“Ada yang disembunyikan.” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Harsa di tengah riuhnya ruang makan staf siang itu. Jevan yang sedang asyik menyantap mi ayam seketika langsung tersedak hebat. Kavi dengan sigap menyodorkan segelas air hangat, sementara Thala bahkan tidak mengangkat kepalanya dari layar tablet. Mereka sudah terlalu sering mendengar kalimat pembuka semacam itu dari Harsa, yang biasanya berakhir dengan teori aneh atau investigasi mandiri yang tidak diminta siapa pun. “Apa lagi sekarang?” tanya Jevan setelah berhasil mengatur napasnya kembali normal. Harsa menyipitkan matanya, menatap lurus ke depan dengan ekspresi serius. “Althair.” Jevan langsung mengeluh keras, meletakkan sumpitnya ke mangkuk. “Lagi? Harsa, kamu ini lama-lama terlihat lebih terobsesi sama Althair dar

