“Jangan terlalu memanjakan calon menantumu, Althair.” Untaian kalimat bernada rendah dari Baskara Dewantara itu terus berputar-putar tanpa henti di kepala Harsa. Sejak semalam, kata demi kata tersebut mendengung layaknya kaset rusak yang enggan berhenti. Saat menyetir membelah kemacetan, saat guyuran air pancuran mandi menerpa kepalanya, bahkan saat menyikat gigi di depan cermin pagi ini, kalimat itu tidak mau enyah. Lebih parah lagi, ketika ia mencoba memfokuskan atensi pada lembar jurnal bedah saraf terbaru, deretan abjad medis itu mendadak mengabur dan justru menampilkan visual wajah lempeng Althair. “Calon menantu ...” gumam Harsa lirih. Ia meletakkan jurnal tebal di tangannya ke atas meja dengan gestur kesal. “Ini benar-benar tidak masuk akal!” Pukul enam pagi, kantin khusus staf

