Sedan tua berwarna perak kusam itu bergerak perlahan, berbelok membelah aspal keluar dari gerbang utama rumah sakit. Di belakangnya, Harsa sengaja menjaga jarak aman sekitar tiga mobil agar keberadaannya tidak memicu kecurigaan. “Jangan sampai ketahuan,” gumam Harsa pada kesunyian kabin kemudinya sembari sedikit mengurangi injakan pada pedal gas. Sampai detik ini, logikanya sendiri masih menolak percaya bahwa ia sedang melakukan aksi pembuntutan terhadap sahabat karibnya sendiri. Jika sampai Jevan atau Kavi mengetahui kelakuan konyolnya malam ini, Harsa sangat yakin dirinya akan menjadi bahan rasisme dan lelucon yang ditertawakan selama satu minggu penuh di grup obrolan. Namun, rasa penasaran di kepalanya sudah telanjur menang telak atas rasa malunya. Malam ini, suka atau tidak, Harsa h

