Sena bangun dengan begitu bersemangat keesokan harinya.
Walaupun ia masih tetap pengangguran, tapi ada hal lain yang membuatnya bisa melupakan fakta itu sejenak yaitu karena akhirnya ia akan berbaikan dengan Hansel. Bahkan, Sena terus tersenyum hari itu sambil ia berbelanja beberapa bahan makanan.
Memang Sena tidak begitu ahli memasak, tapi kalau hanya masakan sederhana saja ia bisa, dan sisanya ia membelinya dari depot murah meriah langganan mereka.
Sena pun mandi dan membersihkan dirinya sambil tidak berhenti melirik jamnya, menunggu saat-saat Hansel pulang kerja dan langsung ke rumahnya.
"Astaga, aku siap terlalu cepat ya. Tapi aku harus pakai baju apa ya?"
Untuk sesaat, Sena pun memeriksa lemarinya dan tidak ada baju bagus di sana. Sena berpikir sejenak sebelum ia teringat akan gaun-gaun cantik milik Giana.
Tentu saja membayangkannya membuat Sena ingin meminjamnya lagi, tapi kenangan buruk malam itu menghantuinya dan membuatnya takut.
"Tidak! Aku tidak akan menyentuh barang-barang milik Giana lagi. Tidak akan. Menyentuh barang milik Giana hanya akan mendatangkan kesialan untukku."
Bahkan, jantung Sena berdebar tidak karuan saat ini karena mengingat betapa menegangkannya malam itu.
Saat pertama kali kepalanya ditutup dengan kain hitam, Sena bahkan sempat merasa kalau itu adalah akhir hidupnya. Namun, sampai detik ini ia masih bernapas dan berhasil melewati hari yang begitu buruk itu.
Sena pun menenangkan napasnya dan mencoba memikirkan Hansel saja untuk mengembalikan moodnya. Sampai akhirnya ia pun siap dan saat yang ditunggu tiba yaitu kedatangan Hansel ke rumahnya malam itu.
"Hansel!" sapa Sena sambil tersenyum begitu cantik saat membukakan Hansel pintu dan Hansel pun mematung melihatnya.
Hansel selalu mengagumi kecantikan Sena yang membuatnya tidak pernah bosan melihatnya. Dan sungguh Hansel mencintai Sena. Apalagi mereka sudah berpacaran dua tahun lamanya, tidak ada yang namanya pura-pura cinta dan berjalan selama itu. Walaupun tanpa Sena ketahui, Hansel juga bermain gila di belakang Sena.
Sena terlalu alim dan tidak mau disentuh berlebihan, karena itu terpaksa Hansel melampiaskannya pada wanita lain, namun Hansel tetap menunjukkan citranya sebagai pria baik di depan Sena agar wanita itu tidak meninggalkannya.
Hanya saja, kenyataan kalau Sena tidur dengan pria lain membuat Hansel begitu kecewa dan frustasi sampai cinta yang ia rasakan pun berubah menjadi amarah dan nafsu.
Rasanya tidak adil kalau ia tidak bisa mendapatkan Sena juga padahal Sena itu adalah kekasihnya.
"Sena, Sayang!"
Hansel menghambur memeluk Sena yang memang ia cintai dan ia rindukan.
"Aku merindukanmu, Sena. Aku sudah memikirkannya berhari-hari dan aku sangat merindukanmu. Tidak mendengar kabarmu dan tidak bertemu denganmu membuatku merasa aneh, Sena."
Sena tersenyum haru sambil balas memeluk Hansel. "Aku juga, Hansel. Setiap malam aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu."
"Maafkan aku, Sena."
"Aku yang seharusnya minta maaf, kau mau memaafkan aku kan, Hansel? Aku bisa menjelaskan semuanya, Hansel." Sena menatap Hansel penuh harap dan Hansel pun tersenyum.
"Sstt, nanti, Sayang. Kita akan bicara banyak dan menghabiskan malam bersama, tapi setelah makan malam karena aku lapar sekali!" ucap Hansel dengan penuh maksud.
Tapi lagi-lagi Sena yang belum mengetahui maksud Hansel hanya mengangguk sambil terus memeluk Hansel dan membawa pria itu ke meja makan.
Sena pun melayani Hansel makan seperti yang pria itu minta kemarin, walaupun Sena tidak tahu kalau maksud Hansel bukan melayani di meja makan tapi di ranjang.
Sementara di sisi lain, Xander baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang begitu sibuk malam itu saat ia melirik jam tangannya dan tiba-tiba teringat tentang Hansel dan Sena.
Xander pun sampai terdiam sejenak memikirkannya.
"Apa mereka sedang makan malam sekarang? Atau malah pria b******k itu sedang memakan wanita bodoh itu? Sial! Mengapa aku harus memikirkannya? Itu sama sekali bukan urusanku dan aku juga tidak suka mencampuri urusan orang lain seperti itu!"
Xander terus mengumpat dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya, walaupun pada akhirnya ia tidak fokus lagi.
Cukup lama Xander mencoba untuk fokus kembali, namun ia akhirnya menyerah dan memutuskan untuk pulang saja.
Xander pun naik ke mobilnya dan Henry yang begitu setia juga langsung ikut masuk ke dalam mobil.
"Ada berita apa, Henry?" tanya Xander yang memang sudah biasa menanyakan semua hal pada Henry.
"Tentang kantor tidak ada tambahan, Pak. Semua sudah kulaporkan tadi sore."
"Hmm, lalu lain-lain?"
"Tentang Sena, kekasihnya yang bernama Hansel itu mengunjungi rumah Sena sekitar satu jam yang lalu dan sampai sekarang masih di sana."
Xander langsung berdecak kesal mendengarnya. "Lain kali tidak perlu melaporkan hal seperti itu padaku. Aku menyuruh kalian mengawasinya hanya agar dia tidak melarikan diri atau saat dia akhirnya bertemu Giana, kita bisa menangkap wanita b******k itu. Tidak lebih, Henry. Bahkan kalau Hansel b******k itu tidak pulang sampai besok pagi, aku juga tidak peduli. Kau mengerti?"
Henry yang mendengarnya hanya mengangguk mengerti. "Baik, Pak."
"Baiklah, ayo jalan!"
Henry kembali mengangguk lalu segera melajukan mobilnya keluar dari area perusahaan.
Sedangkan di rumah Sena sendiri, Hansel dan Sena sedang terlibat pembicaraan serius dan mereka duduk berdua di sofa.
Sena begitu ingin menjelaskan semuanya, namun Hansel melarangnya.
"Aku tidak perlu mendengarnya lagi, Sena. Cukup asal kau bilang tidak mengkhianatiku, aku percaya padamu. Entah itu kau dilecehkan atau seperti apa pun, aku akan menutup mataku," tegas Hansel.
Untuk sesaat Sena terdiam karena begitu terharu. Hansel sama sekali tidak mendesaknya untuk bercerita tapi bahkan pria itu bisa menerima semuanya begitu saja.
"Tapi aku tidak akan tenang sebelum menceritakan semuanya, Hansel."
"Tidak apa, Sayang. Kenyataan tidak bisa dirubah dan mengungkitnya akan membuatku sakit hati lagi, tolong pahami perasaanku juga, Sena."
Sena pun menatap Hansel sedikit lebih lama sebelum akhirnya ia mengangguk.
"Aku tetap akan menceritakan semuanya nanti di lain waktu, tapi sekarang aku akan menurutimu. Kau harus tahu kalau aku hanya mencintaimu, Hansel. Tidak ada pria lain dan aku tidak akan pernah mengkhianatimu."
"Aku tahu, Sayang. Aku tahu. Aku juga mencintaimu, Sena. Aku mencintaimu."
Hansel menangkup kedua pipi Sena dan mulai mendaratkan bibirnya ke dahi Sena.
Sena sendiri memejamkan matanya merasakan perasaan hangat ini sampai air matanya hampir menetes.
Hansel pun menggerakkan bibirnya dan kali ini mendaratkannya di hidung Sena, sebelum ia bergerak ke pipi Sena dan terakhir ke bibir Sena.
Seketika Sena membuka matanya dan mendorong d**a Hansel, namun Hansel langsung menahan kedua tangan Sena.
"Aku mencintaimu, Sena. Sudah dua tahun kita bersama, bolehkan aku menciummu agar aku yakin kalau kau itu milikku, Sena?"
Kedua mata Sena pun membelalak mendengarnya. "Hansel, kita sudah berjanji ...."
"Toh akhirnya kita juga akan bersama kan? Apa salahnya berciuman, Sena? Semua pasangan melakukannya, Sayang."
Hansel kembali memajukan wajahnya untuk menyambar bibir Sena, namun Sena langsung memalingkan wajahnya sampai bibir Hansel hanya mendarat di pipi Sena. Dan kali ini entah mengapa Sena merinding merasakan hembusan napas pria itu di pipinya.
"Hansel, jangan begini, Hansel! Lepaskan aku!" Sena menarik tangannya yang masih dipegangi oleh Hansel dan Sena pun terus mencondongkan tubuhnya ke belakang.
Namun, Hansel malah makin maju dan mendadak makin beringas.
"Sena, Sayang. Aku mau berbaikan lagi denganmu, tapi aku mau kau membuktikan kalau kau juga serius, Sena. Aku mau memilikimu sebelum orang lain akan memilikimu lagi, hanya aku yang berhak memilikimu, Sena. Aku menginginkanmu, Sena. Ayolah, Sayang!"
Hansel terus bergerak maju dan jantung Sena pun mulai memacu tidak terkendali sekarang.
Bagi Sena yang pernah menjadi korban perkosaan, rasanya apa yang dilakukan Hansel ini benar-benar membuatnya trauma sampai tubuh Sena gemetar.
Dan juga ini tidak benar. Mengapa Hansel yang baik bisa menjadi seperti ini? Ini membuat Sena begitu patah hati sampai air matanya pun menetes.
"Hansel, jangan! Lepaskan aku!"
"Ayolah, Sena! Kita akan melakukannya sampai pagi dan kita akan saling memiliki. Aku benar-benar akan menikahimu nanti, Sena. Ayolah, Sayang!"
"Tidak! Tidak begini, Hansel! Minggir!" Sena terus mendorong Hansel, namun Hansel mulai menghimpitnya di sofa sampai Sena sudah terbaring di sofa dengan Hansel di atasnya.
Hansel pun mulai menyerang Sena dengan bibirnya untuk mencari bibir Sena, namun Sena terus memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri menghindari bibir pria itu.
"Hansel, lepas! Hansel!"
Hansel yang terus merasakan penolakan pun akhirnya geram.
"Kau bilang kau mau berbaikan denganku juga kan, Sena? Kau juga masih mencintaiku kan? Karena itu aku memberimu kesempatan untuk membuktikannya. Setelah kita tidur bersama, maka tidak akan ada lagi keraguan. Kau bisa melayani pria itu apa pun alasannya kan? Kalau begitu layani aku juga!"