bc

Pengacara Itu Mantan Suamiku

book_age18+
134
IKUTI
1K
BACA
HE
escape while being pregnant
second chance
heir/heiress
drama
bxg
brilliant
city
cruel
lawyer
like
intro-logo
Uraian

"Selira." Suaranya mengeras sedikit. "Aku cuma mau tau satu hal."Aku menatapnya. Dan dalam detik itu, aku tahu bahwa dia sudah mencium sesuatu. Sesuatu yang selama ini kusembunyikan rapat-rapat."Waktu aku menceraikanmu..." ucapnya perlahan. Setiap kata seperti menghantam d**a, "apa kamu sedang hamil?"*Novel ini update setiap hari, jadi ditunggu ya*Subscribe supaya kamu dapat notif update novel ini.

chap-preview
Pratinjau gratis
Wajah Dari Masa Lalu
“Selira… ada tamu.” Suara petugas lapas itu terdengar datar, nyaris tanpa emosi. Namun bagiku, kalimat itu seperti palu yang menghantam d**a. Tanganku yang sejak tadi memeluk lutut langsung gemetar. Aku mengangkat wajah perlahan, menatap pintu besi yang setengah terbuka. Tamu? Tak pernah ada yang menjengukku. Sejak hari pertama aku ditahan, tak satu pun wajah yang kukenal datang. Tidak keluarga. Tidak teman. Tidak siapa-siapa. Aku berdiri dengan langkah ragu. Sandal tipis di kakiku berbunyi pelan menyentuh lantai dingin. Jantungku berdetak semakin cepat seiring langkah yang semakin dekat ke ruang tamu lapas. Dan saat pintu itu dibuka— Dunia seolah berhenti berputar. Dia berdiri di sana. Tegap. Rapi. Wajah yang dulu begitu kukenal, kini terasa asing sekaligus menyakitkan. Tatapannya tajam, tetapi menyimpan sesuatu yang tak bisa kuterjemahkan. Raka Wiratama. Nama itu seperti pisau yang mengiris ingatanku tanpa ampun. “Selira…” Suaranya masih sama. Dalam. Tenang. Dan berhasil membuat dadaku terasa sesak. Aku mematung. Kaki seakan menolak melangkah lebih jauh. Aku bahkan lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar. Bukan karena rindu, tapi karena luka yang belum sembuh tiba-tiba disobek lagi. “Kenapa kamu di sini?” tanyaku dengan suara bergetar, bahkan nyaris tak keluar. Raka menatapku lama. Terlalu lama. Seolah ia sedang menimbang sesuatu yang berat di dalam dadanya. “Aku… aku ke sini untuk menemui kamu.” Aku terkekeh kecil, getir. “Menemui aku? Setelah semua yang terjadi?” Raka menghela napas, lalu menunduk sejenak sebelum kembali menatapku. “Aku dengar kamu ditahan.” “Hebat. Kabar itu cepat sekali sampai ke telingamu,” sindirku pahit. Aku ingin terlihat kuat. Ingin tampak tak peduli, tapi tubuhku berkhianat. Tanganku bergetar. Kakiku terasa lemas. Aku masih bisa merasakan dinginnya borgol di pergelangan tangan beberapa hari lalu. Masih terngiang suara anakku yang menangis histeris saat mereka menarikku pergi. Dan sekarang… orang yang dulu meninggalkanku, berdiri di depanku seolah-olah ia punya hak untuk peduli. “Kamu gak seharusnya datang,” ucapku lirih. “Pergilah.” Raka menggeleng pelan. “Aku nggak bisa.” Aku tertawa kecil, getir. “Lucu. Dulu kamu juga bilang begitu, tapi nyatanya kamu pergi.” Raka terdiam. Tatapannya berubah. Ada sesuatu di sana. Penyesalan, mungkin. Atau rasa bersalah yang selama ini ia kubur rapi. “Aku nggak tau kamu akan… sejauh ini,” katanya akhirnya. “Sejauh apa?” aku menantang. “Dipenjara? Dituduh bandar narkoba?” Napasnya tercekat. Aku melangkah mendekat, menahan emosi yang sejak tadi bergejolak. “Kamu tau apa yang paling menyakitkan, Raka? Bukan borgol ini. Bukan jeruji besi. Tapi kenyataan bahwa saat hidupku hancur, orang yang dulu bersumpah melindungiku justru gak ada.” Raka memejamkan mata sesaat. “Aku nggak tau semuanya akan seperti ini,” katanya pelan. “Nggak,” potongku. “Kamu memang gak pernah tau. Karena kamu gak pernah mau tau.” Aku memalingkan wajah, menahan air mata yang mendesak keluar. Aku tidak mau menangis di depannya. Tidak sekarang. Tidak lagi. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Lalu Raka berkata dengan suara rendah, “Aku datang bukan sebagai mantan suamimu.” Aku menoleh tajam. “Lalu sebagai apa?” tanyaku sinis. “Sebagai orang yang akan membelamu.” Kata-kata itu membuatku terdiam. “Apa maksudmu?” “Aku akan jadi kuasa hukummu, Selira.” Darahku seakan berhenti mengalir. Aku menatapnya tak percaya. “Ah ya, aku lupa, Pak Pengacara.” “Aku serius.” Aku tertawa pelan, tapi kali ini terdengar rapuh. “Setelah semua yang terjadi… setelah keluargamu menghinaku, setelah kau menceraikanku tanpa bertanya… sekarang kamu mau jadi pahlawan?” “Ini bukan tentang itu.” “Lalu tentang apa?” Suaraku meninggi. “Tentang rasa bersalahmu? Atau tentang citra dirimu sebagai pengacara hebat yang menolong mantan istrinya?” Raka terdiam lama. Terlalu lama. “Aku tau kamu gak akan langsung percaya,” katanya akhirnya. “Tapi aku yakin… kamu dijebak.” Kalimat itu membuat dadaku sesak. Aku menoleh tajam. “Kamu pikir aku gak tau itu?” “Kalau begitu, biarkan aku membuktikannya.” Aku menggeleng pelan. “Gak! Aku gak butuh. Aku bisa menghadapi semuanya.” “Kamu sendirian, Selira,” katanya lirih. “Kamu gak punya siapa-siapa.” Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada tamparan. Mataku panas. Tenggorokanku tercekat. “Pergi,” bisikku. “Pergi sebelum aku benar-benar hancur di depanmu.” Raka berdiri diam beberapa detik. Lalu, dengan suara yang berat, ia berkata, “Aku gak akan pergi. Bukan kali ini.” Aku menatapnya dengan mata basah, campuran marah, sakit, dan sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang selama ini kupendam. “Kalau begitu,” kataku lirih, “bersiaplah melihat sisi hidupku yang paling gelap.” Pintu ruang tamu itu terbuka setengah. Bunyi engselnya berderit pelan, seperti ikut menahan napas bersamaku. “Waktu kunjungan habis.” Suara petugas terdengar datar. Aku berdiri. Kakiku terasa kaku, tapi aku memaksa melangkah. Di belakangku, aku bisa merasakan tatapan Raka masih melekat—berat, menekan, seolah ingin menahanku tanpa berani menyentuh. Aku berjalan dua langkah… lalu berhenti. Entah kenapa, dadaku terasa sesak. Ada sesuatu yang belum tuntas. Sesuatu yang harus keluar, atau akan membusuk selamanya di dalam dadaku. Aku berbalik. Raka masih di sana. Wajahnya tegang, mata itu—mata yang dulu selalu menatapku penuh janji—kini terlihat ragu, bersalah, dan… takut. “Selira…” Suaranya parau. Aku mengangkat tangan, menghentikannya. “Jangan panggil namaku dengan suara seperti itu.” Raka terdiam. Aku melangkah mendekat, cukup dekat hingga ia bisa melihat jelas bagaimana mataku tak lagi menyimpan harapan. “Kamu tau kenapa aku bisa setenang ini sekarang?” tanyaku pelan. Raka menggeleng. “Karena aku sudah berhenti berharap padamu sejak lama.” Raka menelan ludah. Rahangnya mengeras. Aku tersenyum tipis—senyum yang lebih menyakitkan daripada tangis. “Dulu, saat ibumu mulai terang-terangan menjodohkanmu… saat perempuan itu mulai sering datang ke rumah, duduk di ruang tamu seolah-olah aku gak ada…” Suaraku bergetar sebentar, tapi kutahan. “Aku menunggu kamu bicara. Satu kalimat saja. Tapi kamu diam.” Raka menunduk. Aku menarik napas dalam-dalam. Lalu berkata dengan suara yang lebih pelan, lebih dingin. “Jadi… sampaikan salamku padanya.” Raka mengangkat kepala, menatapku. “Perempuan yang diam-diam merencanakan hidupmu. Perempuan yang direstui keluargamu untuk menggantikan posisiku.” Aku tersenyum miris. “Bilang padanya… dia menang.” Raka tampak ingin menyangkal, tapi tak satu pun kata keluar. “Dan bilang juga,” lanjutku, suaraku kini nyaris berbisik, “bahwa perempuan yang ia singkirkan ini… sudah tidak punya apa-apa lagi untuk direbut.” Aku melangkah mundur. “Kecuali harga diri.” Aku berbalik, melangkah pergi. Kali ini tanpa ragu. Pintu tertutup di belakangku dengan bunyi pelan. Namun di dadaku, sesuatu runtuh dengan suara yang jauh lebih keras.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
218.9K
bc

TERNODA

read
200.0K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
42.0K
bc

Troublemaker Secret Agent

read
59.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.9K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
17.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook