Kantin belakang rumah sakit perlahan-lahan mulai kehilangan keramaiannya. Suara gelak tawa yang tadinya memenuhi sudut ruangan berangsur melenyap, berganti dengan denting piring beradu dari dapur kecil yang terdengar semakin jauh. Satu per satu bangku plastik merah mulai dirapikan, meninggalkan bayangan-bayangan panjang yang jatuh di atas lantai ubin di bawah pendar lampu putih. Harsa sudah pamit lebih dulu untuk menyelesaikan urusan administrasinya, disusul oleh Thala dan Kavi yang buru-buru mengejar jam istirahat. Jevan menjadi orang terakhir yang beranjak, setelah memastikan tidak ada satu pun kotak makanan sisa yang terbuang percuma. “Besok gue tagih traktiran dokter baru, ya!” seru Jevan seraya menepuk bahu Zayna sebelum melangkah mundur. Zayna tertawa kecil sambil mengibaskan tang

