Pagi itu, area sekitar papan pengumuman digital akademik di selasar utama lantai empat Dewantara Medika sudah dikerumuni oleh para mahasiswa dan dokter muda sejak sebelum jam tujuh pagi. Beberapa peserta stase berdiri berimpitan tepat di depan layar monitor besar. Ada yang membaca baris demi baris nama sambil berbisik cemas, sementara yang lain langsung membuka aplikasi ponsel pribadi untuk mencocokkan nomor induk peserta masing-masing. Zayna Valerine tiba beberapa menit kemudian. Langkah kakinya yang semula bergegas perlahan-lahan melambat begitu matanya menangkap kerumunan tegang di ujung koridor tersebut. Ia tidak langsung memberanikan diri untuk mendekat. Semalaman penuh Zayna hampir tidak bisa memejamkan mata. Bukan semata-mata karena ia takut menghadapi kenyataan penolakan atau

