Ruang dokter spesialis sore itu terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Jevan duduk santai di atas tepi meja kerja sembari memutar-mutar pena. Kavi sibuk menatap layar laptop yang menyala terang. Thala menggeser-geser layar ponselnya untuk meneliti dokumen digital, sementara Harsa berdiri tegap di dekat jendela kaca besar sembari membaca beberapa lembar berkas cetak. Di tengah-tengah lingkaran mereka, Zayna berdiri dengan raut wajah yang jelas memperlihatkan rasa tidak nyaman. ”Aku sudah bilang berkali-kali, aku bisa mengurus semua masalah administrasiku sendiri,” tegas Zayna dengan intonasi memagari diri. Harsa mengangkat kepalanya dari lembaran kertas, menatap Zayna tenang. “Kami tahu kamu sanggup.” ”Lalu kenapa kalian semua masih ikut campur sejauh ini?” ”Karena proses adminis

