Malam itu, area kantin belakang rumah sakit terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Tidak ada gemerlap dekorasi gantung yang mewah, tidak ada meja-meja panjang berbalut kain renda dengan susunan prasmanan mahal, ataupun keramahan buatan komite kedokteran yang kaku. Yang ada hanyalah kesederhanaan yang menenangkan, barisan bangku plastik merah yang disusun berdekatan, meja-meja stainless steel kusam yang menyimpan jejak tumpahan kopi, serta aroma mi goreng gurih yang membumbung tinggi, berkelindan dengan suara mendesis dari wajan di dapur kecil sudut ruangan. Zayna baru saja membiarkan tubuhnya merosot ke salah satu bangku kayu ketika langkah kaki terburu-buru memecah suasana. Jevan muncul dengan napas tersengal, kedua tangannya kewalahan menopang dua kantong plastik besar. Tanpa basa-basi,

