahal Nyonya Elena sedang hamil anak laki-laki itu."~~~
~~~"Eeehm... Apa jangan-jangan Nyonya Elena itu menikah karena perjodohan ya. Kayak laki-lakinya gak begitu mencintainya, tapi terpaksa menikahi Nyonya Elena demi sesuatu... Kayak di cerita-cerita novel gitu...!"~~~
Para suster di rumah sakit itu saja menyadari kenyataan jika Elena terlihat seperti wanita yang hamil tapi tidak memiliki suami. Wanita menyedihkan yang bahkan tidak memiliki sanak keluarga selain asisten rumah tangga yang selalu setia menemaninya.
Para suster itu sampai merasa iba padanya, karena berpikir jika dia adalah wanita yang tidak di cintai dan tidak di inginkan keluarganya, tanpa mereka ketahui bahwasanya Elena adalah salah satu bagian dari keluarga yang mereka kagumi.... tapi memang benar, Elena adalah bagian yang terbuang dan paling tidak di inginkan oleh keluarganya.
Setelah menyaksikan drama manis keluarganya, Elena pilih kembali ke ruang rawat inapnya, dan kali ini dia memilih lewat lift. Elena merasa tubuhnya tidak sanggup jika harus turun lewat tangga lagi. Namun baru saja Elena keluar dari dalam lift lantai tujuh, tiba-tiba tubuh Elena limbung. Pandangannya terasa buram, dan detik berikutnya dia merosot ke lantai sambil memeluk perut buncitnya.
"Elena...!" seru seorang wanita yang dari tadi panik mencarinya kemana-mana, tapi kini dia justru melihat Elena keluar dari dalam lift dan limbung.
Tiga orang suster yang juga sedang mencarinya juga ikut berlari ke arahnya, dan langsung membantu Elena untuk bangkit dari duduknya.
Mereka mendudukan Elena di kursi roda lalu buru-buru membawa Elena kembali ke ruang rawat inapnya. Kembali memakaikan Elena infusnya, dan menyuntikkan obat penenang pada Elena, karena Elena tampak seperti orang syok.
Matanya terbuka , air asin juga ikut merembes di sela pelipisnya, tubuhnya terasa kaku, degup jantungnya juga berpacu lebih cepat dari biasanya.
Elena tidak merespon saat di tanya, dia hanya diam sambil menggigit belah bibirnya sendiri, dan kondisi ini sangat tidak baik untuk janin dalam kandungannya, maka penanganan tepat yang harus mereka lakukan adalah memberikan Elena suntikan penenang... dan benar saja, selang beberapa menit setelah cairan itu masuk dalam tubuh Elena... Perlahan tubuh Elena melemas, nafasnya terlihat lebih ringan, dan menit berikutnya kelopak mata Elena terpejam rapat.
"Ooh Non Elena... Apa yang terjadi denganmu, Sayang. Kenapa Non malah keluar dan meninggalkan kamar Non!" rancau bibi Mila.
Paruh baya itu tidak sekalipun melepas genggaman tangannya di tangan Elena. Air matanya jatuh seperti aliran air. Dua suster di sampingnya hanya menatap iba pada Elena juga wanita itu.
"Kenapa tidak meminta suaminya untuk datang dan menemani Nyonya Elena," ucapnya lembut seraya memperbaiki laju aliran infus Elena.
Bibi Mila hanya menghela nafas, sebelum akhirnya dia melepasnya dengan kasar. "Dia sedang sibuk. Non Elena bilang , Tuan Ozan tadi pagi izin akan keluar kota memantau proyeknya, dan akan pulang terlambat. Non Elena juga meminta saya untuk tidak menghubungi Tuan Ozan, karena takut mengganggu pekerjaan Tuan Ozan!" ucap bibi mengulang beberapa kata yang sebelumnya Elena sampaikan padanya, saat bibi Mila mengatakan akan pulang dan menyampaikan pada Ozan jika dia di rawat di rumah sakit.
"Jadi nama suami Nyonya Elena itu, Tuan Ozan...?" kutip perawat cantik dengan tahi lalat di sebelah pipinya, dan bibi Mila langsung mengangguk.
"Iya. Suami Non Elena itu Tuan Ozan. Ozan Caspian. Putra tunggal Tuan Caspian," ucap bibi Mila memperjelas ucapannya, dan kedua suster itu langsung saling pandang, dengan dahi yang sama berkerut.
Pasalnya mereka merasa tidak asing dengan nama itu, akan tetapi mereka tetap tidak bisa menyimpulkan dengan pasti apa yang saat ini mengganjal dalam pikirannya.
"Ozan Caspian...?" kutip suster berbadan lebih pendek itu lagi dan bibi Mila langsung mengangguk.
"Iya... Ozan Caspian. Saya yakin kalian pasti mengenalnya. Dia juga sering nongol di televisi sebagai pengisi acara bincang bisnis. Saya sering menontonnya sama Non Elena!" seru bibi Mila lagi dan kedua suster itu kembali saling tatap, seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja paruh baya itu sampaikan.
"Wait... Wait...wait... Maksud Ibu... Suami Nyonya Elena itu Ozan Caspian, si karismatik dan selalu tampil memukau itu kah...?!" kutip suster dengan tahi lalat di pipinya itu, dan bibi Mila langsung mengangguk dengan senyum cemerlangnya.
"Iya!" jawabnya cepat, tapi kedua suster itu tetap tidak percaya.
Mereka lantas merogoh saku bajunya, lalu mengeluarkan ponsel miliknya, dan mencari poto Ozan Caspian di salah satu website di ponselnya, dan setelah mendapatkannya, dia langsung menunjukkan poto itu pada bibi Mila.
"Maksud Ibu... Ozan Caspian yang ini kah...?!" tanyanya memastikan.
Bibi Mila langsung menatap layar ponsel suster itu, lalu memperhatikan gambar yang sedang perawat itu tujukan padanya, dan benar saja... Itu adalah poto Tuan Ozan, suami Elena.
"Iya... Yang ini!" seru bibi Mila, dan kembali kedua suster itu saling pandang.
Ingin rasanya mereka tertawan terbahak-bahak, saat wanita itu mengatakan jika suami majikannya adalah Ozan Caspian, putra tunggal Tuan Caspian, CEO perusahaan Caspian group. Laki-laki terpandang yang terkenal dengan sisi lembut dan karismatik nya.
Entah sudah berapa banyak wanita yang mengaku sebagai kekasih laki-laki mapan itu, tapi sejauh yang mereka tahu, Ozan belum pernah mempublikasikan hubungannya dengan wanita manapun. Yang mereka tahu selama ini , Ozan Caspian hanya dekat dengan Nona Gracia, tapi kedekatan itupun tidak sampai terpublikasi, hanya di kalangan perawat rumah sakit yang tahu hal ini. Namun kali ini... seseorang cukup berani mengaku sebagai istri Ozan Caspian.
Bibi lantas meraih ponsel milik Elena, lalu membuka layar ponsel itu. Bibi Mila tahu jika Elena memang tidak memasang kunci layar di ponselnya, dan dia juga sering melihat isi beranda layar ponsel Elena, karena Elena mengizinkannya.
Bibi Mila lantas membuka satu galeri yang penuh dengan poto Elena dan Ozan, termasuk poto pernikahan Elena dan Ozan yang Elena jadikan wallpaper di ponselnya.
Kedua perawat itu benar-benar memperhatikan poto-poto itu, dan untuk sesaat mereka berpikir jika mungkin poto itu adalah buatan AI, mengingat saat ini sedang marak hal yang demikian. Namun semakin mereka perhatikan... Mereka semakin yakin jika poto itu asli.
Terlihat beberapa poto itu sedikit blurr, dan kadang di ambil dari sudut yang tidak pas, tapi tetap menunjukkan wajah asli Ozan di dalamnya, bahkan di poto pernikahan itu juga ada kedua orang tua Ozan. Tuan Caspian, dan mendiang Nyonya Caspian.
Bagian yang paling membuat mereka tidak kalah bingung adalah, di poto itu juga ada Aldo dan Arlon, tapi tidak ada Grace dan Tuan Cakra Wiratmaja.
"Kalo yang ini siapa Bu...? Aku kek kenal sama dia , tapi lupa... pernah kenal di mana?!" seru suster itu seraya menunjuk poto berlatar altar dimana di sana ada Elena, Ozan, kedua orang tua Ozan, juga Aldo dan Arlon.
"Ooh yang ini...!" seru bibi Mila dengan senyum cemerlangnya. "Mereka kakak laki-laki Non Elena. Den Aldo , dan yang ini Aden Arlon!" ucap bibi Mila menunjuk ke Aldo dan Arlon dengan sangat tepat, tanpa terbalik sama sekali.
Kedua suster itu kembali saling pandang. Jelas terdengar nada ketegasan dari nada suara paruh baya itu. Dia tidak salah menyebut nama, dan mungkin itu artinya apa yang dia ucapkan memang benar adanya.
"Jadi Aldo dan Arlon ini kakak laki-lakinya Nyonya Elena...?!" kutip kedua suster itu, dan bibi Mila langsung mengangguk dengan sangat cepat.
"Iya!"
"Kalo Aldo dan Arlon adalah kakak laki-laki Nyonya Elena, lalu Gracia...?!" seru suster itu lagi.
"Non Gracia juga kakak Non Elena," jawab bibi Mila lagi. "Non Elena adalah putri bungsu dari Tuan Cakra Wiratmaja. Dia putri paling manis, paling mandiri, paling bijaksana, dan paling....!"
"Jadi Non Elena itu putrinya Tuan Cakra Wiratmaja...? Orang tua Gracia? Pasien yang saat ini di rawat di ruang VVIP nomer satu lantai sembilan, yang katanya mengidap....!"
"Husst...!" Suster yang satunya lagi menghentikan ucapan wanita itu , tapi bibi Mila langsung mendongak ke arah mereka.
"Non Gracia juga di rawat di rumah sakit ini? Non Gracia sakit juga...?!" kutip bibi Mila dan perawat itu langsung mengangguk.
"Iya. Dia ada di lantai sembilan. Area khusus VVIP nomer satu!" ucapnya , tapi bibi Mila hanya menatap dengan tatapan khawatir. Bagaimanapun Gracia juga majikannya, dia juga dulu merawat dan mengasuh Gracia. Sama seperti Aldo dan Arlon.
"Yes... Di ruangan itu juga tadi jika tidak salah liat, ada Tuan Ozan juga!" sambung suster itu lagi dan bibi Mila mengangguk paham.
Kedua suster itu meninggalkan ruang rawat inap Elena, sementara Elena sendiri sudah tenang karena pengaruh obat.
Bibi Mila meninggalkan ruangan Elena, lalu pergi ke lantai sembilan untuk memastikan apakah Gracia baik-baik saja. Namun apa yang bibi Mila liat benar-benar jauh dari apa yang dia bayangkan sebelumnya.
Iya... Pandangan bibi Mila langsung membeku di tempatnya saat melihat di ruangan itu , Gracia.....