Pertanyaan Zayna masih menggantung di udara, melayang tipis di antara mereka berdua yang bergeming di dekat ambang pintu kantin belakang. Angin malam yang bertiup dingin dari luar area rumah sakit membawa keheningan yang kian pekat. Kalimat sederhana yang baru saja terlempar dari bibir Zayna itu seharusnya mudah saja dijawab oleh siapa pun. Sebuah pertanyaan lugas tentang keberlanjutan perasaan dan penerimaan. Namun, Althair justru memilih untuk bungkam. Bukan karena pria itu bingung atau tidak tahu harus merespons apa. Justru sebaliknya—ia bungkam karena terlalu paham betapa besarnya bobot jawaban yang harus ia berikan. Selama bertahun-tahun menempuh karier dan kehidupannya yang penuh tekanan, Althair selalu terbiasa mengambil keputusan krusial dalam hitungan detik. Di dalam ruang opera

